Penulis: Maryam Qonitat
Beyrouth, Lebanon
Namanya sebagai calon pengacara handal sedang dipertaruhkan. Ia kini berada dalam kondisi dilema antara idealisme yang selama ini ia perjuangkan dan kenyataan pahit yang ada di hadapannya. Waktu yang diberikan kepadanya sangatlah sempit. Tiga Hari. Ya, tiga hari untuk menentukan apakah ia akan menerima tawaran kasus itu atau menolaknya.
Sungguh, ini adalah tawaran yang sangat sulit untuknya, karena selama ini ia yang dikenal sebagai mahasiswi idealis, Base on the Fact, dan selalu memperjuangkan hak-hak asasi manusia khususnya kaum yang tertindas, selalu menjadi sorotan para dosen dan kawannya sesama mahasiswa di Fakultas Hukum tempat ia sedang kuliah.
Ia pun terkenal sebagai pengacara yang sangat kuat berlogika. Meski perempuan, tapi hampir setiap dari argumen-argumen yang ia lontarkan selalu dapat mematahkan lawan bicaranya. Logika-logikanya selalu dapat diterima oleh para Hakim dan dewan juri di hampir setiap Praktek sidang yang ia ikuti. Klien-kliennya pun jarang sekali merasa di rugikan olehnya. Haknya selalu ia perjuangkan dengan keras dan maksimal.
Tapi kali ini? Memperjuangkan suatu hal yang bertentangan dengan keyakinannya? Memperjuangkan sesuatu yang jauh dari ideologinya? Memperjuangkan sesuatu yang ia tidak ketahui kebenarannya? Memperjuangkan sesuatu yang menurutnya tak lagi bisa dibincangkan dengan logika? Ia tidak tahu apakah ia akan sanggup menjadi pengawal dalam kasus itu?
Ini bukan lagi tentang siapa yang salah dan siapa yang benar,ini bukan lagi tentang hak-hak asasi manusia yang dulu sering ku perjuangkan… tapi jika bukan tentang itu semua , lalu tentang apa ini ?Batinnya dalam hati.
Ia kemudian memejamkan mata sejenak, mengurut kepala dan rambut hitam panjangnya yang kini sudah terurai dan tak tersisir dengan rapi. Bayangannya tiba-tiba saja mendarat pada sosok pria berwajah kukuh, bersih nan teduh itu…
Apakah ini karena dia? Karena keberadaannya yang belakangan waktu ini sangat menyita pikiran dan perasaanku? Naifnya aku yang tak bisa juga memutuskan semua ini. Betapa lemahnya aku. Bukannya ini semua sudah sangat jelas? Hitam dan putih.
Ia sering berada dalam kondisi kalut dan bingung, tapi Pertarungan batin yang dialaminya kali ini tidak pernah mengalami goncangan emosi sedahsyat ini. Tak terasa, air mata yang sangat jarang keluar dari matanya, saat itu mengalir dan tak bisa dihentikan. Ia tergugu dalam kebimbangan. Ia tersedu dalam kekalutan. Luluh semua kekerasan hatinya yang selalu ia tampakkan di depan orang lain. Lantak semua ketegasan jiwanya yang selalu ia perlihatkan pada semua orang yang mengenalnya.
Semua nasib mereka ada di tangannya. Dan ia yang harus menentukan, tidak bisa orang lain. Maka malam itu adalah malam awal yang akan menentukan arah hidupnya selanjutnya. Ia hanya tidak tahu itu, dan benar-benar tidak tahu.
*******
Beyrouth, Lebanon, Juni 2005
Ia tak dapat menahan rasa kantuk yang menyerangnya beberapa menit lalu, dan rasa lapar yang melilit lambungnya. Maka pada saat Nissan X-Trail hitamnya memasuki pelataran parkir rumah, ia langsung menghambur ke ruang makan dan membuka hidangan yang memang sudah sengaja disiapkan untuknya.
Hanya butuh waktu beberapa menit baginya untuk menyantap sebagian makanan yang ada di hadapannya itu. Tak peduli pada penampilannya yang sudah terlihat kusut masai tak beraturan. Yang ia butuhkan hanya makan dan istirahat. Setelah itu, malam nanti ia harus kembali mempelajari semua bahan yang akan ia butuhkan untuk pertarurangan esok hari.
Setelah menyelesaikan santapan sorenya, ia bergegas memasuki kamar tidurnya yang berukuran Deluxe itu. Bermandikan air hangat, 10 menit sesudahnya ia sudah tertidur pulas tak sadarkan diri.
20.00 waktu setempat, ia terbangun dengan ketukan halus yang mendarat di pintu kamarnya.
“Honey, kamu sudah pulang sayang?” Sapa suara lembut seorang wanita di balik pintunya.
“Ya Mam... Aku sudah pulang,” jawabnya dengan setengah sadar.
Pintu terdengar dibuka. Melangkahlah wanita paruh baya yang sangat cantik dan anggun, memasuki kamarnya. Wanita cantik itu kemudian duduk di sampingnya dan membelai kepalanya dengan sangat lembut.
“Kamu capek sekali kelihatannya “
“Iya Mah, hari ini kasus lagi…” balasnya dengan suara yang berat.
“Ya sudah, kamu tidur lagi, besok pagi Mamah bangunin yah...”
“Nggak Mah, Reema mau bangun sekarang, masih ada yang harus Reema siapkan.”
“Harus malam ini ya?”
“Iya, harus malam ini, Mah, kalau nggak besok Reema kewalahan.”
“Kalau gitu Mamah siapkan susu hangat dulu ya untukmu. Nanti Mamah suruh bawakan Zarkha ke kamarmu. Jangan terlalu larut ya, nanti kesehatanmu drop jika terus-terusan seperti ini.”
“Iya Mah...” Posisinya sudah setengah duduk, namun masih dengan selimut.
“Dah ya sayang, malam. Mamah istirahat dulu,” Sebelum berlalu, wanita cantik paruh baya itu kembali mencium keningnya.
Kesadarannya segera pulih kembali setelah susu putih hangat yang dibawakan pembantu wanita bernama Zarkha itu ia teguk habis. Selang sekian menit sesudahnya, ia sudah terpekur di meja belajarnya yang sangat luas. Buku-buku tebal tampak berserakan di atasnya, tidak tertata. Sebagian masih dalam posisi setengah terbuka, sebagian berada dalam posisi terbalik.
Dibukanya buku-buku yang berada dalam posisi setengah terbuka yang tadi pagi ia tinggalkan sebelum pergi ke Kampus. Ditemani sebuah Notes Vaio putih, ia merekam kembali semua materi-materi yang sudah tadi disampaikan oleh guru besarnya di kelas pada saat praktek sidang tadi, dan menumpahkannya dalam outline kasar bahan debatnya esok hari.
Kali ini tentang kasus kebebasan media dalam menyuarakan aspirasi-aspirasi rakyat yang semestinya dilindungi oleh Negara. Pada posisi ini, ia mendapatkan tugas untuk menjadi pengawal klien dari media swasta yang merasa haknya dibatasi dan tidak dihargai oleh pemerintah. Media Surat kabar yang bernama Al-Akhbar itu memang nyatanya banyak ditekan oleh pemerintah Lebanon. Beberapa kali media tersebut mendapatkan ancaman untuk segera gulung tikar jika masih saja memberitakan hal-hal yang menyudutkan kebijakan pemerintah.
Ia terbilang berani untuk menjadikan kasus ini sebagai objek praktek kepengacaraannya. Masih terekam dengan jelas respon dari dosen pembimbingnya saat ia bersedia untuk mengambil kasus tersebut.
“Hati-hati” itu pesan yang disampaikan kepadanya saat ia menyampaikan keinginannya. Itu baru dari dosen pembimbingnya, belum lagi dari rekan-rekannya sesama mahasiswa sejurusan.
Tapi ia tidak bergeming dengan semua itu.Ia sudah bertekad untuk menggeluti kasus ini sampai tuntas. Ia akan bersungguh-sungguh mempelajari semuanya, dan memenangkan kasus itu hingga pengadilan sesunguhnya mau menangani kasus itu.
Ia memang tidak main-main, dan tidak pernah main-main. Sekali ia mempunyai kemauan dan tekad yang kuat, tak ada yang bisa menghentikannya. Perfeksionis dan keras kepala. Ini adalah kasus perdananya. Maka ia harus sukses.
Wanita itu bernama Reema Seikaly. Berdarah Perancis-Lebanon, jelas kecantikannya sangat terlihat pada wajahnya yang sedikit lonjong dan berhidung mancung itu. Berambut hitam, ikal, sebahu, dan berkulit putih. Ya, kakeknya yang masih mempunyai keturunan dari Perancis saat Lebanon masih berada dalam jajahannya, ternyata adalah seorang bangsawan yang terhormat. Pemilik tanah di negaranya. Maka jelas, selain ia berdarah blasteran, ia juga keturunan Ningrat pada jajaran sosial di lingkungannya.
Bakat keluwesannya dalam berdialog dan berargumen, ia warisi dari ayahnya yang juga seorang pengacara swasta terkenal. Ibunya yang berdarah asli arab juga berasal dari keturunan pengusaha kaya raya. Ia hanya mempunyai seorang adik laki-laki. Dengan umurnya yang masih 20 tahun, lengkaplah sudah kehidupannya. Cantik, cerdas, kaya, dan berpendidikan.
Saat ini,ia yang tengah menjalani semester 6 di Law Faculty and political of Lebanese University, sedang menjalani jurusan yang baru di gelutinya. Menjadi pengacara, ia ingin mewarisi perjuangan Ayahnya. Nasionalis-Moderat, Itulah ideologi yang sudah tertanam dalam fikirannya dan teraplikasikan dalam kehidupan sehari-harinya. Beruntung sekali keluarga mereka, meski hidup dalam fasilitas yang berlebih, ia dan ayahnya mempunyai idealisme yang kuat sebagai Nasionalis.
Maka seluruh fasilitas yang bergaya glamour itu tidak didapatkannya dari penghasilannya sebagai pengacara idealis yang seringnya membela hak-hak kaum teraniaya. Tapi dari kekayaan mendiang kakeknya yang sangat melimpah dan bruto Milyaran dari perusahaan ibunya yang datang setiap tahun.
Namun tidak pernah ada yang tahu, bahwa di balik kesempurnaan hidupnya yang terlihat secara kasat mata itu, ia mempunyai hati yang sangat rapuh. Didikan keras-lembut yang ia dapatkan dari kedua orangtuanya ternyata mempunyai efek yang dominan dalam dirinya. Tegas saat di luar, namun manja di dalam. Maka kelembutan hati inilah yang ia jadikan benteng saat menghadapi berbagai pertarungan-pertarungan ideologi yang seringkali berimpas pada pertarungan batin itu.
Pukul 02.30 Waktu Beirut.
Tak sadar ia telah lama tenggelam dalam bacaan-bacaan dan catatan-catatannya yang sudah ia tekuni dari beberapa jam sebelumnya. Hampir sebagian besar materi sudah ia pelajari. Dari UU negara yang mengatur kebebasan media, Kode Etik, Hak Berbicara, payung hukum yang bisa melindungi, data tekanan dari pemerintah, kronologi pengancaman, data redaksi Media, sampai pada batasan Negara dalam memberikan campur tangan.
Ia lirik kembali halaman pada Word di Vaionya, sudah hampir 13 Halaman. Sambil mengeratkan resleting sweater tipisnya, ia membenarkan posisi duduknya. Rasa pegal kembali menyerang lehernya. Rambut panjangnya yang terkuncir ke atas, ia lepaskan kembali untuk sedikit mengendurkan sendi-sendi di punggungnya.
Sedikit lagi, masih ada satu bab lagi yang belum ku kuasai.
Sementara itu pada jam yang sama,
Di Chekka, Lebanon.
Setelah mengambil air wudhu, ia segera membentangkan sajadahnya dan tenggelam dalam sholat malamnya. Dua rakaat, empat rakaat, enam rokaat hingga delapan rokaat. Pada pertengahan salamnya sebelum ia menunaikan witir saat menengadahkan tangan, tak tahan ia tergugu dengan sendirinya.
Ia tidak tahu pasti apa yang membuatnya begitu tersedu sedan malam itu. Apakah karena rasa bahagia ataukah justru karena rasa khawatir. Tak kuasa ia melukiskan perasaan yang saat itu tengah berkecamuk di dalam hatinya. Maka pada sekian doa yang terutas dari bibirnya, ia hanya bisa mengucapkan kata Allah… Allah… Allah…
Bayangan tadi siang di rumah Saarah AlZaghby kembali terlintas bersama linangan air mata yang masih mengalir itu. Ya, hari ini ia telah meng-khithbah wanita cantik dan sholehah itu. Sungguh tak terduga, wanita yang selama ini ia kagumi diam-diam itu ternyata mau menerima pinangannya. Wanita itu, wanita yang ia kagumi karena keiffahannya dalam menjaga pergaulan, karena kesederhanaannya dalam berpakaian, karena kecerdasannya, dan karena kecantikannya itu, mau menerima dirinya menjadi pasangan hidupnya.
Oh...siapakah aku ini, yang beruntung bisa mendapatkan bidadari semulia dia? Ia yang begitu sempurna di hadapanku. Sedangkan aku, yang beruntung hanya karena aku mendapatkan kepercayaan dari Abinya. Aku yang hanya berasal dari keluarga biasa, tak berharta, dan hanya berbekal kecerdasan saja. Sungguh malu aku bersanding dengannya. Meski rasa kagum itu tak pernah luntur setiap kali aku melihatnya, tapi tak pernah terbersit dalam fikiranku bahwa aku yang akan menjadi Qowwamnya. Rasanya masih tak layak aku menerima permintaan Abinya yang sudah dari 3 bulan yang lalu diutarakan kepadaku.
Maka Allah, aku yang lemah ini, dan tak berdaya, hanya bisa mengungkapkan rasa syukurku atas segala karunia indah-Mu ini… Terima kasih, Allah, Terima kasih… izinkan aku menjaga karuniaMu ini dengan sebaik-baiknya hingga ke akhirat nanti. Izinkan Allah… izinkan…
Pada bait terakhir doanya, tenggorokannya makin tercekat. Ia sudah tidak bisa lagi berkata-kata. Sisa tangisannya ia tumpahkan pada tiga rakaat witir selanjutnya.
Di sepertiga malam itu, Malaikat menjadi saksi atas doa seorang pemuda sederhana, sholeh, cerdas, tampan dan bersahaja yang bernama Zuhair Mahfouz, dan perjuangan keras seorang pemudi cantik nan cerdas bernama Reema Seikaly.
Langit menjadi saksi, namun mereka berdua tidak tahu, suratan takdir apa yang akan menghampiri atas jawaban langit untuk mereka berdua. (Bersambung)
Pages
Selasa, 17 Mei 2011
KAFIYEH MERAH
Diposting oleh
Eka Chan
di
21.12
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
cerpen
Antara Sahabat dan Perasaan
Diposting oleh
Eka Chan
di
20.28
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
cerpen
Kabut Iman Berduka
Penulis: Ria Yunita
“Gue akan menikah dengan Agnes minggu depan...”
“Agnes Allaniseza?” Suara Awan naik satu oktaf. Sekuat tenaga Bara mengangguk. Awan terdiam, gemeletuk giginya beradu menandakan kemarahannya mulai memuncak. Bara agak gugup, dari awal dia tahu kalau Awan tidak akan setuju dengan keputusannya. Terbukti tak perlu menuggu lama, ia dapat melihat dengan jelas penolakan Awan begitu kata-kata terlontar dari bibirnya. Awan memandang tajam ke arah Bara. Mata mereka beradu, tidak ada yang mau mengalah. Keduanya kekeuh mempertahankan pendapat masing-masing. Awan dengan prinsipnya sementara Bara dengan pilihannya.
“Loe lagi bercanda kan, Bar?” Awan mencoba melunak dan berharap pertanyaannya dijawab anggukan dan senyum Bara yang bertanda kalau kata-katanya cuma joke segar di pagi hari.
Tapi kenyataan seolah mencibir harapan Awan, Bara justru menggeleng kuat sambil berkata, “Gue serius... sangat serius!”
“Gila loe Bar!” Awan menggebrak meja. Panas dingin badan Awan. Kepalanya berdenyut, nafasnya tersengal. Bara hanya diam seperti patung. Ia hanya membiarkan laki-laki di hadapannya itu meluapkan kemarahannya.
“Wan, dengerin gue, gue cinta sama Agnes dan gue berharap loe bisa ngerti.”
“Jangan bodoh Bar! Dari dulu loe tau gue gak pernah setuju kalo loe pacaran sama Agnes apalagi sampe nikah. Dan loe tau kan alasannya. Dia itu berbeda dengan kita, dia itu...”
“Karena dia bukan muslim, itukan alasan loe! Sudahlah Wan, jangan hasut gue untuk menuruti pikiran kolot loe. Buka mata loe lebar-lebar! Gue bukan satu-satunya orang yang menikah dengan wanita beda agama. Semua orang sudah maklum dengan hal ini. Tidak ada yang melarang bahkan mama papa sudah setuju dengan keputusan gue. Hanya loe yang menentang.”
“Gue gak akan pernah setuju. Gue gak ingin loe terperangkap dalam cinta buta loe itu. Sadarlah Bar! Loe sudah melakukan kesalahan besar.”
“Sudah! Cukup! Loe jangan mulai lagi ceramah omong kosong loe itu! Gue bosan dengernya. Gue muak dengan orang-orang sok suci macam loe. Lagi pula apa urusan loe ngelarang gue! Loe gak punya hak nyampurin urusan gue.” Mendadak Bara emosi. Dadanya bergemuruh. Awan terkesiap, tak diduganya Bara bisa berkata seperti itu.
“Bar, loe bicara seolah-olah gue ini bukan siapa-siapa buat loe. Loe masih ingetkan kalo gue ini saudara loe satu-satunya! Di dunia ini gue cuma punya satu saudara Bar, loe! Sebagai abang loe, gue cuma mau loe bahagia, dunia dan akherat.” Awan menekankan kata akherat di akhir kata-katanya. Ia berharap kata-katanya mampu membuka mata hati adik semata wayangnya itu. Tapi rupanya setan lebih pandai menipu. Nasehat kakaknya terdengar bagai ejekan pedas pada pilihannya.
“Memangnya kenapa dengan Agnes? Dia cantik, pintar, kaya, terkenal. Apa lagi? Dan yang paling penting kami saling mencintai. Jadi apa yang salah?”
“Loe salah besar Bar, loe...”
“Udah! stop! Gue gak mau denger lagi. Terserah loe mau bilang apa, gue gak peduli. Lagipula apa urusan loe sama hidup gue. Lebih baik loe urus hidup loe sendiri yang selalu merasa paling benar. Kefanatikan loe emang udah keterlaluan banget! Loe tau gak, loe dan temen-temen mesjid loe itu memang gak tau diri, kalian itu cuma sekumpulan orang sok alim yang selalu merusak kebahagiaan orang lain. Kalian orang-orang sok suci, orang-orang rendahan...”
Plak! Satu tamparan telak memerahkan pipi Bara. Awan benar-benar kehilangan kendali. Untunglah sejurus kemudian ia mampu mengendalikan dirinya. Tubuh tegap itu terduduk lemas dan beristighfar berkali-kali sedangkan Bara tegak mamatung di hadapannya.
“Seribu tamparan loe gak akan membatalkan niat gue.” Kata-katanya datar tapi mampu mengoyak hati Awan.
“Bar, gue mohon pikirkan lagi keputusan loe. Kita ini muslim. Muslim harus berjodoh dengan muslim. Kalo loe melanggar, murka Allah bakalan memenuhi kehidupan rumah tangga loe.”
“Gue gak perduli.” Suara itu begitu dingin, lain dengan Bara yang biasanya selalu hangat dan bersahabat.
“Tapi Bar...”
“Minggu depan gue menikah jam 7 malam. Anggap saja ini undangan buat loe. Terserah loe mau datang atau enggak. Yang penting gue udah ngundang loe.” Bara melemparkan undangan pernikahannya di atas meja lalu segera membalikkan badan dan meninggalkan Awan yang hanya membisu.
***
“Maaf, bukannya gue gak sopan. Tapi gue harus ke mesjid, azan sudah terdengar,” ucap Awan datar.
Naysilla Dominiquelle, gadis indo berambut panjang dan ikal itu hanya tersenyum tipis. Matanya yang berwarna biru tua makin menambah rupawan wajahnya. Sejenak ia terdiam berusaha mencerna maksud dari kata-kata pria tampan di hadapannya. Apa ia bermaksud untuk mengusirku? Apa dia tidak menyukai kedatanganku? Sudah cukup lama mereka tak bertemu, mungkin hampir tiga tahun.
Dulu, segalanya begitu indah. Berkali-kali mereka dipasangkan di beberapa judul sinetron, iklan dan yang terakhir kerjasama disebuah judul film telah mengukuhkan mereka sebagai pasangan serasi di layar lebar. Saat itu tak bisa dipungkiri hati Nay begitu berbunga-bunga bila sepasang mata elang itu menatapnya. Ahh... dulu semuanya begitu indah. Andai saja waktu itu Awan tak memutuskan untuk berhenti dari dunia akting, tentu lakon-lakon yang sering mereka mainkan di layar kaca akan berpindah ke alam nyata. Ahh... andai saja Awan tidak mengenal anak-anak pengajian itu. Jujur, Nay amat merindukan laki-laki ini. Hatinya tak bisa memungkiri kalau ia jatuh cinta pada laki-laki tampan ini, sejak pandangan pertama. Cinta yang tak pernah lekang walaupun terpisah ruang dan waktu.
“Nay...” suara Awan mengagetkan Nay.
“Uups... sorry, gue akan pulang. Tapi... apa boleh kalo lain kali gue dateng lagi?”
“Ehm... boleh aja kalo cuma mau berkunjung.” Awan menjawab tanpa melihat wajah Nay. Sikap yang membuat hati Nay perih. Nay lalu bergegas menuju mobilnya yang terpakir di depan rumah Awan. Perasaannya campur aduk. Awan bahkan tak mengantarnya ke mobil. Tidak seperti dulu, Awan bahkan tak pernah lupa untuk membukakan pintu mobil untuknya. Selalu memperlakukan Nay bak putri raja. Sejenak Nay tertegun di dalam mobil di dalam mobil. Ia memperhatikan sosok tegap itu melangkahkan kakinya ke mesjid. Dia memang mau ke mesjid, hiburnya kepada dirinya sendiri.
Dia makin dingin, fikir Nay sambil mengendarai jazz pinknya. Dinginnya udara di luar seolah mengamini kedinginan hatinya. Ah, betapa kecewanya Naysilla bila teringat sambutan dingin Awan tadi. Hatinya begitu perih menerima kenyataan itu. Nay sudah membayangkan pertemuan yang romantis. Angannya Awan akan tersenyum bahagia, memeluknya erat, mendaratkan ciuman hangat di keningnya, Tapi itu semua hanya sekedar angannya. Hatinya semakin perih menyadari kalau cintanya bertepuk sebelah tangan, batinnya tersiksa. Nay menatap birunya langit di angkasa. Lalu bayangan masa lalu itu hadir. Nostalgia indah itu kembali membayang . Ya, setidaknya dia harus bersyukur karena pernah ada album indah kehidupannya. Kenangan antara dirinya dan pangeran berkuda putih itu, Awan Pratama.....
***
“Duuuhhh... gue rasa gue failing in love deh Nay.”
“Oya... with who? Bara?”
“No, but Awan, his brother.” Naysilla terkejut bukan main. Agnes jatuh cinta dengan Awan? Nay tersenyum hambar. Ternyata dia dan Agnes punya selera yang sama. “Hei, whats wrong with you? Muka loe kusut banget. Oh... ternyata bener dugaan gue kalo loe suka sama Awan.”
“Hei, are you kidding? Bukannya loe yang tadi bilang suka sama Awan?” Wajah Nay memerah. Agnes tersenyum menggoda sahabatnya.
“Loe...apa loe??” Agnes kembali menggoda. “Ya elo Nez.”
“Masa sih? Jangan pura-pura Nay. Loe tu gak bisa bohongin gue. Kita sudah sahabatan dari senior high school, jadi gue bisa baca apa yang ada di dalam hati loe. Jadi loe lebih baik ngaku aja deh!” Kata-kata Agnes telak. Nay tak bisa berbohong lagi.
Naysilla tersenyum malu sementara Agnes tertawa. Jadi bener nih loe gak naksir sama Awan?” Nay memastikan sekali lagi. “Ehmm.. gimana ya? Habis Awannya sudah ditaksir sama sahabat gue sih. Jadi yaa...gue terpaksa naksir sama adeknya saja!” Iiiihh...Nay gemas sekali. Tak kuasa tangannya mulai bergerilya mencubit pinggang Agnes.
“Awas loe yaa...!” lalu mereka berkejaran di ruang TV. Seutas senyum menghiasi bibir Nay. Agnes memang lebih dari sekedar saudara bagi Nay. Kesamaan mereka sebagai anak tunggal telah mengikat erat tali persaudaraan mereka. Mereka memang telah bersahabat sejak masih tinggal di Perancis. Baik Nay maupun Agnes bukan orang Indonesia asli. Ayah masing-masing merupakan warga negara Perancis. Sejak junior high school mereka bersahabat dan mulai meniti karir di negara kelahiran ibunya sampai mereka menjadi artis terkenal di Indonesia. Persahabatan itu begitu manis dan terasa lebih manis saat mereka tahu tahu kalau mereka menyukai dua orang laki-laki yang mempunyai ikatan darah. Begitu bahagianya seandainya ikatan persahabatan itu menjadi ikatan saudara yang sesungguhnya. Ahh... itulah impian mereka. Tapi rasanya impian itu tidak akan pernah terjadi. Hanya khayalan Nay tapi tidak untuk Agnes.
“Hei, apa ini Nez? Loe bakalan nikah dengan Bara? Besok? Yang bener loe?” Agnes mengangguk seraya memeluk sahabatnya itu.
“Iya, Bara udah ngelamar gue. Nah, sekarang giliran loe. Loe harus kejar si Awan sampe dapet.”
“Tapi gue ragu Nez. Awan jadi dingin sama gue. Dia gak pernah terlihat tertarik sama gue. Kayaknya gue sama dia gak bakalan bisa bersatu.”
“Hei, come on! Dont give up. Loe mesti kejer dia sampe dapet.”
“But he doesnt like me. He never shows his love,” jawab Nay pelan.
“Nay, walaupun Bara dan Awan itu bersaudara, karakter mereka jauh berbeda. Awan itu tipe laki-laki yang pasif. Jadi wajar aja kalo loe gak nangkep sinyal cinta darinya.”
“Jadi maksud loe, dia cinta sama gue?” tanya Nay ragu.
“Tentu saja, dari pertama gue sudah merasakannya. Awan itu memang lebih pendiam dan dewasa. Dia seolah-olah gak pernah perduli sama loe padahal dari sinar matanya gue tau kalo dia ada hati sama loe.”
“Gue gak percaya!" Jerit Nay.
“Terserah loe mau percaya atau enggak. Gue tau kalo indera perasa loe memang payah. Tapi ada baiknya loe tanyakan semua sama Bara karena gue juga tau ini dari Bara. Dia gak mungkin bohong.”
“Bener?” Agnes mengangguk meyakinkan sahabatnya itu.
***
“Awan itu munafik Nay, dia berpura-pura gak peduli sama loe padahal gue tau banget kalo dia itu cinta sama loe,” sahut Bara.
“Darimana loe tau?”
“Haloo... apa loe lupa kalo Awan itu abang gue? Dia boleh tertutup sama orang lain tapi dia gak akan bisa ngebohongin gue, adik kandungnya sendiri.Believe me, he really loves you.” Nay Cuma diam. Bar, loe tau gak kalo kata-kata loe itu bikin gue berharap lagi sama Awan. Ahh... Awan, wajahnya kembali terbayang di pelupuk mata Nay.
“Nay...” panggilan Bara menyadarkan Nay.
“Kalo emang dia cinta sama gue, kenapa sekarang dia jadi dingin banget sama gue? Bahkan liat gue aja dia gak mau. Padahal dulu gak kayak gitu.”
“Dia memang jadi aneh sejak berteman dengan anak-anak pengajian itu. Loe bayangin aja, dia sampe berhenti dari dunia akting padahal loe taukan saat itu dia lagi naik daun banget. Dulu loe sama dia sampe dapet best couple kan. Gue aja bangga banget sama abang gue itu. Tapi sekarang dia tinggalin itu semua. Dan loe tau alasannya? Karena menurut dia... jadi aktor itu sebuah kesalahan besar dalam hidupnya! Bukan cuma hidupnya yang salah, hidup gue sekarang juga sering dia protes. Semuanya salah, semuanya dosa. Yang terakhir dia bikin gue kesel karena dia menyalahkan keputusan gue nikah sama Agnes!”
“Why?”
“Karena gue sama Agnes beda agama. Just it!” Suara Bara meninggi saat mengatakannya. Tiba-tiba badan Nay terasa lemas. Beda agama! Jadi itu alasan Awan menetang hubungan Agnes dan adiknya. Otak Nay berfikir, logika berbicara. Jika hubungan Agnes dan Bara saja merupakan suatu kesalahan di matanya, bagaimana dengan cinta mereka berdua? Ahh... segalanya jadi semakin rumit. Hati Nay semakin perih. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata.
“Terus, kenapa loe tetap nikah sama Agnes? Padahal jelas-jelas abang loe menentang?” pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Nay.
“Dia punya hak apa berani ngelarang gue. Dia memang abang gue tapi dia gak punya hak mencampuri urusan pribadi gue, apapun alasannya!"
Lalu mereka terdiam. Sibuk dengan pikirannya masing-masing.
***
Hari Pernikahan Bara dan Agnes
Janji itu dimulai. Janji sehidup semati di depan Yesus. Nay begitu iri menyaksikan semuanya. Bara sangat mencintai Agnes dan rela mengorbankan apapun agar bisa mendapatkan gadis pujaan hatinya. Itu semua sudah dibuktikannya dengan mengikuti keyakinan Agnes dan menikah di gereja.
Ya, kemarin Bara resmi menjadi anak Allah. Menjadi bagian dari Nay dan Agnes. Ahh... bisa dibayangkan betapa bahagianya Agnes juga Bara. Bara begitu bahagia walaupun pernikahannya tak dihadiri oleh Awan, abang kesayangannya. Dia bahkan tak mau untuk sekedar menelpon Awan untuk mengulangi undangannya. Mungkin sekarang abangnya itu tidak terlalu penting lagi. Perhatiannya hanya untuk Agnes dan Agnes.
Wan, kenapa loe gak melakukan hal yang sama dengan adek loe. Mungkin Nay berharap terlalu banyak. Jangankan berkata cinta, menoleh pun Awan tak mau.
“Nay, loe kenapa? Kok nangis?” Pertanyaan Agnes di sela-sela pesta pernikahannya membuyarkan lamunan Nay. Nay hanya diam dan Agnes bisa menangkap sinyal kediaman sahabatnya itu.
“Awan?”
Nay hanya mengangguk dan terisak. Buru-buru Agnes menyentuh pundak Nay untuk menenangkan sahabatnya itu. “Gue bingung Nez, gue pengen ngelupain dia tapi gue gak bisa. Semakin gue berusaha melupakan dia, gue semakin cinta.” Isakan Nay semakin menjadi.
“Loe gak bakalan dapet apa-apa dari tangisan loe. Lebih baik loe temuin dia sekarang, loe tanya gimana perasaan dia sama loe selama ini.”
“Tapi...”
“Sekarang... atau loe gak akan pernah tahu!”
***
Awan sangat terkejut melihat kedatangan Nay. Lebih terkejut lagi saat Nay menyerobot masuk ke dalam rumahnya dan menghempaskan tubuhnya ke sofa tamu. Awan kenal betul siapa gadis di hadapannya ini. Gadis yang nyaris sempurna. Cantik, anggun, pintar, terpelajar dan terkenal. Tapi kelakuannya hari ini membuat Awan mengenyitkan dahi.
Beberapa saat Awan terdiam lalu duduk di sofa yang satunya. “Gue gak akan dateng ke sana, percuma loe bujuk gue." Awan bicara tanpa melihat wajah Nay.
"Kedatangan gue gak ada hubungannya dengan pernikahan mereka. Gue datang ke sini buat nanyain satu hal sama loe.” Sekuat tenaga Nay menahan gejolak perasaannya. Dahi Awan berkerut menunggu kata-kata Nay selanjutnya.
”Loe cinta kan sama gue?” Awan terkesima dengan pertanyaan yang dilontarkan Nay.
“Nay...aku...”
“Gue cuma butuh satu kata dari loe. Iya atau tidak!” Awan terdiam lalu bangkit dari sofa dan melihat ke luar jendela. “Kalo emang loe gentle, be honest!” Kata-kata Nay membuat Awan tak bisa mengelak lagi. Apalagi mata Nay tak lepas menatapnya. Mata itu... mata yang dulu membuatnya tergila-gila.
Oups...tepatnya dari dulu sampai sekarang. Ya, sampai sekarang sosok cantik itu masih selalu setia menemani mimpi-mimpinya. Walau sekuat tenaga ia berusaha mengenyahkan bayangan Nay dalam hidupnya, semakin ia tak bisa lepas dari sosok cantik itu. Sosok Naysilla Dominiquelle tak bisa tergantikan oleh perempuan manapun.
“Wan, please... loe jujur sama gue. Gue gak akan berharap lagi kalo emang loe gak cinta sama gue.” Perempuan yang dijuluki boneka Prancis oleh para penggemarnya ini mulai terisak. Ingin sekali Awan menyentuh pundaknya, memeluk dan menenangkannya. Seandainya...
“Gue memang cinta sama loe... Cinta banget! Tapi gue sadar kalo itu semua gak mungkin karena...”
“Karena kita beda agama, itu kan alasan loe? Wan, gue cinta banget sama loe. Gue rela pindah agama demi loe. seperti yang Bara lakukan untuk Agnes.” Awan terkesiap, shock bukan main. Jantungnya berdetak cepat. Bara pindah agama?Astaghfirullah! Sebegitu buta kah Bara oleh cintanya pada Agnes sampai-sampai dia melepaskan cinta yang agung dari Sang Pemilik Bumi. Marah rasanya sudah tak berguna lagi. Yang ada hanyalah senyum sinis yang dengan cepat berubah menjadi tawa sinis yang menertawakan kata-kata Nay yang terdengar begitu bodoh di telinganya.
“Loe ngetawain gue?”
“Itulah perbedaan gue sama loe.”
“Maksud loe?”
“Loe rela mengorbankan iman buat dapetin cinta gue, cinta yang akan lenyap bila maut datang menjemput. Sedangkan gue, gue rela mengubur dalam-dalam cinta gue sama loe untuk mendapatkan cinta yang jauh lebih indah, cinta yang jauh lebih tinggi dan abadi. Cinta gue sama islam, sama Allah Swt.”
“Tapi Wan...”
“Cukup!”
“Gue cinta loe tapi gue lebih cinta sama agama gue. Gue harap loe bisa ngerti.”
Nay terdiam, air matanya mengalir deras. Nay menangis tanpa suara. Tak lama ia beranjak dari sofa dan buru-buru keluar dari rumah Awan. Sesak nafasnya, perasaannya campur aduk antara lega dan sakit. Lega karena dia akhirnya tahu kalau Awan memang mencintainya. Tapi rasa lega itu berubah menjadi rasa sakit saat tahu ada cinta lain selain dirinya. Cinta yang kata Awan akan abadi dan tak akan pernah sirna.
Mobil Nay melaju meninggalkan harapannya untuk bisa bersatu dengan sang pangeran hati. Sementara Awan hanya terdiam, tanpa ia sadari bulir bening itu jatuh perlahan. “Maafkan aku Nay, aku hanya menempatkan cintaku pada porsinya. Aku harap kamu mengerti.” Awan mendongak ke atas melihat langit. Langit mendung dan suram seolah tertutup kabut, kabut iman Awan yang berduka atas hilangnya iman Bara...dan mungkin juga Nay. Kabut yang menutupi hati dua insan yang patah hati. Begitu menyakitkan. Mengoyak hati.
***
“Gue akan menikah dengan Agnes minggu depan...”
“Agnes Allaniseza?” Suara Awan naik satu oktaf. Sekuat tenaga Bara mengangguk. Awan terdiam, gemeletuk giginya beradu menandakan kemarahannya mulai memuncak. Bara agak gugup, dari awal dia tahu kalau Awan tidak akan setuju dengan keputusannya. Terbukti tak perlu menuggu lama, ia dapat melihat dengan jelas penolakan Awan begitu kata-kata terlontar dari bibirnya. Awan memandang tajam ke arah Bara. Mata mereka beradu, tidak ada yang mau mengalah. Keduanya kekeuh mempertahankan pendapat masing-masing. Awan dengan prinsipnya sementara Bara dengan pilihannya.
“Loe lagi bercanda kan, Bar?” Awan mencoba melunak dan berharap pertanyaannya dijawab anggukan dan senyum Bara yang bertanda kalau kata-katanya cuma joke segar di pagi hari.
Tapi kenyataan seolah mencibir harapan Awan, Bara justru menggeleng kuat sambil berkata, “Gue serius... sangat serius!”
“Gila loe Bar!” Awan menggebrak meja. Panas dingin badan Awan. Kepalanya berdenyut, nafasnya tersengal. Bara hanya diam seperti patung. Ia hanya membiarkan laki-laki di hadapannya itu meluapkan kemarahannya.
“Wan, dengerin gue, gue cinta sama Agnes dan gue berharap loe bisa ngerti.”
“Jangan bodoh Bar! Dari dulu loe tau gue gak pernah setuju kalo loe pacaran sama Agnes apalagi sampe nikah. Dan loe tau kan alasannya. Dia itu berbeda dengan kita, dia itu...”
“Karena dia bukan muslim, itukan alasan loe! Sudahlah Wan, jangan hasut gue untuk menuruti pikiran kolot loe. Buka mata loe lebar-lebar! Gue bukan satu-satunya orang yang menikah dengan wanita beda agama. Semua orang sudah maklum dengan hal ini. Tidak ada yang melarang bahkan mama papa sudah setuju dengan keputusan gue. Hanya loe yang menentang.”
“Gue gak akan pernah setuju. Gue gak ingin loe terperangkap dalam cinta buta loe itu. Sadarlah Bar! Loe sudah melakukan kesalahan besar.”
“Sudah! Cukup! Loe jangan mulai lagi ceramah omong kosong loe itu! Gue bosan dengernya. Gue muak dengan orang-orang sok suci macam loe. Lagi pula apa urusan loe ngelarang gue! Loe gak punya hak nyampurin urusan gue.” Mendadak Bara emosi. Dadanya bergemuruh. Awan terkesiap, tak diduganya Bara bisa berkata seperti itu.
“Bar, loe bicara seolah-olah gue ini bukan siapa-siapa buat loe. Loe masih ingetkan kalo gue ini saudara loe satu-satunya! Di dunia ini gue cuma punya satu saudara Bar, loe! Sebagai abang loe, gue cuma mau loe bahagia, dunia dan akherat.” Awan menekankan kata akherat di akhir kata-katanya. Ia berharap kata-katanya mampu membuka mata hati adik semata wayangnya itu. Tapi rupanya setan lebih pandai menipu. Nasehat kakaknya terdengar bagai ejekan pedas pada pilihannya.
“Memangnya kenapa dengan Agnes? Dia cantik, pintar, kaya, terkenal. Apa lagi? Dan yang paling penting kami saling mencintai. Jadi apa yang salah?”
“Loe salah besar Bar, loe...”
“Udah! stop! Gue gak mau denger lagi. Terserah loe mau bilang apa, gue gak peduli. Lagipula apa urusan loe sama hidup gue. Lebih baik loe urus hidup loe sendiri yang selalu merasa paling benar. Kefanatikan loe emang udah keterlaluan banget! Loe tau gak, loe dan temen-temen mesjid loe itu memang gak tau diri, kalian itu cuma sekumpulan orang sok alim yang selalu merusak kebahagiaan orang lain. Kalian orang-orang sok suci, orang-orang rendahan...”
Plak! Satu tamparan telak memerahkan pipi Bara. Awan benar-benar kehilangan kendali. Untunglah sejurus kemudian ia mampu mengendalikan dirinya. Tubuh tegap itu terduduk lemas dan beristighfar berkali-kali sedangkan Bara tegak mamatung di hadapannya.
“Seribu tamparan loe gak akan membatalkan niat gue.” Kata-katanya datar tapi mampu mengoyak hati Awan.
“Bar, gue mohon pikirkan lagi keputusan loe. Kita ini muslim. Muslim harus berjodoh dengan muslim. Kalo loe melanggar, murka Allah bakalan memenuhi kehidupan rumah tangga loe.”
“Gue gak perduli.” Suara itu begitu dingin, lain dengan Bara yang biasanya selalu hangat dan bersahabat.
“Tapi Bar...”
“Minggu depan gue menikah jam 7 malam. Anggap saja ini undangan buat loe. Terserah loe mau datang atau enggak. Yang penting gue udah ngundang loe.” Bara melemparkan undangan pernikahannya di atas meja lalu segera membalikkan badan dan meninggalkan Awan yang hanya membisu.
***
“Maaf, bukannya gue gak sopan. Tapi gue harus ke mesjid, azan sudah terdengar,” ucap Awan datar.
Naysilla Dominiquelle, gadis indo berambut panjang dan ikal itu hanya tersenyum tipis. Matanya yang berwarna biru tua makin menambah rupawan wajahnya. Sejenak ia terdiam berusaha mencerna maksud dari kata-kata pria tampan di hadapannya. Apa ia bermaksud untuk mengusirku? Apa dia tidak menyukai kedatanganku? Sudah cukup lama mereka tak bertemu, mungkin hampir tiga tahun.
Dulu, segalanya begitu indah. Berkali-kali mereka dipasangkan di beberapa judul sinetron, iklan dan yang terakhir kerjasama disebuah judul film telah mengukuhkan mereka sebagai pasangan serasi di layar lebar. Saat itu tak bisa dipungkiri hati Nay begitu berbunga-bunga bila sepasang mata elang itu menatapnya. Ahh... dulu semuanya begitu indah. Andai saja waktu itu Awan tak memutuskan untuk berhenti dari dunia akting, tentu lakon-lakon yang sering mereka mainkan di layar kaca akan berpindah ke alam nyata. Ahh... andai saja Awan tidak mengenal anak-anak pengajian itu. Jujur, Nay amat merindukan laki-laki ini. Hatinya tak bisa memungkiri kalau ia jatuh cinta pada laki-laki tampan ini, sejak pandangan pertama. Cinta yang tak pernah lekang walaupun terpisah ruang dan waktu.
“Nay...” suara Awan mengagetkan Nay.
“Uups... sorry, gue akan pulang. Tapi... apa boleh kalo lain kali gue dateng lagi?”
“Ehm... boleh aja kalo cuma mau berkunjung.” Awan menjawab tanpa melihat wajah Nay. Sikap yang membuat hati Nay perih. Nay lalu bergegas menuju mobilnya yang terpakir di depan rumah Awan. Perasaannya campur aduk. Awan bahkan tak mengantarnya ke mobil. Tidak seperti dulu, Awan bahkan tak pernah lupa untuk membukakan pintu mobil untuknya. Selalu memperlakukan Nay bak putri raja. Sejenak Nay tertegun di dalam mobil di dalam mobil. Ia memperhatikan sosok tegap itu melangkahkan kakinya ke mesjid. Dia memang mau ke mesjid, hiburnya kepada dirinya sendiri.
Dia makin dingin, fikir Nay sambil mengendarai jazz pinknya. Dinginnya udara di luar seolah mengamini kedinginan hatinya. Ah, betapa kecewanya Naysilla bila teringat sambutan dingin Awan tadi. Hatinya begitu perih menerima kenyataan itu. Nay sudah membayangkan pertemuan yang romantis. Angannya Awan akan tersenyum bahagia, memeluknya erat, mendaratkan ciuman hangat di keningnya, Tapi itu semua hanya sekedar angannya. Hatinya semakin perih menyadari kalau cintanya bertepuk sebelah tangan, batinnya tersiksa. Nay menatap birunya langit di angkasa. Lalu bayangan masa lalu itu hadir. Nostalgia indah itu kembali membayang . Ya, setidaknya dia harus bersyukur karena pernah ada album indah kehidupannya. Kenangan antara dirinya dan pangeran berkuda putih itu, Awan Pratama.....
***
“Duuuhhh... gue rasa gue failing in love deh Nay.”
“Oya... with who? Bara?”
“No, but Awan, his brother.” Naysilla terkejut bukan main. Agnes jatuh cinta dengan Awan? Nay tersenyum hambar. Ternyata dia dan Agnes punya selera yang sama. “Hei, whats wrong with you? Muka loe kusut banget. Oh... ternyata bener dugaan gue kalo loe suka sama Awan.”
“Hei, are you kidding? Bukannya loe yang tadi bilang suka sama Awan?” Wajah Nay memerah. Agnes tersenyum menggoda sahabatnya.
“Loe...apa loe??” Agnes kembali menggoda. “Ya elo Nez.”
“Masa sih? Jangan pura-pura Nay. Loe tu gak bisa bohongin gue. Kita sudah sahabatan dari senior high school, jadi gue bisa baca apa yang ada di dalam hati loe. Jadi loe lebih baik ngaku aja deh!” Kata-kata Agnes telak. Nay tak bisa berbohong lagi.
Naysilla tersenyum malu sementara Agnes tertawa. Jadi bener nih loe gak naksir sama Awan?” Nay memastikan sekali lagi. “Ehmm.. gimana ya? Habis Awannya sudah ditaksir sama sahabat gue sih. Jadi yaa...gue terpaksa naksir sama adeknya saja!” Iiiihh...Nay gemas sekali. Tak kuasa tangannya mulai bergerilya mencubit pinggang Agnes.
“Awas loe yaa...!” lalu mereka berkejaran di ruang TV. Seutas senyum menghiasi bibir Nay. Agnes memang lebih dari sekedar saudara bagi Nay. Kesamaan mereka sebagai anak tunggal telah mengikat erat tali persaudaraan mereka. Mereka memang telah bersahabat sejak masih tinggal di Perancis. Baik Nay maupun Agnes bukan orang Indonesia asli. Ayah masing-masing merupakan warga negara Perancis. Sejak junior high school mereka bersahabat dan mulai meniti karir di negara kelahiran ibunya sampai mereka menjadi artis terkenal di Indonesia. Persahabatan itu begitu manis dan terasa lebih manis saat mereka tahu tahu kalau mereka menyukai dua orang laki-laki yang mempunyai ikatan darah. Begitu bahagianya seandainya ikatan persahabatan itu menjadi ikatan saudara yang sesungguhnya. Ahh... itulah impian mereka. Tapi rasanya impian itu tidak akan pernah terjadi. Hanya khayalan Nay tapi tidak untuk Agnes.
“Hei, apa ini Nez? Loe bakalan nikah dengan Bara? Besok? Yang bener loe?” Agnes mengangguk seraya memeluk sahabatnya itu.
“Iya, Bara udah ngelamar gue. Nah, sekarang giliran loe. Loe harus kejar si Awan sampe dapet.”
“Tapi gue ragu Nez. Awan jadi dingin sama gue. Dia gak pernah terlihat tertarik sama gue. Kayaknya gue sama dia gak bakalan bisa bersatu.”
“Hei, come on! Dont give up. Loe mesti kejer dia sampe dapet.”
“But he doesnt like me. He never shows his love,” jawab Nay pelan.
“Nay, walaupun Bara dan Awan itu bersaudara, karakter mereka jauh berbeda. Awan itu tipe laki-laki yang pasif. Jadi wajar aja kalo loe gak nangkep sinyal cinta darinya.”
“Jadi maksud loe, dia cinta sama gue?” tanya Nay ragu.
“Tentu saja, dari pertama gue sudah merasakannya. Awan itu memang lebih pendiam dan dewasa. Dia seolah-olah gak pernah perduli sama loe padahal dari sinar matanya gue tau kalo dia ada hati sama loe.”
“Gue gak percaya!" Jerit Nay.
“Terserah loe mau percaya atau enggak. Gue tau kalo indera perasa loe memang payah. Tapi ada baiknya loe tanyakan semua sama Bara karena gue juga tau ini dari Bara. Dia gak mungkin bohong.”
“Bener?” Agnes mengangguk meyakinkan sahabatnya itu.
***
“Awan itu munafik Nay, dia berpura-pura gak peduli sama loe padahal gue tau banget kalo dia itu cinta sama loe,” sahut Bara.
“Darimana loe tau?”
“Haloo... apa loe lupa kalo Awan itu abang gue? Dia boleh tertutup sama orang lain tapi dia gak akan bisa ngebohongin gue, adik kandungnya sendiri.Believe me, he really loves you.” Nay Cuma diam. Bar, loe tau gak kalo kata-kata loe itu bikin gue berharap lagi sama Awan. Ahh... Awan, wajahnya kembali terbayang di pelupuk mata Nay.
“Nay...” panggilan Bara menyadarkan Nay.
“Kalo emang dia cinta sama gue, kenapa sekarang dia jadi dingin banget sama gue? Bahkan liat gue aja dia gak mau. Padahal dulu gak kayak gitu.”
“Dia memang jadi aneh sejak berteman dengan anak-anak pengajian itu. Loe bayangin aja, dia sampe berhenti dari dunia akting padahal loe taukan saat itu dia lagi naik daun banget. Dulu loe sama dia sampe dapet best couple kan. Gue aja bangga banget sama abang gue itu. Tapi sekarang dia tinggalin itu semua. Dan loe tau alasannya? Karena menurut dia... jadi aktor itu sebuah kesalahan besar dalam hidupnya! Bukan cuma hidupnya yang salah, hidup gue sekarang juga sering dia protes. Semuanya salah, semuanya dosa. Yang terakhir dia bikin gue kesel karena dia menyalahkan keputusan gue nikah sama Agnes!”
“Why?”
“Karena gue sama Agnes beda agama. Just it!” Suara Bara meninggi saat mengatakannya. Tiba-tiba badan Nay terasa lemas. Beda agama! Jadi itu alasan Awan menetang hubungan Agnes dan adiknya. Otak Nay berfikir, logika berbicara. Jika hubungan Agnes dan Bara saja merupakan suatu kesalahan di matanya, bagaimana dengan cinta mereka berdua? Ahh... segalanya jadi semakin rumit. Hati Nay semakin perih. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata.
“Terus, kenapa loe tetap nikah sama Agnes? Padahal jelas-jelas abang loe menentang?” pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Nay.
“Dia punya hak apa berani ngelarang gue. Dia memang abang gue tapi dia gak punya hak mencampuri urusan pribadi gue, apapun alasannya!"
Lalu mereka terdiam. Sibuk dengan pikirannya masing-masing.
***
Hari Pernikahan Bara dan Agnes
Janji itu dimulai. Janji sehidup semati di depan Yesus. Nay begitu iri menyaksikan semuanya. Bara sangat mencintai Agnes dan rela mengorbankan apapun agar bisa mendapatkan gadis pujaan hatinya. Itu semua sudah dibuktikannya dengan mengikuti keyakinan Agnes dan menikah di gereja.
Ya, kemarin Bara resmi menjadi anak Allah. Menjadi bagian dari Nay dan Agnes. Ahh... bisa dibayangkan betapa bahagianya Agnes juga Bara. Bara begitu bahagia walaupun pernikahannya tak dihadiri oleh Awan, abang kesayangannya. Dia bahkan tak mau untuk sekedar menelpon Awan untuk mengulangi undangannya. Mungkin sekarang abangnya itu tidak terlalu penting lagi. Perhatiannya hanya untuk Agnes dan Agnes.
Wan, kenapa loe gak melakukan hal yang sama dengan adek loe. Mungkin Nay berharap terlalu banyak. Jangankan berkata cinta, menoleh pun Awan tak mau.
“Nay, loe kenapa? Kok nangis?” Pertanyaan Agnes di sela-sela pesta pernikahannya membuyarkan lamunan Nay. Nay hanya diam dan Agnes bisa menangkap sinyal kediaman sahabatnya itu.
“Awan?”
Nay hanya mengangguk dan terisak. Buru-buru Agnes menyentuh pundak Nay untuk menenangkan sahabatnya itu. “Gue bingung Nez, gue pengen ngelupain dia tapi gue gak bisa. Semakin gue berusaha melupakan dia, gue semakin cinta.” Isakan Nay semakin menjadi.
“Loe gak bakalan dapet apa-apa dari tangisan loe. Lebih baik loe temuin dia sekarang, loe tanya gimana perasaan dia sama loe selama ini.”
“Tapi...”
“Sekarang... atau loe gak akan pernah tahu!”
***
Awan sangat terkejut melihat kedatangan Nay. Lebih terkejut lagi saat Nay menyerobot masuk ke dalam rumahnya dan menghempaskan tubuhnya ke sofa tamu. Awan kenal betul siapa gadis di hadapannya ini. Gadis yang nyaris sempurna. Cantik, anggun, pintar, terpelajar dan terkenal. Tapi kelakuannya hari ini membuat Awan mengenyitkan dahi.
Beberapa saat Awan terdiam lalu duduk di sofa yang satunya. “Gue gak akan dateng ke sana, percuma loe bujuk gue." Awan bicara tanpa melihat wajah Nay.
"Kedatangan gue gak ada hubungannya dengan pernikahan mereka. Gue datang ke sini buat nanyain satu hal sama loe.” Sekuat tenaga Nay menahan gejolak perasaannya. Dahi Awan berkerut menunggu kata-kata Nay selanjutnya.
”Loe cinta kan sama gue?” Awan terkesima dengan pertanyaan yang dilontarkan Nay.
“Nay...aku...”
“Gue cuma butuh satu kata dari loe. Iya atau tidak!” Awan terdiam lalu bangkit dari sofa dan melihat ke luar jendela. “Kalo emang loe gentle, be honest!” Kata-kata Nay membuat Awan tak bisa mengelak lagi. Apalagi mata Nay tak lepas menatapnya. Mata itu... mata yang dulu membuatnya tergila-gila.
Oups...tepatnya dari dulu sampai sekarang. Ya, sampai sekarang sosok cantik itu masih selalu setia menemani mimpi-mimpinya. Walau sekuat tenaga ia berusaha mengenyahkan bayangan Nay dalam hidupnya, semakin ia tak bisa lepas dari sosok cantik itu. Sosok Naysilla Dominiquelle tak bisa tergantikan oleh perempuan manapun.
“Wan, please... loe jujur sama gue. Gue gak akan berharap lagi kalo emang loe gak cinta sama gue.” Perempuan yang dijuluki boneka Prancis oleh para penggemarnya ini mulai terisak. Ingin sekali Awan menyentuh pundaknya, memeluk dan menenangkannya. Seandainya...
“Gue memang cinta sama loe... Cinta banget! Tapi gue sadar kalo itu semua gak mungkin karena...”
“Karena kita beda agama, itu kan alasan loe? Wan, gue cinta banget sama loe. Gue rela pindah agama demi loe. seperti yang Bara lakukan untuk Agnes.” Awan terkesiap, shock bukan main. Jantungnya berdetak cepat. Bara pindah agama?Astaghfirullah! Sebegitu buta kah Bara oleh cintanya pada Agnes sampai-sampai dia melepaskan cinta yang agung dari Sang Pemilik Bumi. Marah rasanya sudah tak berguna lagi. Yang ada hanyalah senyum sinis yang dengan cepat berubah menjadi tawa sinis yang menertawakan kata-kata Nay yang terdengar begitu bodoh di telinganya.
“Loe ngetawain gue?”
“Itulah perbedaan gue sama loe.”
“Maksud loe?”
“Loe rela mengorbankan iman buat dapetin cinta gue, cinta yang akan lenyap bila maut datang menjemput. Sedangkan gue, gue rela mengubur dalam-dalam cinta gue sama loe untuk mendapatkan cinta yang jauh lebih indah, cinta yang jauh lebih tinggi dan abadi. Cinta gue sama islam, sama Allah Swt.”
“Tapi Wan...”
“Cukup!”
“Gue cinta loe tapi gue lebih cinta sama agama gue. Gue harap loe bisa ngerti.”
Nay terdiam, air matanya mengalir deras. Nay menangis tanpa suara. Tak lama ia beranjak dari sofa dan buru-buru keluar dari rumah Awan. Sesak nafasnya, perasaannya campur aduk antara lega dan sakit. Lega karena dia akhirnya tahu kalau Awan memang mencintainya. Tapi rasa lega itu berubah menjadi rasa sakit saat tahu ada cinta lain selain dirinya. Cinta yang kata Awan akan abadi dan tak akan pernah sirna.
Mobil Nay melaju meninggalkan harapannya untuk bisa bersatu dengan sang pangeran hati. Sementara Awan hanya terdiam, tanpa ia sadari bulir bening itu jatuh perlahan. “Maafkan aku Nay, aku hanya menempatkan cintaku pada porsinya. Aku harap kamu mengerti.” Awan mendongak ke atas melihat langit. Langit mendung dan suram seolah tertutup kabut, kabut iman Awan yang berduka atas hilangnya iman Bara...dan mungkin juga Nay. Kabut yang menutupi hati dua insan yang patah hati. Begitu menyakitkan. Mengoyak hati.
***
Diposting oleh
Eka Chan
di
19.43
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
cerpen
Minggu, 15 Mei 2011
Islam Kok Pacaran
oleh Aliman Syahrani
Soal pacaran di zaman sekarang tampaknya menjadi gejala umum di kalangan kawula muda. Barangkali fenomena ini sebagai akibat dari pengaruh kisah-kisah percintaan dalam roman, novel, film dan syair lagu. Sehingga terkesan bahwa hidup di masa remaja memang harus ditaburi dengan bunga-bunga percintaan, kisah-kisah asmara, harus ada pasangan tetap sebagai tempat untuk bertukar cerita dan berbagi rasa.
Selama ini tempaknya belum ada pengertian baku tentang pacaran. Namun setidak-tidaknya di dalamnya akan ada suatu bentuk pergaulan antara laki-laki dan wanita tanpa nikah.
Kalau ditinjau lebih jauh sebenarnya pacaran menjadi bagian dari kultur Barat. Sebab biasanya masyarakat Barat mensahkan adanya fase-fase hubungan hetero seksual dalam kehidupan manusia sebelum menikah seperti puppy love (cinta monyet), datang (kencan), going steady (pacaran), dan engagement (tunangan).
Bagaimanapun mereka yang berpacaran, jika kebebasan seksual da lam pacaran diartikan sebagai hubungan suami-istri, maka dengan tegas mereka menolak. Namun, tidaklah demikian jika diartikan sebagai ungkapan rasa kasih sayang dan cinta, sebagai alat untuk memilih pasangan hidup. Akan tetapi kenyataannya, orang berpacaran akan sulit segi mudharatnya ketimbang maslahatnya. Satu contoh : orang berpacaran cenderung mengenang dianya. Waktu luangnya (misalnya bagi mahasiswa) banyak terisi hal-hal semacam melamun atau berfantasi. Amanah untuk belajar terkurangi atau bahkan terbengkalai. Biasanya mahasiswa masih mendapat kiriman dari orang tua. Apakah uang kiriman untuk hidup dan membeli buku tidak terserap untuk pacaran itu ?
Atas dasar itulah ulama memandang, bahwa pacaran model begini adalah kedhaliman atas amanah orang tua. Secara sosio kultural di kalangan masyarakat agamis, pacaran akan mengundang fitnah, bahkan tergolong naif. Mau tidak mau, orang yang berpacaran sedikit demi sedikit akan terkikis peresapan ke-Islam-an dalam hatinya, bahkan bisa mengakibatkan kehancuran moral dan akhlak. Na’udzubillah min dzalik !
Sudah banyak gambaran kehancuran moral akibat pacaran, atau pergaulan bebas yang telah terjadi akibat science dan peradaban modern (westernisasi). Islam sendiri sebagai penyempurnaan dien-dien tidak kalah canggihnya memberi penjelasan mengenai berpacaran. Pacaran menurut Islam diidentikkan sebagai apa yang dilontarkan Rasulullah SAW : "Apabila seorang di antara kamu meminang seorang wanita, andaikata dia dapat melihat wanita yang akan dipinangnya, maka lihatlah." (HR Ahmad dan Abu Daud).
Namun Islam juga, jelas-jelas menyatakan bahwa berpacaran bukan jalan yang diridhai Allah, karena banyak segi mudharatnya. Setiap orang yang berpacaran cenderung untuk bertemu, duduk, pergi bergaul berdua. Ini jelas pelanggaran syari’at ! Terhadap larangan melihat atau bergaul bukan muhrim atau bukan istrinya. Sebagaimana yang tercantum dalam HR Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas yang artinya: "Janganlah salah seorang di antara kamu bersepi-sepi (berkhalwat) dengan seorang wanita, kecuali bersama dengan muhrimnya." Tabrani dan Al-Hakim dari Hudzaifah juga meriwayatkan dalam hadits yang lain: "Lirikan mata merupakan anak panah yang beracun dari setan, barang siapa meninggalkan karena takut kepada-Ku, maka Aku akan menggantikannya dengan iman sempurna hingga ia dapat merasakan arti kemanisannya dalam hati."
Tapi mungkin juga ada di antara mereka yang mencoba "berdalih" dengan mengemukakan argumen berdasar kepada sebuah hadits Nabi SAW yang diriwayatkan Imam Abu Daud berikut : "Barang siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, atawa memberi karena Allah, dan tidak mau memberi karena Allah, maka sungguh orang itu telah menyempurnakan imannya."Tarohlah mereka itu adalah orang-orang yang mempunyai tali iman yang kokoh, yang nggak bakalan terjerumus (terlalu) jauh dalam mengarungi "dunia berpacaran" mereka. Tapi kita juga berhak bertanya : sejauh manakah mereka dapat mengendalikan kemudi "perahu pacaran" itu ? Dan jika kita kembalikan lagi kepada hadits yang telah mereka kemukakan itu, bahwa barang siapa yang mencintai karena Allah adalah salah satu aspek penyempurna keimanan seseorang, lalu benarkah mereka itu mencintai satu sama lainnya benar-benar karena Allah ? Dan bagaimana mereka merealisasikan "mencintai karena Allah" tersebut ? Kalau (misalnya) ada acara bonceng-boncengan, dua-duaan, atau bahkan sampai buka aurat (dalam arti semestinya selain wajah dan dua tapak tangan) bagi si cewek, atau yang lain-lainnya, apakah itu bisa dikategorikan sebagai "mencintai karena Allah ?" Jawabnya jelas tidak !
Dalam kaitan ini peran orang tua sangat penting dalam mengawasi pergaulan anak-anaknya terutama yang lebih menjurus kepada pergaulan dengan lain jenis. Adalah suatu keteledoran jika orang tua membiarkan anak-anaknya bergaul bebas dengan bukan muhrimnya. Oleh karena itu sikap yang bijak bagi orang tua kalau melihat anaknya sudah saatnya untuk menikah, adalah segera saja laksanakan.
Dikutip dari: http://www.indomedia.com/bpost/012000/24/opini/resensi.htm
Soal pacaran di zaman sekarang tampaknya menjadi gejala umum di kalangan kawula muda. Barangkali fenomena ini sebagai akibat dari pengaruh kisah-kisah percintaan dalam roman, novel, film dan syair lagu. Sehingga terkesan bahwa hidup di masa remaja memang harus ditaburi dengan bunga-bunga percintaan, kisah-kisah asmara, harus ada pasangan tetap sebagai tempat untuk bertukar cerita dan berbagi rasa.
Selama ini tempaknya belum ada pengertian baku tentang pacaran. Namun setidak-tidaknya di dalamnya akan ada suatu bentuk pergaulan antara laki-laki dan wanita tanpa nikah.
Kalau ditinjau lebih jauh sebenarnya pacaran menjadi bagian dari kultur Barat. Sebab biasanya masyarakat Barat mensahkan adanya fase-fase hubungan hetero seksual dalam kehidupan manusia sebelum menikah seperti puppy love (cinta monyet), datang (kencan), going steady (pacaran), dan engagement (tunangan).
Bagaimanapun mereka yang berpacaran, jika kebebasan seksual da lam pacaran diartikan sebagai hubungan suami-istri, maka dengan tegas mereka menolak. Namun, tidaklah demikian jika diartikan sebagai ungkapan rasa kasih sayang dan cinta, sebagai alat untuk memilih pasangan hidup. Akan tetapi kenyataannya, orang berpacaran akan sulit segi mudharatnya ketimbang maslahatnya. Satu contoh : orang berpacaran cenderung mengenang dianya. Waktu luangnya (misalnya bagi mahasiswa) banyak terisi hal-hal semacam melamun atau berfantasi. Amanah untuk belajar terkurangi atau bahkan terbengkalai. Biasanya mahasiswa masih mendapat kiriman dari orang tua. Apakah uang kiriman untuk hidup dan membeli buku tidak terserap untuk pacaran itu ?
Atas dasar itulah ulama memandang, bahwa pacaran model begini adalah kedhaliman atas amanah orang tua. Secara sosio kultural di kalangan masyarakat agamis, pacaran akan mengundang fitnah, bahkan tergolong naif. Mau tidak mau, orang yang berpacaran sedikit demi sedikit akan terkikis peresapan ke-Islam-an dalam hatinya, bahkan bisa mengakibatkan kehancuran moral dan akhlak. Na’udzubillah min dzalik !
Sudah banyak gambaran kehancuran moral akibat pacaran, atau pergaulan bebas yang telah terjadi akibat science dan peradaban modern (westernisasi). Islam sendiri sebagai penyempurnaan dien-dien tidak kalah canggihnya memberi penjelasan mengenai berpacaran. Pacaran menurut Islam diidentikkan sebagai apa yang dilontarkan Rasulullah SAW : "Apabila seorang di antara kamu meminang seorang wanita, andaikata dia dapat melihat wanita yang akan dipinangnya, maka lihatlah." (HR Ahmad dan Abu Daud).
Namun Islam juga, jelas-jelas menyatakan bahwa berpacaran bukan jalan yang diridhai Allah, karena banyak segi mudharatnya. Setiap orang yang berpacaran cenderung untuk bertemu, duduk, pergi bergaul berdua. Ini jelas pelanggaran syari’at ! Terhadap larangan melihat atau bergaul bukan muhrim atau bukan istrinya. Sebagaimana yang tercantum dalam HR Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas yang artinya: "Janganlah salah seorang di antara kamu bersepi-sepi (berkhalwat) dengan seorang wanita, kecuali bersama dengan muhrimnya." Tabrani dan Al-Hakim dari Hudzaifah juga meriwayatkan dalam hadits yang lain: "Lirikan mata merupakan anak panah yang beracun dari setan, barang siapa meninggalkan karena takut kepada-Ku, maka Aku akan menggantikannya dengan iman sempurna hingga ia dapat merasakan arti kemanisannya dalam hati."
Tapi mungkin juga ada di antara mereka yang mencoba "berdalih" dengan mengemukakan argumen berdasar kepada sebuah hadits Nabi SAW yang diriwayatkan Imam Abu Daud berikut : "Barang siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, atawa memberi karena Allah, dan tidak mau memberi karena Allah, maka sungguh orang itu telah menyempurnakan imannya."Tarohlah mereka itu adalah orang-orang yang mempunyai tali iman yang kokoh, yang nggak bakalan terjerumus (terlalu) jauh dalam mengarungi "dunia berpacaran" mereka. Tapi kita juga berhak bertanya : sejauh manakah mereka dapat mengendalikan kemudi "perahu pacaran" itu ? Dan jika kita kembalikan lagi kepada hadits yang telah mereka kemukakan itu, bahwa barang siapa yang mencintai karena Allah adalah salah satu aspek penyempurna keimanan seseorang, lalu benarkah mereka itu mencintai satu sama lainnya benar-benar karena Allah ? Dan bagaimana mereka merealisasikan "mencintai karena Allah" tersebut ? Kalau (misalnya) ada acara bonceng-boncengan, dua-duaan, atau bahkan sampai buka aurat (dalam arti semestinya selain wajah dan dua tapak tangan) bagi si cewek, atau yang lain-lainnya, apakah itu bisa dikategorikan sebagai "mencintai karena Allah ?" Jawabnya jelas tidak !
Dalam kaitan ini peran orang tua sangat penting dalam mengawasi pergaulan anak-anaknya terutama yang lebih menjurus kepada pergaulan dengan lain jenis. Adalah suatu keteledoran jika orang tua membiarkan anak-anaknya bergaul bebas dengan bukan muhrimnya. Oleh karena itu sikap yang bijak bagi orang tua kalau melihat anaknya sudah saatnya untuk menikah, adalah segera saja laksanakan.
Dikutip dari: http://www.indomedia.com/bpost/012000/24/opini/resensi.htm
Diposting oleh
Eka Chan
di
22.31
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Hipnotis
Penulis : Shona Vitrilia
Lagi dan lagi. Ramli memandangi poster workshop itu. Matanya tak terganggu oleh seekor ulat bulu yang melintas di atas poster. Padahal ia phobia ulat bulu. Benar-benar membikin phobianya hilang seketika, hanya karena sebegitu tertariknya ia akan workshop itu.
Begitu saja. Pulang dan pergi, melewati sebuah dinding yang ditempeli poster. Setiap pergi, ia akan singgah di sana. Pulang, sama saja. Ini adalah malam kelima sejak poster itu ditempel. Pikir-pikir apa yang hendak dilihatnya. Malam begitu kelam. Lampu jalan berjarak lima meter dari dinding itu. Tentulah tak tampak tulisan barang sedikit pun. Meski punya hape untuk memperjelas tulisan, tak pula ia gunakan, karena isi poster itu sudah terekam baik di pikirannya.
Sesampainya di rumah masih saja poster itu terbayang-bayang. Terdapat gambar membayang di bawah tulisan. Perempuan yang sedang menutup mata dan di dahinya ada lingkaran yang awalnya kecil, semakin lama semakin membesar. Lingkarannya cukup banyak, hingga lingkaran itu melebihi kepalanya. Lalu di bagian bawah gambar terdapat seperti jam rantai, yang terlihat seolah bergoyang dari kiri ke kanan. Yang paling diingat Ramli adalah tulisan CH dan C.Ht. Ia ingin memperoleh gelar non akademis itu. Tapi….
Kalaulah tidak mengingat poster itu akan membawa manfaat buat orang lain, mungkin sudah ia tanggalkan dari dinding itu dan kemudian memindahkannya ke dinding kamarnya. Tapi tak apa, toh dengan mengingat baik-baik, menurutnya poster itu bisa menempel di mana saja. Di atap kamar ketika ia hendak tidur, di kamar mandi ketika ia hendak membuang hajat, di TV ketika ia hendak menonton TV.
“Ada apa dengan waang Ram? Akhir-akhir ini nampaknya waang sering murung,” tanya amak yang meski matanya hampir tak melihat karena katarak, tapi mata hatinya dapat melihat kegundahan anak-anaknya.
“Ah, oh tak ada mak.”
“Apanya yang tak ada. Jangan waang ragukan amak soal lihat-melihat.”
“Hm… ada workshop yang ingin sekali Ramli ikuti mak.”
***
Ramli kembali merenung. Ia memang tipe orang yang jika menginginkan sesuatu, sebisa mungkin akan ia usahakan untuk memperolehnya. Di kamar 2x3 m miliknya itu,tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah benda berwarna hitam yang ia peroleh dari lomba menulis dua tahun yang lalu. Sejenak ia ragu. Tapi mengingat perbincangannya yang terakhir dengan amak, membuatnya mantap hendak menjual laptop hadiah lomba itu. Amaknya bilang, bahwa ilmu itu lebih berharga dari barang berharga. Ramli pikir itu benar adanya.
Ketika muadzin telah selesai dengan adzannya, ketika imam telah selesai memimpin shalat subuhnya, ketika amak selesai membaca Al-ma’tsuratnya, dan Ramli pun selesai mengerjakan semuanya. Bolehlah dikata, bahwasanya Ramlilah yang mengumandangkan adzan, menjadi imam sekaligus yang menuntun amak jika sekali-kali lupa hafalannya. Setelahnya, ia bersiap-siap, membersihkan laptop dan memasukkannya ke dalam tas.
“Hendak ke mana Ram?” Pertanyaan amak mengagetkan Ramli. Baru saja ia membuka pintu kamar, amak sudah tahu jika ia hendak keluar rumah.
“Ke sini dulu Ram, ada yang mau amak bicarakan,” amak berkata lagi sebelum Ramli menjawab.
“Ada apa mak?” Ramli melihat jam tangannya.
“Duduklah waang dulu,” sepertinya ada hal serius yang hendak amak sampaikan. Ramli menuruti ajakan amak.
“Waang kemarin bilang ingin mengikuti apa itu namanya? O wokcop, worsop?” amak mengulang-ngulang kata workshop yang membuat Ramli sedikit tergelak.
“Workshop mak.”
“Ya itulah pokoknya. Ini kalung dan cincin Amak, waang jual lah ke pasar. Ambil semua untuk waang. Mudah-mudahan cukup,” mata Ramli berkaca-kaca. Apa jadinya jika ia menjual kalung dan cincin amak. Di kampung ini semua wanita seperti toko emas berjalan. Mungkin mereka akan melihat miring karena amak tak berbarang. Bahkan mungkin sampai juling-juling saking sengitnya menggosipkan amak.
“Ndak usah mak, Ramli mau….”
“Sudahlah ambil saja. Mak tahu, suatu saat Waang akan butuh untuk menambah ilmu. Jangan waang sia-siakan keinginan amak dan abak. Ilmu itu tidak satu. Semua orang berhak memiliki banyak ilmu. Termasuk waang Ram,” lagi-lagi amak memotong perkataan Ramli.
“Abak waang sudah tiada, buat beliau bangga.”
“Tapi mak, bukankah lebih baik jika uang ini amak gunakan untuk berobat mata.”
“Insya Allah Ram, dengan daun katarak saja, jika rutin amak teteskan ke mata tentu akan sembuh,” padahal Ramli tahu bahwa amak selalu merasa kesakitan yang amat sangat saat air daun itu masuk ke matanya. “Mak akan tahan bertahan berapa lama untuk menahan sakit itu?” tanyanya dalam hati.
“Sudahlah jangan berdebat lagi. Pergilah sekarang.”
***
“Memang Zan sekarang sedang dalam masa-masa sulit mak. Si Reni sering sakit-sakitan. Gaji habis buat berobat.”
“Waang terlambat datang. Mungkin si Ramli sudah mendaftar.”
“Mendaftar apa Mak?”
“Dia ingin menambah ilmu. Ikut… ah entah apa namanya amak ndak ingat. Yang jelas dalam rangka menambah ilmu.”
“Ilmu?”
“Iya, yang amak ingat contoh gampangnya itu kata si Ramli seperti si Romi Rafael.” Namanya dapat diingat amak dengan baik, karena dulu teman sepermainan amak sewaktu kecil bernama Romi Rafael juga.
“Apa? Hipnotis itu mak. Haram mak, itu haram hukumnya. Memakai jin. Kenapa amak izinkan Ramli menuntut ilmu yang dilarang oleh agama? Ndak ingat amak kejadian beberapa bulan yang lalu di Lampung?”
“Haram? Bercanda waang Zan. Ramli, waang, amak dan abak didik sedari kecil tak lepas dari Surau. waang juga tahu bagaimana adik waang tu. Janganlah berburuk sangka.”
“Jelas mak itu haram. Ah sudahlah mak, jelas Zan yang lebih membutuhkan uang, kenapa mak lebih memilih Ramli yang jelas-jelas akan menuntut ilmu yang tidak di ridhai Tuhan? Zan pulang.” Fauzan membanting pintu rumah. Tak pernah sebelumnya ia berperilaku demikian. Mungkin karena beban hidupnya sekarang. Masalah kecil menjadi besar, masalah besar menjadi semakin besar.
Dan benar kata amak. Ramli sudah selesai mendaftar. Air mukanya cerah. Perlu diketahui bahwa semua bermula bukan dari sehabis menonton acara Romi Rafael, melainkan dari artikel yang ia baca di internet. Tentang betapa besarnya manfaat hypnoterapi.
***
Akhirnya dua gelar non akademis itu ia dapatkan. Setelah mengikuti workshop dan kemudian mengikuti ujian. Ia pun mendapat pujian dari fasilitatornya. Karena menurutDavis Husband Scale of Hypnotic Susceptibility, ia berada di posisi 29 dari 30 angka skala yang ada. Semakin mendekati angka 30, semakin bagus. Setelah memperoleh sertifikat dari organisasi hypnosis & hypnotherapy pertama dan terbesar di Indonesia, Ramli kemudian mengikuti workshop lagi. Ia memutuskan untuk menjual laptopnya. Kali ini ia berharap memperoleh sertifikasi clinical hypnotherapy.
***
“Saatnya beraksi,” ucapnya dalam hati sembari tersenyum. Sebuah pamflet baru saja jadi. Hasil desainnya sendiri dan terlihat jauh lebih menarik dari poster yang membawanya mengikuti workshop kemarin. Sebenarnya Ramli ingin sekali membuka klinik terapi, tapi ia tidak memiliki cukup uang untuk itu. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk menyebarkan pamflet agar orang-orang yang memerlukan jasanya bisa menghubunginya. Ia sebarkan di tempat-tempat umum. Terlebih di kampus-kampus. Ia menaruh harga khusus untuk mahasiswa. Barangkali mahasiswa-mahasiswa tahun akhir yang sedang mengerjakan skripsi memerlukan bantuannya. Memanajemen gangguang stres atau cemas saat akan ujian kompre.
Awalnya semua ini ia lakukan untuk menambah biaya berobat mata amak. Honor menulis tidak cukup karena uang tersebut ia gunakan untuk biaya kuliah. Amak juga tidak berpenghasilan tetap. Hasil berkebun tentu ada musimnya. Belum lagi potongan untuk menggaji orang, karena sejak mata amak sakit, amak tak pernah turun ke ladang. Namun siapa menyangka jika hypnoterapi juga bisa membantu menyembuhkan mata amak? Karena pada dasarnya kondisi mental dapat mempengaruhi kesembuhan suatu penyakit.
Dan memang benar, ini sudah hari ke empat belas. Jika dulu amak hanya bisa melihat Ramli seperti bayangan hitam, kini amak bisa melihat warna baju yang Ramli kenakan. Meski masih samar. Tentu semua butuh proses. Daun katarak juga mengambil bagian dalam proses penyembuhan amak.
Di hari ke empat belas ini pula Ramli memandang saldo tabungannya. Modal mengikuti workshop sudah balik. Yang paling besar pemasukannya ia peroleh dari mahasiswa dan dari rumah sakit. Sejak salah satu pasien menggunakan jasanya, maka bertiuplah angin memberi kabar pada pasien-pasien lain.
Ramli merasa benar-benar bahagia. Amak hampir sembuh, phobianya akan ulat bulu sembuh, klien juga riuh berdatangan. Meski demikian, Ramli tetap ingin mata amak diberi sentuhan medis. Rencananya nanti sore Ramli akan membawa amak ke dokter. Biar mata amak normal kembali.
Tapi kebahagiaannya itu sedikit tersapu setelah mengetahui dari amak bahwa Fauzan kakaknya pernah datang ke rumah dan mengatakan bahwa profesi yang ia jalani sekarang adalah profesi haram. Amak terloncat kata saat mereka berbincang-bincang di teras.
“Uda tentu tahu siapa Ram, kenapa uda bilang profesi hypnoterapis itu haram. Ram ndak mungkin memilih jadi hypnoterapis jika profesi ini memang haram adanya,” ucap Ramli pada amak.
Seminggu sudah berlalu, sejak amak-Ramli bawa berobat ke dokter. Amak sudah bisa nonton acara Romi Rafael sekarang. Saat sedang asyik menonton, pintu diketuk dengan cukup keras. Amak dan Ramli hampir jantungan dibuatnya. Ramli segera menuju pintu, jika tak segera di buka, barangkali pintu rumah roboh dibuatnya.
Fauzan dengan geram sudah berada di ambang pintu. Ia tidak sendirian, tapi dengan banyak orang. Mereka kemudian berteriak-teriak. Tidak jelas apa yang mereka teriakkan. Yang terdengar jelas hanya suara Fauzan. “Apa yang waang lakukan Ram? Ha, apa yang sudah waang lakukan?”
Ramli heran dengan pertanyaan kakaknya sekaligus risih karena air liur kakaknya itu muncrat ke wajahnya. “Tenang dulu lah Da. Ada apa ini? Baiknya dibicarakan baik-baik.”
“Apanya yang baik-baik? Kemarin di Pasar Pakan ada orang yang terkena hipnotis. Tadi di Belakang Balok beberapa mahasiswi juga ada yang kena hipnotis. Uang dan barang berharga mereka diambil semua.” Fauzan menjelaskan. Masih dengan berteriak dan air liur yang muncrat ke wajah Ramli.
“Lalu?”
“Lalu, lalu. Ya jelas waang pelakunya kan? waang menuntut ilmu itu kan? Ilmu haram itu?”
“Da, masuklah dulu. Kita bicarakan semuanya baik-baik.”
“Ah, di sini saja. Sungguh malu ambo punya adiak seperti….” Belum selesai ia berkata, tiba-tiba kayu jatuh menimpa kepalanya. Kayu itu jatuh dari atap, mungkin ujung-ujungnya telah habis dimakan rayap. Ramli sudah lama hendak ingin membetulkan, tapi kesibukannya sebagai mahasiswa sekaligus terapis membuatnya lupa.
Untungnya Fauzan tidak pingsan. Hanya kepalanya saja berdarah. Ketika semua orang bergerak hendak mengantarnya ke rumah sakit, ia langsung menolak mentah-mentah. Sebab ia takut sekali dengan jarum suntik. Apalagi jika kepalanya ini robek, tentulah bakal dijahit. Akhirnya Fauzan di bawa ke dalam. Amak berinisiatif ke belakang rumah untuk mengambil daun pucuk ubi guna menghentikan pendarahan Fauzan. Tapi pucuk ubi di belakang rumah sudah habis dijual dan sisanya sudah dimasak tadi pagi. Amak bergegas mencari di rumah tetangga.
Sementara di ruang tamu Fauzan meronta-ronta kesakitan. Ramli meminta izin pada kakaknya itu, agar ia bisa segera mengurangi pendarahan yang dialami uda Fauzan. Kakaknya tak menjawab. Erangan semakin menjadi. Seperti mau melahirkan saja.
“Da, jawablah pertanyaan Ram. Uda bersedia Ram hypnos? Biar darahnya berkurang.”
“Terserah waang laaa….” Fauzan setengah berteriak. Suaranya agak parau. Mungkin karena berteriak-teriak di depan rumah tadi.
“Bilang saja, Ya, Uda bersedia.”
“Yaaa… Uda bersediaaa….” Ramli meminta orang-orang untuk diam. Dan suara gaduh tadi hilang seketika kemudian berganti erangan kecil dan nafas yang tidak begitu teratur, namun semakin lama semakin teratur dan semakin teratur. Uda Fauzan diarahkan pada kondisi rileks. Kontraksi pembuluh darahnya pun menurun, sehingga pembuluh darah membesar. Akibatnya tekanan darah menurun dan pendarahan dapat berkurang.
Selesai. Semua orang ternganga. Fauzan juga merasa tak percaya. Amak datang dari arah belakang dengan mulut penuh berisi daun pucuk ubi. Amak berencana daun kunyahannya itu akan dibalurkan ke luka Fauzan. Seketika amak paham apa yang terjadi. Amak mengeluarkan daun pucuk ubi dari mulutnya dan segera menaruh daun kunyahan itu ke dahi Fauzan. Amak juga berkata, “Yang menghipnotis kemarin dan tadi siang sudah tertangkap.”
Bandung, 24 November 2010.
*Waang : Kamu
*Daun Pucuk Ubi : Daun Singkong
Lagi dan lagi. Ramli memandangi poster workshop itu. Matanya tak terganggu oleh seekor ulat bulu yang melintas di atas poster. Padahal ia phobia ulat bulu. Benar-benar membikin phobianya hilang seketika, hanya karena sebegitu tertariknya ia akan workshop itu.
Begitu saja. Pulang dan pergi, melewati sebuah dinding yang ditempeli poster. Setiap pergi, ia akan singgah di sana. Pulang, sama saja. Ini adalah malam kelima sejak poster itu ditempel. Pikir-pikir apa yang hendak dilihatnya. Malam begitu kelam. Lampu jalan berjarak lima meter dari dinding itu. Tentulah tak tampak tulisan barang sedikit pun. Meski punya hape untuk memperjelas tulisan, tak pula ia gunakan, karena isi poster itu sudah terekam baik di pikirannya.
Sesampainya di rumah masih saja poster itu terbayang-bayang. Terdapat gambar membayang di bawah tulisan. Perempuan yang sedang menutup mata dan di dahinya ada lingkaran yang awalnya kecil, semakin lama semakin membesar. Lingkarannya cukup banyak, hingga lingkaran itu melebihi kepalanya. Lalu di bagian bawah gambar terdapat seperti jam rantai, yang terlihat seolah bergoyang dari kiri ke kanan. Yang paling diingat Ramli adalah tulisan CH dan C.Ht. Ia ingin memperoleh gelar non akademis itu. Tapi….
Kalaulah tidak mengingat poster itu akan membawa manfaat buat orang lain, mungkin sudah ia tanggalkan dari dinding itu dan kemudian memindahkannya ke dinding kamarnya. Tapi tak apa, toh dengan mengingat baik-baik, menurutnya poster itu bisa menempel di mana saja. Di atap kamar ketika ia hendak tidur, di kamar mandi ketika ia hendak membuang hajat, di TV ketika ia hendak menonton TV.
“Ada apa dengan waang Ram? Akhir-akhir ini nampaknya waang sering murung,” tanya amak yang meski matanya hampir tak melihat karena katarak, tapi mata hatinya dapat melihat kegundahan anak-anaknya.
“Ah, oh tak ada mak.”
“Apanya yang tak ada. Jangan waang ragukan amak soal lihat-melihat.”
“Hm… ada workshop yang ingin sekali Ramli ikuti mak.”
***
Ramli kembali merenung. Ia memang tipe orang yang jika menginginkan sesuatu, sebisa mungkin akan ia usahakan untuk memperolehnya. Di kamar 2x3 m miliknya itu,tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah benda berwarna hitam yang ia peroleh dari lomba menulis dua tahun yang lalu. Sejenak ia ragu. Tapi mengingat perbincangannya yang terakhir dengan amak, membuatnya mantap hendak menjual laptop hadiah lomba itu. Amaknya bilang, bahwa ilmu itu lebih berharga dari barang berharga. Ramli pikir itu benar adanya.
Ketika muadzin telah selesai dengan adzannya, ketika imam telah selesai memimpin shalat subuhnya, ketika amak selesai membaca Al-ma’tsuratnya, dan Ramli pun selesai mengerjakan semuanya. Bolehlah dikata, bahwasanya Ramlilah yang mengumandangkan adzan, menjadi imam sekaligus yang menuntun amak jika sekali-kali lupa hafalannya. Setelahnya, ia bersiap-siap, membersihkan laptop dan memasukkannya ke dalam tas.
“Hendak ke mana Ram?” Pertanyaan amak mengagetkan Ramli. Baru saja ia membuka pintu kamar, amak sudah tahu jika ia hendak keluar rumah.
“Ke sini dulu Ram, ada yang mau amak bicarakan,” amak berkata lagi sebelum Ramli menjawab.
“Ada apa mak?” Ramli melihat jam tangannya.
“Duduklah waang dulu,” sepertinya ada hal serius yang hendak amak sampaikan. Ramli menuruti ajakan amak.
“Waang kemarin bilang ingin mengikuti apa itu namanya? O wokcop, worsop?” amak mengulang-ngulang kata workshop yang membuat Ramli sedikit tergelak.
“Workshop mak.”
“Ya itulah pokoknya. Ini kalung dan cincin Amak, waang jual lah ke pasar. Ambil semua untuk waang. Mudah-mudahan cukup,” mata Ramli berkaca-kaca. Apa jadinya jika ia menjual kalung dan cincin amak. Di kampung ini semua wanita seperti toko emas berjalan. Mungkin mereka akan melihat miring karena amak tak berbarang. Bahkan mungkin sampai juling-juling saking sengitnya menggosipkan amak.
“Ndak usah mak, Ramli mau….”
“Sudahlah ambil saja. Mak tahu, suatu saat Waang akan butuh untuk menambah ilmu. Jangan waang sia-siakan keinginan amak dan abak. Ilmu itu tidak satu. Semua orang berhak memiliki banyak ilmu. Termasuk waang Ram,” lagi-lagi amak memotong perkataan Ramli.
“Abak waang sudah tiada, buat beliau bangga.”
“Tapi mak, bukankah lebih baik jika uang ini amak gunakan untuk berobat mata.”
“Insya Allah Ram, dengan daun katarak saja, jika rutin amak teteskan ke mata tentu akan sembuh,” padahal Ramli tahu bahwa amak selalu merasa kesakitan yang amat sangat saat air daun itu masuk ke matanya. “Mak akan tahan bertahan berapa lama untuk menahan sakit itu?” tanyanya dalam hati.
“Sudahlah jangan berdebat lagi. Pergilah sekarang.”
***
“Memang Zan sekarang sedang dalam masa-masa sulit mak. Si Reni sering sakit-sakitan. Gaji habis buat berobat.”
“Waang terlambat datang. Mungkin si Ramli sudah mendaftar.”
“Mendaftar apa Mak?”
“Dia ingin menambah ilmu. Ikut… ah entah apa namanya amak ndak ingat. Yang jelas dalam rangka menambah ilmu.”
“Ilmu?”
“Iya, yang amak ingat contoh gampangnya itu kata si Ramli seperti si Romi Rafael.” Namanya dapat diingat amak dengan baik, karena dulu teman sepermainan amak sewaktu kecil bernama Romi Rafael juga.
“Apa? Hipnotis itu mak. Haram mak, itu haram hukumnya. Memakai jin. Kenapa amak izinkan Ramli menuntut ilmu yang dilarang oleh agama? Ndak ingat amak kejadian beberapa bulan yang lalu di Lampung?”
“Haram? Bercanda waang Zan. Ramli, waang, amak dan abak didik sedari kecil tak lepas dari Surau. waang juga tahu bagaimana adik waang tu. Janganlah berburuk sangka.”
“Jelas mak itu haram. Ah sudahlah mak, jelas Zan yang lebih membutuhkan uang, kenapa mak lebih memilih Ramli yang jelas-jelas akan menuntut ilmu yang tidak di ridhai Tuhan? Zan pulang.” Fauzan membanting pintu rumah. Tak pernah sebelumnya ia berperilaku demikian. Mungkin karena beban hidupnya sekarang. Masalah kecil menjadi besar, masalah besar menjadi semakin besar.
Dan benar kata amak. Ramli sudah selesai mendaftar. Air mukanya cerah. Perlu diketahui bahwa semua bermula bukan dari sehabis menonton acara Romi Rafael, melainkan dari artikel yang ia baca di internet. Tentang betapa besarnya manfaat hypnoterapi.
***
Akhirnya dua gelar non akademis itu ia dapatkan. Setelah mengikuti workshop dan kemudian mengikuti ujian. Ia pun mendapat pujian dari fasilitatornya. Karena menurutDavis Husband Scale of Hypnotic Susceptibility, ia berada di posisi 29 dari 30 angka skala yang ada. Semakin mendekati angka 30, semakin bagus. Setelah memperoleh sertifikat dari organisasi hypnosis & hypnotherapy pertama dan terbesar di Indonesia, Ramli kemudian mengikuti workshop lagi. Ia memutuskan untuk menjual laptopnya. Kali ini ia berharap memperoleh sertifikasi clinical hypnotherapy.
***
“Saatnya beraksi,” ucapnya dalam hati sembari tersenyum. Sebuah pamflet baru saja jadi. Hasil desainnya sendiri dan terlihat jauh lebih menarik dari poster yang membawanya mengikuti workshop kemarin. Sebenarnya Ramli ingin sekali membuka klinik terapi, tapi ia tidak memiliki cukup uang untuk itu. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk menyebarkan pamflet agar orang-orang yang memerlukan jasanya bisa menghubunginya. Ia sebarkan di tempat-tempat umum. Terlebih di kampus-kampus. Ia menaruh harga khusus untuk mahasiswa. Barangkali mahasiswa-mahasiswa tahun akhir yang sedang mengerjakan skripsi memerlukan bantuannya. Memanajemen gangguang stres atau cemas saat akan ujian kompre.
Awalnya semua ini ia lakukan untuk menambah biaya berobat mata amak. Honor menulis tidak cukup karena uang tersebut ia gunakan untuk biaya kuliah. Amak juga tidak berpenghasilan tetap. Hasil berkebun tentu ada musimnya. Belum lagi potongan untuk menggaji orang, karena sejak mata amak sakit, amak tak pernah turun ke ladang. Namun siapa menyangka jika hypnoterapi juga bisa membantu menyembuhkan mata amak? Karena pada dasarnya kondisi mental dapat mempengaruhi kesembuhan suatu penyakit.
Dan memang benar, ini sudah hari ke empat belas. Jika dulu amak hanya bisa melihat Ramli seperti bayangan hitam, kini amak bisa melihat warna baju yang Ramli kenakan. Meski masih samar. Tentu semua butuh proses. Daun katarak juga mengambil bagian dalam proses penyembuhan amak.
Di hari ke empat belas ini pula Ramli memandang saldo tabungannya. Modal mengikuti workshop sudah balik. Yang paling besar pemasukannya ia peroleh dari mahasiswa dan dari rumah sakit. Sejak salah satu pasien menggunakan jasanya, maka bertiuplah angin memberi kabar pada pasien-pasien lain.
Ramli merasa benar-benar bahagia. Amak hampir sembuh, phobianya akan ulat bulu sembuh, klien juga riuh berdatangan. Meski demikian, Ramli tetap ingin mata amak diberi sentuhan medis. Rencananya nanti sore Ramli akan membawa amak ke dokter. Biar mata amak normal kembali.
Tapi kebahagiaannya itu sedikit tersapu setelah mengetahui dari amak bahwa Fauzan kakaknya pernah datang ke rumah dan mengatakan bahwa profesi yang ia jalani sekarang adalah profesi haram. Amak terloncat kata saat mereka berbincang-bincang di teras.
“Uda tentu tahu siapa Ram, kenapa uda bilang profesi hypnoterapis itu haram. Ram ndak mungkin memilih jadi hypnoterapis jika profesi ini memang haram adanya,” ucap Ramli pada amak.
Seminggu sudah berlalu, sejak amak-Ramli bawa berobat ke dokter. Amak sudah bisa nonton acara Romi Rafael sekarang. Saat sedang asyik menonton, pintu diketuk dengan cukup keras. Amak dan Ramli hampir jantungan dibuatnya. Ramli segera menuju pintu, jika tak segera di buka, barangkali pintu rumah roboh dibuatnya.
Fauzan dengan geram sudah berada di ambang pintu. Ia tidak sendirian, tapi dengan banyak orang. Mereka kemudian berteriak-teriak. Tidak jelas apa yang mereka teriakkan. Yang terdengar jelas hanya suara Fauzan. “Apa yang waang lakukan Ram? Ha, apa yang sudah waang lakukan?”
Ramli heran dengan pertanyaan kakaknya sekaligus risih karena air liur kakaknya itu muncrat ke wajahnya. “Tenang dulu lah Da. Ada apa ini? Baiknya dibicarakan baik-baik.”
“Apanya yang baik-baik? Kemarin di Pasar Pakan ada orang yang terkena hipnotis. Tadi di Belakang Balok beberapa mahasiswi juga ada yang kena hipnotis. Uang dan barang berharga mereka diambil semua.” Fauzan menjelaskan. Masih dengan berteriak dan air liur yang muncrat ke wajah Ramli.
“Lalu?”
“Lalu, lalu. Ya jelas waang pelakunya kan? waang menuntut ilmu itu kan? Ilmu haram itu?”
“Da, masuklah dulu. Kita bicarakan semuanya baik-baik.”
“Ah, di sini saja. Sungguh malu ambo punya adiak seperti….” Belum selesai ia berkata, tiba-tiba kayu jatuh menimpa kepalanya. Kayu itu jatuh dari atap, mungkin ujung-ujungnya telah habis dimakan rayap. Ramli sudah lama hendak ingin membetulkan, tapi kesibukannya sebagai mahasiswa sekaligus terapis membuatnya lupa.
Untungnya Fauzan tidak pingsan. Hanya kepalanya saja berdarah. Ketika semua orang bergerak hendak mengantarnya ke rumah sakit, ia langsung menolak mentah-mentah. Sebab ia takut sekali dengan jarum suntik. Apalagi jika kepalanya ini robek, tentulah bakal dijahit. Akhirnya Fauzan di bawa ke dalam. Amak berinisiatif ke belakang rumah untuk mengambil daun pucuk ubi guna menghentikan pendarahan Fauzan. Tapi pucuk ubi di belakang rumah sudah habis dijual dan sisanya sudah dimasak tadi pagi. Amak bergegas mencari di rumah tetangga.
Sementara di ruang tamu Fauzan meronta-ronta kesakitan. Ramli meminta izin pada kakaknya itu, agar ia bisa segera mengurangi pendarahan yang dialami uda Fauzan. Kakaknya tak menjawab. Erangan semakin menjadi. Seperti mau melahirkan saja.
“Da, jawablah pertanyaan Ram. Uda bersedia Ram hypnos? Biar darahnya berkurang.”
“Terserah waang laaa….” Fauzan setengah berteriak. Suaranya agak parau. Mungkin karena berteriak-teriak di depan rumah tadi.
“Bilang saja, Ya, Uda bersedia.”
“Yaaa… Uda bersediaaa….” Ramli meminta orang-orang untuk diam. Dan suara gaduh tadi hilang seketika kemudian berganti erangan kecil dan nafas yang tidak begitu teratur, namun semakin lama semakin teratur dan semakin teratur. Uda Fauzan diarahkan pada kondisi rileks. Kontraksi pembuluh darahnya pun menurun, sehingga pembuluh darah membesar. Akibatnya tekanan darah menurun dan pendarahan dapat berkurang.
Selesai. Semua orang ternganga. Fauzan juga merasa tak percaya. Amak datang dari arah belakang dengan mulut penuh berisi daun pucuk ubi. Amak berencana daun kunyahannya itu akan dibalurkan ke luka Fauzan. Seketika amak paham apa yang terjadi. Amak mengeluarkan daun pucuk ubi dari mulutnya dan segera menaruh daun kunyahan itu ke dahi Fauzan. Amak juga berkata, “Yang menghipnotis kemarin dan tadi siang sudah tertangkap.”
Bandung, 24 November 2010.
*Waang : Kamu
*Daun Pucuk Ubi : Daun Singkong
Diposting oleh
Eka Chan
di
22.29
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
cerpen
SATU KISAH (ANTI) VALENTINE-KU
Keajaiban Valentine's Day? Apakah aku percaya itu? Kalau kau bertanya, aku akan menjawab dengan teori penolakankuku yang tak akan bisa kau mengerti. Seperti halnya pelajaran Pkn yang aku kemukakan di kelas saat diskusi tiba. Sifatku yang kaku dianggap aneh oleh teman-temanku. Namun, aku percaya bahwa itu akan berguna untukku menangkis aura negatif sekitar, salah satunya Valentine's Day. Layaknya hari-hari sebelumnya, aku melihat orang itu melenggang keluar dari kelasnya. Senyum menawan dengan sebuah buku di tangan. Berjalan ke arah bangku depan kelas dan mulai membuka lembaran hadist. Mahmud, begitulah namanya, seorang remaja jenius yang aku sukai sejak dulu. Aku menolak untuk mengungkapkan perasaanku walau itu menyiksaku. Prinsip dari aji-aji orang tua dan petuah agama selama ini.
3 hari lagi adalah Valentine's Day, teman-temanku yang memiliki pacar begitu gencar menyerbu toko kado. Aku tenang bagai sapi di peraduan. Seperti yang sudah kuduga, cibiran datang menghujam. Aku begitu tersiksa dan mempertimbangkan untuk melakukan hal yang sama. Dua hari sebelum hari H, dengan bimbang aku mempersiapkan uang saku sebulanku yang pas-pasan untuk membeli coklat Valentine. Saat turun dari bis, aku melihat seorang pengemis yang lewat di depanku. Keadaannya begitu menyedihkan dan membuatku iba. Aku berpikir dan akhirnya membiarkan beberapa ribuku melayang di tangannya. Walau sedikit berat, tapi aku menetapkan hatiku dan mengingatkan diriku dosa yang baru saja akan aku perbuat. "bodoh, apa gunanya sekolah agama dan kajian bertahun-tahun?" yakinku dalam hati.
Keesokan harinya aku melihat Mahmud lagi, kali ini kudapati tersenyum kepada seorang gadis sekelasnya. Aku begitu patah hati dan diam-diam menangis di rumah. Karena tak tahan, aku menuliskan semuanya di blog-ku. Hingga saat tertidur aku terpejam dengan dada yang sesak.
Tiba Valentine's Day, teman-temanku merayakannya sedang aku duduk membaca di depan kelas dengan mata bengkak. Tiba-tiba dari depanku lewat Mahmud sedang mengambil bukunya yang jatuh, saat melihatku mukanya berseri-seri dengan berkata,
"eh kamu nulis blog ya kemarin? Cie cie... patah hati, ya?"
Aku senang sekaligus kaget.
"kok kamu tau?"
"hehe... Aku baru kali ini liat. Dikasih tau temanku yang pernah liat blog-mu, kata dia isinya lucu-lucu, makanya aku coba. Eh tapi aku bener-bener salut, kamu nglakuin hal bener kemarin" ujarnya tersenyum sambil berlalu.
Aku bengong, tak tahu harus bagaimana. Dalam hati bersyukur nama di blog-ku adalah inisial. Beberapa hari kemudian, dia mengundangku dalam suatu acara sosial bersama teman-teman muslim sekolah lain. Tentu saja aku mau. Setelah kejadian itu, aku semakin paham akan rahasia dibalik keteguhan hati dalam kebaikan, contohnya Valentine’s Day tersebut. Walau ada saat kegoyahan itu datang tapi memang Allah SWT. telah menggariskan takdir yang terbaik untuk kita semua. Bukanlah Valentine yang membuat keajaiban ini, tetapi Allah Swt. dengan usaha manusia sendiri. Bahkan saat aku menolak Valentine, aku malah bisa berbagi kasih terhadap sesama yang lebih banyak lagi tanpa dosa di dalamnya.
Ditulis oleh : Ros Dwi Armiyanti
3 hari lagi adalah Valentine's Day, teman-temanku yang memiliki pacar begitu gencar menyerbu toko kado. Aku tenang bagai sapi di peraduan. Seperti yang sudah kuduga, cibiran datang menghujam. Aku begitu tersiksa dan mempertimbangkan untuk melakukan hal yang sama. Dua hari sebelum hari H, dengan bimbang aku mempersiapkan uang saku sebulanku yang pas-pasan untuk membeli coklat Valentine. Saat turun dari bis, aku melihat seorang pengemis yang lewat di depanku. Keadaannya begitu menyedihkan dan membuatku iba. Aku berpikir dan akhirnya membiarkan beberapa ribuku melayang di tangannya. Walau sedikit berat, tapi aku menetapkan hatiku dan mengingatkan diriku dosa yang baru saja akan aku perbuat. "bodoh, apa gunanya sekolah agama dan kajian bertahun-tahun?" yakinku dalam hati.
Keesokan harinya aku melihat Mahmud lagi, kali ini kudapati tersenyum kepada seorang gadis sekelasnya. Aku begitu patah hati dan diam-diam menangis di rumah. Karena tak tahan, aku menuliskan semuanya di blog-ku. Hingga saat tertidur aku terpejam dengan dada yang sesak.
Tiba Valentine's Day, teman-temanku merayakannya sedang aku duduk membaca di depan kelas dengan mata bengkak. Tiba-tiba dari depanku lewat Mahmud sedang mengambil bukunya yang jatuh, saat melihatku mukanya berseri-seri dengan berkata,
"eh kamu nulis blog ya kemarin? Cie cie... patah hati, ya?"
Aku senang sekaligus kaget.
"kok kamu tau?"
"hehe... Aku baru kali ini liat. Dikasih tau temanku yang pernah liat blog-mu, kata dia isinya lucu-lucu, makanya aku coba. Eh tapi aku bener-bener salut, kamu nglakuin hal bener kemarin" ujarnya tersenyum sambil berlalu.
Aku bengong, tak tahu harus bagaimana. Dalam hati bersyukur nama di blog-ku adalah inisial. Beberapa hari kemudian, dia mengundangku dalam suatu acara sosial bersama teman-teman muslim sekolah lain. Tentu saja aku mau. Setelah kejadian itu, aku semakin paham akan rahasia dibalik keteguhan hati dalam kebaikan, contohnya Valentine’s Day tersebut. Walau ada saat kegoyahan itu datang tapi memang Allah SWT. telah menggariskan takdir yang terbaik untuk kita semua. Bukanlah Valentine yang membuat keajaiban ini, tetapi Allah Swt. dengan usaha manusia sendiri. Bahkan saat aku menolak Valentine, aku malah bisa berbagi kasih terhadap sesama yang lebih banyak lagi tanpa dosa di dalamnya.
Ditulis oleh : Ros Dwi Armiyanti
Diposting oleh
Eka Chan
di
22.27
1 komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
cerpen
Calon Buat Ajeng
Penulis : Asma Nadia
Calon Suami????!!! !!
Pfui, kuhembuskan nafasku kuat-kuat. Bosan aku. Lagi-lagi calon suami yang dibicarakan. Bayangin, sudah dua bulan ini tidak ada topik yang lebih trend di rumah, selain soal suami. Mulai dari Papi yang selalu nyindir, sudah pengen menimang cucu. Mami yang berulang-ulang menasihatiku agar jangan terlalu pilih-pilih tebu. Lalu Bambang, adikku, yang kuharap bisa menetralisir suasana, tak urung ikut menggoda. Bahkan si kembar Rani-Rano, yang masih es em pe pun, ikut-ikutan menceramahiku.
‘’Mbak Ajeng kan udah jadi insinyur, udah waktunya dong, mikirin berkeluarga. Lagian, Rani sama Rano kan udah pengen dipanggil Tante dan Oom. Tika aja yang baru kelas enam, keponakannya udah empat!’’
‘’Iya, Mbak. Jaman sekarang, perempuan itu harus agresif. Mbak Ajeng sih, kerjanya belajar ama ngaji melulu!’’ Rano menimpali kata-kata kembarnya.
Aku hanya bisa melotot, nemu di mana lagi pendapat kayak gitu.
‘’Udah sana kalian belajar!’’ hardikku agak keras.
‘’Tuh, kaaaan?!?’’ seru mereka berdua kompak.
Huhh, dasar kembar!
***
‘’Ajeng!’’
Kudengar panggilan Mami dari depan. Pelan aku bangkit dari meja belajar. Setelah merapikan jilbab, aku keluar.
‘’Ada apa, Mi?’’ tanyaku lunak. Sekilas sempat kulihat sosok seorang lelaki, duduk di sudut ruangan.
Kedua bola mata Mami tampak bersinar-sinar. OoOoQ Pasti ada yang nggak beres, gumamku dalam hati. Iiih..suudzon! Tapi. Benar saja.
‘’Ajeng, kenalin. Ini tangan kanan Papi di kantor. Hebat, ya! Masih muda sudah jadi Wakil Presiden Direktur. Ayo, kenalin dulu. Ini Nak Bui
‘’Boy, Tante!’’
‘’Eh, iya. Boi!’’
Aku hanya bisa menahan geli. Mami Mami!
Rasa geliku mendadak hilang, ketika selama dua jam berikutnya aku harus mendengarkan obrolan Mami dengan Si Boi tadi.
Bukan main, lagaknya! Batinku menggerutu sendiri, mendengar cerita-ceritanya yang melulu berbau luar negeri.
‘’Jadi, Tante, selama belajar di Harvard, saya sudah coba-coba berbisnis sendiri. Hasilnya lumayan. Saya bisa jalan-jalan keliling Amerika, bahkan Eropa setiap kali holiday!’’
Hihhh, gemas aku! Terlebih melihat pancaran kagum di wajah Mami. Benar-benar nggak peka nih anak. Kok bisa sih nggak merasa dicuekin? Tetap aja ngomong. Tak perduli aku yang cuma diam dan
sesekali manggut. Kupanjatkan syukur yang tak terkira ketika akhirnya Si Boi pulang. Alhamdulillah!
***
Kulihat Bambang tertawa. Kesal, kulemparkan bantal ke arahnya. Orang cerita panjang lebar minta advise, kok cuma diketawain?! ?
‘’Bang, serius, dong! Pokoknya kalau nanti Mami nanyain kamu soal Boy, awass kalau kamu setuju!’’ ancamku serius. Bambang masih cengar-cengir. ‘’Mbak Ajeng gimana, sih? Biasanya Mbak
yang nyuruh aku sabar menghadapi segala sesuatu. Lho, kok sekarang malah panasan gini? Tenang aja, Mbak, sabar! Innallaha maashshabirin!’’ balasnya sambil mengutip salah satu ayat di Al-Quran.
‘’Iya, ya. Kenapa aku jadi nggak sabaran gini. Baru juga ngadepin si Boy. Astaghfirullah!’’
‘’Mbak bingung, Bang! Habis serumah pada mojokin semua. Kamu ngerti, kan,
milih suami itu nggak mudah. Nyari yang shalih sekarang susah. Mbak nggak pengen gambling. Salah-salah pilih, resikonya besar. Nggak main-main, dunia akhirat!’’
Sekejap, kulihat keseriusan di matanya. Cuma sekejap, sebelum ia kembali menggodaku.
‘’Apa perlu Bambang yang nyariin???!’’
Lemparan bantalku kembali melayang.
***
Kriiiiing!!!
Ups, kumatikan bunyi weker yang membangunkanku. Jam tiga lebih seperempat. Aku bangun dari tempat tidur, bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu. Kuperhatikan lampu kamar Bambang masih menyala. Sayup-sayup suara kaset murattal terdengar.
Tercapai juga niatnya untuk begadang malam ini, pikirku. Heran, kebiasaan menghadapi ujian dengan pola SKS (Sistem Kebut Semalam) masih membudaya rupanya.
Cepat kuhapuskan pikiran tentang Bambang dan ujiannya. Mataku nanar menyaksikan pantulan wajahku di cermin. Kuhapus tetesan
air wudhu yang tersisa dengan handuk kecil. Oooohh, begini rupanya gadis di penghujung usia dua puluh sembilan? Kuperhatikan bentuk wajahku yang makin tirus. Baru kusadari, betapa pucatnya wajah itu. Entah kemana perginya rona merah yang biasa hadir di sana Mungkin hilang termakan usia. Ya Rabbi, pantas saja Papi dan Mami begitu khawatir. Sudah sulung mereka tak cantik, menjelang tua, lagi!
Ir. Ajeng Prihartini. Kueja namaku sendiri.
Jangan cemas ya ukhti, ini bukan nasib buruk! Bisikku menghibur. Bagaimana pun aku harus tetap tawakkal pada Allah. Jodoh, rizki, dan maut, Dia yang menentukan. Berjodoh di dunia bukanlah satu
kepastian yang akan kita raih dalam hidup. Tidak, ada hal lain yang lebih penting, lebih pasti. Ada kematian, maut yang pasti kita hadapi. Sesuatu yang selama ini sering kuucapkan kepada saudaraku muslimah yang lain, ketika mereka ramai meresahkan calon suami yang tak kunjung datang.
Sebetulnya kita ini lucu, ya? Lebih sering mempermasalahkan pernikahan, hal yang belum tentu terjadi. Maksud Ajeng, bergulirnya waktu dan usia, nggak seharusnya membuat kita lupa untuk berpikir positif terhadap Allah. Boleh jadi calon kita ini nggak buat di dunia, tapi disediakan di surga. Mungkin Allah ingin memberikan yang lebih baik, who knows? ujarku optimis, dua tahun yang lalu.
Astaghfirullah! Ishbiri ya ukhti, isbiri.
Tanganku masih menengadah, berdoa, saat kudengar azan Subuh berkumandang. Hari baru kembali hadir. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, untuk satu hari lagi kesempatan beramal dan taubat, yang masih Kau berikan.
***
Selesai berurusan dengan Mami untuk masalah Boy, gantian aku harus menghadapi Tante Ida yang siap mempromosikan calonnya. Duhh! Lagi-lagi aku cuma bisa manggut-manggut.
‘’Tante sih terserah Ajeng. Pokoknya lihat aja dulu. Syukur-syukur Ajeng suka. Dia anak lurah. Bapaknya termasuk juragan kerbau yang paling kaya di Jawa. Tapi nggak kampungan, kok. Anak kuliahan juga seperti kamu!’’ promosi Tante Ida bersemangat.
Dua hari kemudian, Tanteku itu kembali datang dengan balonnya.
‘’Junaedi. Panggil aja Juned!’’
Aku hanya mengangguk. Tak membalas uluran tangan yang diajukannya.
Selama pembicaraan berikutnya, berkali-kali aku harus menahan diri, untuk tidak lari ke dalam. Aku tidak ingin menyinggung perasaan Tante Ida. Apalagi beliau bermaksud baik. Hanya saja, asap
rokok Juned benar-benar membuatku mual. Malah nggak berhenti-henti. Habis sebatang, sambung sebatang. Persis lokomotif uap jaman dulu!
Dengan berani pula ia mengomentari penampilanku.
‘’Eng! jangan tersinggung ya, Jeng. Aku suka bingung sendiri ngeliat perempuan yang memakai kerudung. Kenapa sih tidak pintar-pintar memilih warna dan mode?! Aku kalau punya isteri, pasti tak suruh beli baju yang warna-warnanya cerah, menyala. Sekaligus yang bervariasi. Seperti yang dipakai artis-artis kita yang beragama Islam itu lho, sekarang. Ndak apa-apa toh sedikit kelihatan leher atau betis?! Maksudku biar tidak terlihat seperti karung berjalan gitu lho, Jeng! Hahaha.’’
Kontan raut mukaku berubah. Tanpa menunggu rokok keenamnya habis, aku mohon diri ke dalam. Tak lama kudengar suara Juned pamitan. Alhamdulillah.
Ketika Tante Ida menanyakan pendapatku, hati-hati aku menjawab.
‘’Maaf ya, Tan, rasanya Ajeng nggak sreg. Terutama asap rokoknya itu, lho. Soalnya Ajeng punya alergi sama asap rokok. Mana kelihatannya Juned perokok berat, lagi. Maaf ya, Tan, udah ngerepotin.’’
Bayang kekecewaan tampak menghiasi raut muka Tante Ida.
‘’Bener, nih nggak nyesel? Tante Cuma berusaha bantu. Ajeng juga mesti memikirkan perasaan Mami sama Papi. Susah lho, nyari yang seperti Juned. Udah ganteng, dokterandes lagi! Terlebih kamu juga sudah cukup berumur.’’
Bujukan Tante Ida tak mampu menggoyahkanku. Dengan masih kecewa, beliau beranjak keluar. Sempat kudengar Tante Ida berbicara dengan Papi dan Mami. Sempat pula kudengar
komentar-komentar mereka yang bernada kecewa, sedih. Ya Allah, kuatkan hamba-Mu!
Hari berangsur malam. Aku masih di kamar, mematung. Beragam perasaan bermain di hatiku. Sementara itu, hujan turun rintik-rintik.
***
Siang begitu terik. Langkahku lesu menghampiri rumah. Capek rasanya jalan setengah harian, dari satu perpustakaan ke perpustakaan IPB lainnya. Namun buku yang kucari belum juga ketemu. Padahal buku itu sangat kuperlukan untuk menghadapi ujian pasca sarjanaku sebentar lagi. Sia-sia harapanku untuk bisa beristirahat pulang ke Depok. Kereta yang kutumpangi benar-benar penuh. Sudah untung bisa berdiri tegak, dan tidak doyong ke sana ke mari, terdesak penumpang yang lain.
‘’Assalamualaikum!’’ perasaanku kembali tidak enak, melihat Mami yang tidak sendirian. Seorang lelaki berjeans, dengan sajadah di pundak, dan kopiah di kepala, tampak menemani beliau. Jangan jangan.
‘’Waalaikumussalam. Nah, ini Ajengnya sudah pulang. Ajeng, sini sayang. Kenalkan, Saleh. Putera Pak Camat yang baru lulus dari pondok pesantren di Kalimantan. Kalian pasti bisa bekerja sama mengelola kegiatan masjid di sini. Lho, Ajeng, kok malah diam? Maaf Nak Saleh, Ajeng memang pemalu orangnya.’’
Duhh, Mami!
Kali ini Mami membiarkanku berdua dengan tamunya itu. Risih, kuminta Rani mendampingiku. Dia setuju setelah aku janji akan menemaninya mendengar ceramah di Wali Songo, pekan depan.
Selama Saleh berbicara, aku menunduk terus. Bisa kurasakan pandangannya yang jelalatan ke arahku. Dengan gaya bahasa yang tinggi, Saleh bercerita tentang berbagai kitab berbahasa Arab yang telah dia kuasai. Bukan main. Lalu ia mulai membahas satu persatu perbedaan pendapat di kalangan umat Islam. Soal doa qunut, perbedaan doa iftitah, masalah posisi telunjuk ketika tahiyat, dan lain-lain yang senada.
Terus terang, aku tidak begitu setuju dengan caranya. Betul bahwa semuanya harus kita ketahui. Tapi bagiku, dengan makin meributkannya, hanya akan memperuncing perbedaan yang ada. Cukuplah bahwa masing-masing berpegang pada sunnah Rasulullah. Tentunya akan lebih baik, jika
kita justru berusaha mencari titik temu atau persamaan, dan bukan mala memperlebar jurang perbedaan.
‘’Kalau menurut Saleh, kasus Bosnia itu bagaimana?’’ tanyaku mengalihkan perhatian.
‘’Oooh, itu. Ane sangat tidak setuju. Menurut pendapat dan analisa ane, tidak seharusnya masalah Bosnia itu digembar-gemborkan. Itu akan membuat sikap tersebut kian membudaya. Sudah saatnya pola sikap ngebos, dan penghargaan masyarakat terhadap orang-orang yang punya kedudukan, diarahkan sewajarnya. Agar tidak berlebihan. ‘’ulasnya panjang lebar.
Gantian aku yang bingung.
‘’Saya saya tidak paham apa yang Saleh maksudkan.’’ ujarku sedikit gagap.
‘’Kenapa? Apa karena bahasa yang ane gunakan terlalu tinggi atau bagaimana, hingga Ajeng sulit memahami?’’
Aku tambah melongo.
‘’Bukan itu, ini, Bosnia yang mana, yang Saleh maksudkan?’’ tanyaku makin bingung.
‘’Lha, yang nanya kok malah bingung?! Yang ane bicarakan tadi ya tentang Bosnia,
Boss-Mania, kan maksud Ajeng?!!’’
Ufh, kutahan tawa yang nyaris meledak. Bingung aku, ternyata masih saja ada orang yang meributkan hal-hal yang relative lebih kecil, dan melupakan masalah lain yang lebih besar. Dari sudut mataku, kulihat Rani pringas-pringis menahan geli, sambil mempermainkan kerudung pink-nya. Lucu sekali.
‘’Bukan, yang Ajeng maksudkan adalah penindasan yang terjadi pada saudara-saudara muslim kita di Negara Bosnia.’’ Aku berusaha menjelaskan dengan sabar.
Tampak Saleh manggut-manggut.
Ooooh, yang itu. Yajelas penindasan itu tidak bisa dibenarkan. Tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan keadilan’’, ujar Saleh optimis, lalu.
‘’’Ngomong-ngomong, Bosnia itu di mana, sih?’’
Tawa Rani meledak.
Duhhh, Mami!!!
***
Malamnya, waktu aku protes ke Mami, soal calon-calon itu, tanpa diduga, malah Mami yang marah.
‘’Lho, kamu itu gimana toh? Kata Bambang kamu maunya sama Saleh. Pas Mami temuin, kamu bilang bukan yang seperti itu yang kamu inginkan. Jadi sebenarnya, Saleh yang mana calon kamu itu?’’ Suara Mami meninggi.
Aku terhenyak. Bambang yang duduk di kursi makan tersenyum simpul. Awas, kamu de! Bisikku gemas.
‘’Bukan yang namanya Saleh, Mi. Ajeng ingin orang yang saleh, yang taat beribadah. Orang yang punya pemahaman paling tidak mendekati menyeluruhlah, tentang Islam. Yang Islamnya nggak cuma teori, tapi ada bukti. Yang nggak jelalatan memandang Ajeng terus-terusan dari ujung jilbab sampai kaos kaki, seperti hendak menawar barang dagangan. Ajeng tahu, usia Ajeng sudah jauh dari cukup. Ajeng juga pengen segera menikah. Perempuan mana sih, yang tidak ingin berkeluarga, dan punya anak?’’ lanjutku hampir menangis.
‘’Tapi, tolong. Jangan menyudutkan Ajeng. Tolong Mami bantu Ajeng agar bisa tetap sabar, tetap tawakkal sama Allah. Kita memang harus berusaha, tapi jangan memaksakan diri. Biar Ajeng mesti nunggu sampai tua, Ajeng siap. Daripada bersuamikan orang yang akhlaknya tidak Islami. Tolong Ajeng, Mi,tolong!’’ Kusaksikan mata Mami berkaca-kaca. Diraihnya aku ke dalam pelukannya. Berdua kami berisakan. Papi turut menghampiri, menepuk-nepuk pundakku. Rani dan Reno terdiam di kursinya.
‘’Maafin Mami, sayang.’’ suara Mami lirih, memelukku makin erat.
***
Kesibukanku menulis diary terhenti.
‘’Mbak Ajeng telepon tuh!’’ pekik Rano keras.
‘’Dari siapa? Kalau dari Anto Boy, Didin, Juned, atau Saleh, Mbak nggak mau terima!’’ balasku agak keras.
Hening, tidak ada panggilan lanjutan dari Rano. Aku lega.
Alhamdulillah, sejak kejadian malam itu, perlahan topik trend kami bergeser. Mami tidak lagi menyodorkan calon-calonnya, sebelum menanyakan kesediaanku. Beberapa Oom dan Tante yang datang, harus pulang dengan kecewa karena promosi dibatalkan. Aku masing ingin menenangkan diri dulu.
Kuraih pena. Dengan hati seringan kapas, aku mulai menulis:
Kepada Calon Suamiku.
Usiaku hari ini bertambah setahun lagi.
Tiga puluh tahun sudah. Alhamdulillah. Kuharap, tahun-tahun yang berlalu, meski memudarkan keremajaanku, namun tidak akan pernah memudarkan ghirah Islamiah yang ada. Mudah-mudahan aku bisa tetap istiqamah di jalan-Nya.
Ujian pasca sarjanaku sudah selesai. Sebentar lagi, satu embel-embel gelar kembali menghiasi namaku. Belum lama ini aku juga mengambil kursus jahit dan memasak. Dengan besar hati pula, Mami mesti mengakui, bahwa kemahirannya di dapur, kini sudah tersaingi.
Alhamdulillah, sekarang aku lebih bias berkonsentrasi untuk menulis, dan memberikan berbagai ceramah di beberapa kampus dan masjid. Baru sedikit itulah, yang bisa kulakukan sebagai perwujudan syukurku atas nikmat-Nya yang tak terhitung.
Calon suamiku.
Aku maklum, bila sampai detik ini kau belum juga hadir. Permasalahan yang menimpa kaum muslimin begitu banyak. Kesemuanya membentuk satu daftar panjang dalam agenda kita. Aku yakin ketidakhadiranmu semata-mata karena kesibukan dakwah yang ada. Satu kerja mulia, yang hanya sedikit orang terpanggil untuk ikut merasa bertanggung jawab. Insya Allah, hal itu akan membuat penantian ini seakan tidak pernah ada.
Calon suamiku.
Namun jika engkau memang disediakan untukku di dunia ini, bila kau sudah siap untuk menambah satu amanah lagi dalam kehidupan ini, yang akan menjadi nilai plus di hadapan Allah (semoga), maka
datanglah. Tak usah kau cemaskan soal kuliah yang belum selesai, atau pekerjaan yang masih sambilan. Insya Allah, iman akan menjawab segalanya. Percayakan semuanya pada Allah. Jika Dia senantiasa memberikan rizki, padahal kita tidak dalam keadaan jihad di jalan-Nya, lalu bagaimana mungkin Allah akan menelantarkan kita, sedangkan kita senantiasa berjihad di sabil-Nya?!
Banyaklah berdoa, Calon Suamiku, di manapun engkau berada. Insya Allah, doaku selalu menyertai usahamu.
Wassalam,
Adinda
NB: Ngomong-ngomong, nama kamu siapa,
sih?
‘’Syahril. Nama saya Syahril.’’
Deg! Aku tersentak. Pena yang kugenggam jatuh. Rasa-rasanya kudengar satu suara. Sedikit berjingkat, aku melangkah ke depan. Sebelum aku sempat menyibak tirai yang membatasi ruang makan dengan ruang tamu, kudengar suara Papi memanggilku.
‘’Ajeng!’’
Hampir aku terjatuh, saking tergesanya menghampiri beliau. Sekilas mataku menyapu bayangan seorang lelaki berkaca mata, yang berdiri tak jauh dari Papi, dengan wajah tertunduk, rapat ke dada. Di belakangnya, Bambang berdiri dengan senyum khasnya.
‘’Nah, Nak Syahril, kenalkan, ini yang namanya Ajeng. Puteri sulung Oom. Lho, kok malah nunduk?’’ suara ngebas Papi kembali terdengar.
Aku menoleh sesaat, yang dipanggil Syahril tetap menunduk.
‘’Ayo, salaman. Ini lho, Jeng puteranya Mas Wismoyo, sahabat Papi sejak jaman revolusi dulu, sekaligus Ass Dos-nya Bambang di FISIP. Baru lulus ya Nak?’’
Syahril mengangguk. Tapi, tetap tak ada uluran tangan.
‘’Assalamualaikum, Ajeng. Saya Syahril.’’
Masya Allah! Aku masih melongo, terpana.
‘’Insya Allah, hari ini saya akan bertaaruf dengan Ajeng. Kalau Ajeng setuju, khitbahnya bisa dilaksanakan besok. Sesudah itu mudah-mudahan kita bisa jihad bareng.’’
Agak samar kudengar kalimatnya yang terakhir. Kulihat Papi tersenyum lebar, melirikku.
‘’Apa, Jeng..khitbah? Ngelamar, ya??’’
Aku mengangguk pendek, tersipu. Tawa Papi makin lebar.
Aku masih terpana. Masya Allah, calon suamiku eng enge ng ups, apakah apakah ini, kamu???
* Pemenang Harapan I LMCPI Annida.
Sumber : Majalah Annida, No. 12 1415
H/1994 M
Jadikanlah Sabar dan Shalat Sebagai Penolongmu. Dan Sesungguhnya Yang Demikian itu Sungguh Berat, Kecuali Bagi Orang-Orang yang Khusyu [ Al Baqarah : 45 ]
Calon Suami????!!! !!
Pfui, kuhembuskan nafasku kuat-kuat. Bosan aku. Lagi-lagi calon suami yang dibicarakan. Bayangin, sudah dua bulan ini tidak ada topik yang lebih trend di rumah, selain soal suami. Mulai dari Papi yang selalu nyindir, sudah pengen menimang cucu. Mami yang berulang-ulang menasihatiku agar jangan terlalu pilih-pilih tebu. Lalu Bambang, adikku, yang kuharap bisa menetralisir suasana, tak urung ikut menggoda. Bahkan si kembar Rani-Rano, yang masih es em pe pun, ikut-ikutan menceramahiku.
‘’Mbak Ajeng kan udah jadi insinyur, udah waktunya dong, mikirin berkeluarga. Lagian, Rani sama Rano kan udah pengen dipanggil Tante dan Oom. Tika aja yang baru kelas enam, keponakannya udah empat!’’
‘’Iya, Mbak. Jaman sekarang, perempuan itu harus agresif. Mbak Ajeng sih, kerjanya belajar ama ngaji melulu!’’ Rano menimpali kata-kata kembarnya.
Aku hanya bisa melotot, nemu di mana lagi pendapat kayak gitu.
‘’Udah sana kalian belajar!’’ hardikku agak keras.
‘’Tuh, kaaaan?!?’’ seru mereka berdua kompak.
Huhh, dasar kembar!
***
‘’Ajeng!’’
Kudengar panggilan Mami dari depan. Pelan aku bangkit dari meja belajar. Setelah merapikan jilbab, aku keluar.
‘’Ada apa, Mi?’’ tanyaku lunak. Sekilas sempat kulihat sosok seorang lelaki, duduk di sudut ruangan.
Kedua bola mata Mami tampak bersinar-sinar. OoOoQ Pasti ada yang nggak beres, gumamku dalam hati. Iiih..suudzon! Tapi. Benar saja.
‘’Ajeng, kenalin. Ini tangan kanan Papi di kantor. Hebat, ya! Masih muda sudah jadi Wakil Presiden Direktur. Ayo, kenalin dulu. Ini Nak Bui
‘’Boy, Tante!’’
‘’Eh, iya. Boi!’’
Aku hanya bisa menahan geli. Mami Mami!
Rasa geliku mendadak hilang, ketika selama dua jam berikutnya aku harus mendengarkan obrolan Mami dengan Si Boi tadi.
Bukan main, lagaknya! Batinku menggerutu sendiri, mendengar cerita-ceritanya yang melulu berbau luar negeri.
‘’Jadi, Tante, selama belajar di Harvard, saya sudah coba-coba berbisnis sendiri. Hasilnya lumayan. Saya bisa jalan-jalan keliling Amerika, bahkan Eropa setiap kali holiday!’’
Hihhh, gemas aku! Terlebih melihat pancaran kagum di wajah Mami. Benar-benar nggak peka nih anak. Kok bisa sih nggak merasa dicuekin? Tetap aja ngomong. Tak perduli aku yang cuma diam dan
sesekali manggut. Kupanjatkan syukur yang tak terkira ketika akhirnya Si Boi pulang. Alhamdulillah!
***
Kulihat Bambang tertawa. Kesal, kulemparkan bantal ke arahnya. Orang cerita panjang lebar minta advise, kok cuma diketawain?! ?
‘’Bang, serius, dong! Pokoknya kalau nanti Mami nanyain kamu soal Boy, awass kalau kamu setuju!’’ ancamku serius. Bambang masih cengar-cengir. ‘’Mbak Ajeng gimana, sih? Biasanya Mbak
yang nyuruh aku sabar menghadapi segala sesuatu. Lho, kok sekarang malah panasan gini? Tenang aja, Mbak, sabar! Innallaha maashshabirin!’’ balasnya sambil mengutip salah satu ayat di Al-Quran.
‘’Iya, ya. Kenapa aku jadi nggak sabaran gini. Baru juga ngadepin si Boy. Astaghfirullah!’’
‘’Mbak bingung, Bang! Habis serumah pada mojokin semua. Kamu ngerti, kan,
milih suami itu nggak mudah. Nyari yang shalih sekarang susah. Mbak nggak pengen gambling. Salah-salah pilih, resikonya besar. Nggak main-main, dunia akhirat!’’
Sekejap, kulihat keseriusan di matanya. Cuma sekejap, sebelum ia kembali menggodaku.
‘’Apa perlu Bambang yang nyariin???!’’
Lemparan bantalku kembali melayang.
***
Kriiiiing!!!
Ups, kumatikan bunyi weker yang membangunkanku. Jam tiga lebih seperempat. Aku bangun dari tempat tidur, bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu. Kuperhatikan lampu kamar Bambang masih menyala. Sayup-sayup suara kaset murattal terdengar.
Tercapai juga niatnya untuk begadang malam ini, pikirku. Heran, kebiasaan menghadapi ujian dengan pola SKS (Sistem Kebut Semalam) masih membudaya rupanya.
Cepat kuhapuskan pikiran tentang Bambang dan ujiannya. Mataku nanar menyaksikan pantulan wajahku di cermin. Kuhapus tetesan
air wudhu yang tersisa dengan handuk kecil. Oooohh, begini rupanya gadis di penghujung usia dua puluh sembilan? Kuperhatikan bentuk wajahku yang makin tirus. Baru kusadari, betapa pucatnya wajah itu. Entah kemana perginya rona merah yang biasa hadir di sana Mungkin hilang termakan usia. Ya Rabbi, pantas saja Papi dan Mami begitu khawatir. Sudah sulung mereka tak cantik, menjelang tua, lagi!
Ir. Ajeng Prihartini. Kueja namaku sendiri.
Jangan cemas ya ukhti, ini bukan nasib buruk! Bisikku menghibur. Bagaimana pun aku harus tetap tawakkal pada Allah. Jodoh, rizki, dan maut, Dia yang menentukan. Berjodoh di dunia bukanlah satu
kepastian yang akan kita raih dalam hidup. Tidak, ada hal lain yang lebih penting, lebih pasti. Ada kematian, maut yang pasti kita hadapi. Sesuatu yang selama ini sering kuucapkan kepada saudaraku muslimah yang lain, ketika mereka ramai meresahkan calon suami yang tak kunjung datang.
Sebetulnya kita ini lucu, ya? Lebih sering mempermasalahkan pernikahan, hal yang belum tentu terjadi. Maksud Ajeng, bergulirnya waktu dan usia, nggak seharusnya membuat kita lupa untuk berpikir positif terhadap Allah. Boleh jadi calon kita ini nggak buat di dunia, tapi disediakan di surga. Mungkin Allah ingin memberikan yang lebih baik, who knows? ujarku optimis, dua tahun yang lalu.
Astaghfirullah! Ishbiri ya ukhti, isbiri.
Tanganku masih menengadah, berdoa, saat kudengar azan Subuh berkumandang. Hari baru kembali hadir. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, untuk satu hari lagi kesempatan beramal dan taubat, yang masih Kau berikan.
***
Selesai berurusan dengan Mami untuk masalah Boy, gantian aku harus menghadapi Tante Ida yang siap mempromosikan calonnya. Duhh! Lagi-lagi aku cuma bisa manggut-manggut.
‘’Tante sih terserah Ajeng. Pokoknya lihat aja dulu. Syukur-syukur Ajeng suka. Dia anak lurah. Bapaknya termasuk juragan kerbau yang paling kaya di Jawa. Tapi nggak kampungan, kok. Anak kuliahan juga seperti kamu!’’ promosi Tante Ida bersemangat.
Dua hari kemudian, Tanteku itu kembali datang dengan balonnya.
‘’Junaedi. Panggil aja Juned!’’
Aku hanya mengangguk. Tak membalas uluran tangan yang diajukannya.
Selama pembicaraan berikutnya, berkali-kali aku harus menahan diri, untuk tidak lari ke dalam. Aku tidak ingin menyinggung perasaan Tante Ida. Apalagi beliau bermaksud baik. Hanya saja, asap
rokok Juned benar-benar membuatku mual. Malah nggak berhenti-henti. Habis sebatang, sambung sebatang. Persis lokomotif uap jaman dulu!
Dengan berani pula ia mengomentari penampilanku.
‘’Eng! jangan tersinggung ya, Jeng. Aku suka bingung sendiri ngeliat perempuan yang memakai kerudung. Kenapa sih tidak pintar-pintar memilih warna dan mode?! Aku kalau punya isteri, pasti tak suruh beli baju yang warna-warnanya cerah, menyala. Sekaligus yang bervariasi. Seperti yang dipakai artis-artis kita yang beragama Islam itu lho, sekarang. Ndak apa-apa toh sedikit kelihatan leher atau betis?! Maksudku biar tidak terlihat seperti karung berjalan gitu lho, Jeng! Hahaha.’’
Kontan raut mukaku berubah. Tanpa menunggu rokok keenamnya habis, aku mohon diri ke dalam. Tak lama kudengar suara Juned pamitan. Alhamdulillah.
Ketika Tante Ida menanyakan pendapatku, hati-hati aku menjawab.
‘’Maaf ya, Tan, rasanya Ajeng nggak sreg. Terutama asap rokoknya itu, lho. Soalnya Ajeng punya alergi sama asap rokok. Mana kelihatannya Juned perokok berat, lagi. Maaf ya, Tan, udah ngerepotin.’’
Bayang kekecewaan tampak menghiasi raut muka Tante Ida.
‘’Bener, nih nggak nyesel? Tante Cuma berusaha bantu. Ajeng juga mesti memikirkan perasaan Mami sama Papi. Susah lho, nyari yang seperti Juned. Udah ganteng, dokterandes lagi! Terlebih kamu juga sudah cukup berumur.’’
Bujukan Tante Ida tak mampu menggoyahkanku. Dengan masih kecewa, beliau beranjak keluar. Sempat kudengar Tante Ida berbicara dengan Papi dan Mami. Sempat pula kudengar
komentar-komentar mereka yang bernada kecewa, sedih. Ya Allah, kuatkan hamba-Mu!
Hari berangsur malam. Aku masih di kamar, mematung. Beragam perasaan bermain di hatiku. Sementara itu, hujan turun rintik-rintik.
***
Siang begitu terik. Langkahku lesu menghampiri rumah. Capek rasanya jalan setengah harian, dari satu perpustakaan ke perpustakaan IPB lainnya. Namun buku yang kucari belum juga ketemu. Padahal buku itu sangat kuperlukan untuk menghadapi ujian pasca sarjanaku sebentar lagi. Sia-sia harapanku untuk bisa beristirahat pulang ke Depok. Kereta yang kutumpangi benar-benar penuh. Sudah untung bisa berdiri tegak, dan tidak doyong ke sana ke mari, terdesak penumpang yang lain.
‘’Assalamualaikum!’’ perasaanku kembali tidak enak, melihat Mami yang tidak sendirian. Seorang lelaki berjeans, dengan sajadah di pundak, dan kopiah di kepala, tampak menemani beliau. Jangan jangan.
‘’Waalaikumussalam. Nah, ini Ajengnya sudah pulang. Ajeng, sini sayang. Kenalkan, Saleh. Putera Pak Camat yang baru lulus dari pondok pesantren di Kalimantan. Kalian pasti bisa bekerja sama mengelola kegiatan masjid di sini. Lho, Ajeng, kok malah diam? Maaf Nak Saleh, Ajeng memang pemalu orangnya.’’
Duhh, Mami!
Kali ini Mami membiarkanku berdua dengan tamunya itu. Risih, kuminta Rani mendampingiku. Dia setuju setelah aku janji akan menemaninya mendengar ceramah di Wali Songo, pekan depan.
Selama Saleh berbicara, aku menunduk terus. Bisa kurasakan pandangannya yang jelalatan ke arahku. Dengan gaya bahasa yang tinggi, Saleh bercerita tentang berbagai kitab berbahasa Arab yang telah dia kuasai. Bukan main. Lalu ia mulai membahas satu persatu perbedaan pendapat di kalangan umat Islam. Soal doa qunut, perbedaan doa iftitah, masalah posisi telunjuk ketika tahiyat, dan lain-lain yang senada.
Terus terang, aku tidak begitu setuju dengan caranya. Betul bahwa semuanya harus kita ketahui. Tapi bagiku, dengan makin meributkannya, hanya akan memperuncing perbedaan yang ada. Cukuplah bahwa masing-masing berpegang pada sunnah Rasulullah. Tentunya akan lebih baik, jika
kita justru berusaha mencari titik temu atau persamaan, dan bukan mala memperlebar jurang perbedaan.
‘’Kalau menurut Saleh, kasus Bosnia itu bagaimana?’’ tanyaku mengalihkan perhatian.
‘’Oooh, itu. Ane sangat tidak setuju. Menurut pendapat dan analisa ane, tidak seharusnya masalah Bosnia itu digembar-gemborkan. Itu akan membuat sikap tersebut kian membudaya. Sudah saatnya pola sikap ngebos, dan penghargaan masyarakat terhadap orang-orang yang punya kedudukan, diarahkan sewajarnya. Agar tidak berlebihan. ‘’ulasnya panjang lebar.
Gantian aku yang bingung.
‘’Saya saya tidak paham apa yang Saleh maksudkan.’’ ujarku sedikit gagap.
‘’Kenapa? Apa karena bahasa yang ane gunakan terlalu tinggi atau bagaimana, hingga Ajeng sulit memahami?’’
Aku tambah melongo.
‘’Bukan itu, ini, Bosnia yang mana, yang Saleh maksudkan?’’ tanyaku makin bingung.
‘’Lha, yang nanya kok malah bingung?! Yang ane bicarakan tadi ya tentang Bosnia,
Boss-Mania, kan maksud Ajeng?!!’’
Ufh, kutahan tawa yang nyaris meledak. Bingung aku, ternyata masih saja ada orang yang meributkan hal-hal yang relative lebih kecil, dan melupakan masalah lain yang lebih besar. Dari sudut mataku, kulihat Rani pringas-pringis menahan geli, sambil mempermainkan kerudung pink-nya. Lucu sekali.
‘’Bukan, yang Ajeng maksudkan adalah penindasan yang terjadi pada saudara-saudara muslim kita di Negara Bosnia.’’ Aku berusaha menjelaskan dengan sabar.
Tampak Saleh manggut-manggut.
Ooooh, yang itu. Yajelas penindasan itu tidak bisa dibenarkan. Tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan keadilan’’, ujar Saleh optimis, lalu.
‘’’Ngomong-ngomong, Bosnia itu di mana, sih?’’
Tawa Rani meledak.
Duhhh, Mami!!!
***
Malamnya, waktu aku protes ke Mami, soal calon-calon itu, tanpa diduga, malah Mami yang marah.
‘’Lho, kamu itu gimana toh? Kata Bambang kamu maunya sama Saleh. Pas Mami temuin, kamu bilang bukan yang seperti itu yang kamu inginkan. Jadi sebenarnya, Saleh yang mana calon kamu itu?’’ Suara Mami meninggi.
Aku terhenyak. Bambang yang duduk di kursi makan tersenyum simpul. Awas, kamu de! Bisikku gemas.
‘’Bukan yang namanya Saleh, Mi. Ajeng ingin orang yang saleh, yang taat beribadah. Orang yang punya pemahaman paling tidak mendekati menyeluruhlah, tentang Islam. Yang Islamnya nggak cuma teori, tapi ada bukti. Yang nggak jelalatan memandang Ajeng terus-terusan dari ujung jilbab sampai kaos kaki, seperti hendak menawar barang dagangan. Ajeng tahu, usia Ajeng sudah jauh dari cukup. Ajeng juga pengen segera menikah. Perempuan mana sih, yang tidak ingin berkeluarga, dan punya anak?’’ lanjutku hampir menangis.
‘’Tapi, tolong. Jangan menyudutkan Ajeng. Tolong Mami bantu Ajeng agar bisa tetap sabar, tetap tawakkal sama Allah. Kita memang harus berusaha, tapi jangan memaksakan diri. Biar Ajeng mesti nunggu sampai tua, Ajeng siap. Daripada bersuamikan orang yang akhlaknya tidak Islami. Tolong Ajeng, Mi,tolong!’’ Kusaksikan mata Mami berkaca-kaca. Diraihnya aku ke dalam pelukannya. Berdua kami berisakan. Papi turut menghampiri, menepuk-nepuk pundakku. Rani dan Reno terdiam di kursinya.
‘’Maafin Mami, sayang.’’ suara Mami lirih, memelukku makin erat.
***
Kesibukanku menulis diary terhenti.
‘’Mbak Ajeng telepon tuh!’’ pekik Rano keras.
‘’Dari siapa? Kalau dari Anto Boy, Didin, Juned, atau Saleh, Mbak nggak mau terima!’’ balasku agak keras.
Hening, tidak ada panggilan lanjutan dari Rano. Aku lega.
Alhamdulillah, sejak kejadian malam itu, perlahan topik trend kami bergeser. Mami tidak lagi menyodorkan calon-calonnya, sebelum menanyakan kesediaanku. Beberapa Oom dan Tante yang datang, harus pulang dengan kecewa karena promosi dibatalkan. Aku masing ingin menenangkan diri dulu.
Kuraih pena. Dengan hati seringan kapas, aku mulai menulis:
Kepada Calon Suamiku.
Usiaku hari ini bertambah setahun lagi.
Tiga puluh tahun sudah. Alhamdulillah. Kuharap, tahun-tahun yang berlalu, meski memudarkan keremajaanku, namun tidak akan pernah memudarkan ghirah Islamiah yang ada. Mudah-mudahan aku bisa tetap istiqamah di jalan-Nya.
Ujian pasca sarjanaku sudah selesai. Sebentar lagi, satu embel-embel gelar kembali menghiasi namaku. Belum lama ini aku juga mengambil kursus jahit dan memasak. Dengan besar hati pula, Mami mesti mengakui, bahwa kemahirannya di dapur, kini sudah tersaingi.
Alhamdulillah, sekarang aku lebih bias berkonsentrasi untuk menulis, dan memberikan berbagai ceramah di beberapa kampus dan masjid. Baru sedikit itulah, yang bisa kulakukan sebagai perwujudan syukurku atas nikmat-Nya yang tak terhitung.
Calon suamiku.
Aku maklum, bila sampai detik ini kau belum juga hadir. Permasalahan yang menimpa kaum muslimin begitu banyak. Kesemuanya membentuk satu daftar panjang dalam agenda kita. Aku yakin ketidakhadiranmu semata-mata karena kesibukan dakwah yang ada. Satu kerja mulia, yang hanya sedikit orang terpanggil untuk ikut merasa bertanggung jawab. Insya Allah, hal itu akan membuat penantian ini seakan tidak pernah ada.
Calon suamiku.
Namun jika engkau memang disediakan untukku di dunia ini, bila kau sudah siap untuk menambah satu amanah lagi dalam kehidupan ini, yang akan menjadi nilai plus di hadapan Allah (semoga), maka
datanglah. Tak usah kau cemaskan soal kuliah yang belum selesai, atau pekerjaan yang masih sambilan. Insya Allah, iman akan menjawab segalanya. Percayakan semuanya pada Allah. Jika Dia senantiasa memberikan rizki, padahal kita tidak dalam keadaan jihad di jalan-Nya, lalu bagaimana mungkin Allah akan menelantarkan kita, sedangkan kita senantiasa berjihad di sabil-Nya?!
Banyaklah berdoa, Calon Suamiku, di manapun engkau berada. Insya Allah, doaku selalu menyertai usahamu.
Wassalam,
Adinda
NB: Ngomong-ngomong, nama kamu siapa,
sih?
‘’Syahril. Nama saya Syahril.’’
Deg! Aku tersentak. Pena yang kugenggam jatuh. Rasa-rasanya kudengar satu suara. Sedikit berjingkat, aku melangkah ke depan. Sebelum aku sempat menyibak tirai yang membatasi ruang makan dengan ruang tamu, kudengar suara Papi memanggilku.
‘’Ajeng!’’
Hampir aku terjatuh, saking tergesanya menghampiri beliau. Sekilas mataku menyapu bayangan seorang lelaki berkaca mata, yang berdiri tak jauh dari Papi, dengan wajah tertunduk, rapat ke dada. Di belakangnya, Bambang berdiri dengan senyum khasnya.
‘’Nah, Nak Syahril, kenalkan, ini yang namanya Ajeng. Puteri sulung Oom. Lho, kok malah nunduk?’’ suara ngebas Papi kembali terdengar.
Aku menoleh sesaat, yang dipanggil Syahril tetap menunduk.
‘’Ayo, salaman. Ini lho, Jeng puteranya Mas Wismoyo, sahabat Papi sejak jaman revolusi dulu, sekaligus Ass Dos-nya Bambang di FISIP. Baru lulus ya Nak?’’
Syahril mengangguk. Tapi, tetap tak ada uluran tangan.
‘’Assalamualaikum, Ajeng. Saya Syahril.’’
Masya Allah! Aku masih melongo, terpana.
‘’Insya Allah, hari ini saya akan bertaaruf dengan Ajeng. Kalau Ajeng setuju, khitbahnya bisa dilaksanakan besok. Sesudah itu mudah-mudahan kita bisa jihad bareng.’’
Agak samar kudengar kalimatnya yang terakhir. Kulihat Papi tersenyum lebar, melirikku.
‘’Apa, Jeng..khitbah? Ngelamar, ya??’’
Aku mengangguk pendek, tersipu. Tawa Papi makin lebar.
Aku masih terpana. Masya Allah, calon suamiku eng enge ng ups, apakah apakah ini, kamu???
* Pemenang Harapan I LMCPI Annida.
Sumber : Majalah Annida, No. 12 1415
H/1994 M
Jadikanlah Sabar dan Shalat Sebagai Penolongmu. Dan Sesungguhnya Yang Demikian itu Sungguh Berat, Kecuali Bagi Orang-Orang yang Khusyu [ Al Baqarah : 45 ]
Diposting oleh
Eka Chan
di
22.25
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
cerpen
Cuteki birthday wishes
Cari Blog Ini
Blog Archive
Pengikut
Labels
- artikel (1)
- cerpen (10)
- lirik (2)
- materi sekolah (11)
Diberdayakan oleh Blogger.
