Pages

Selasa, 17 Mei 2011

Faktor-Faktor Penyebab terjadinya Keanekaragaman Flora Dan Fauna di Indonesia

Keanekaragaman flora dan fauna di suatu wilayah tidak terlepas dari dukungan kondisi di wilayah itu. Ada tumbuhan yang hanya dapat tumbuh di daerah yang beriklim tropis, dimana banyak curah hujan dan sinar matahari, dan ada yang hanya dapat tumbuh di daerah yang dingin dan lembab. Kita tentu tidak pernah melihat pohon Meranti atau Anggrek tropik pada daerah dingin di daerah tundra. Dukungan kondisi suatu wilayah terhadap keberadaan flora dan fauna berupa faktor-faktor fisik (abiotik) dan faktor non fisik (biotik).Yang termasuk faktor fisik (abiotik) adalah iklim (suhu, kelembaban udara, angin), air, tanah, dan ketinggian, dan yang termasuk faktor non fisik (biotik) adalah manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan.

a. Iklim
Faktor iklim termasuk di dalamnya keadaan suhu, kelembaban udara dan angin sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan setiap mahluk di dunia. Faktor suhu udara berpengaruh terhadap berlangsungnya proses pertumbuhan fisik tumbuhan. Sinar matahari sangat diperlukan bagi tumbuhan hijau untuk proses fotosintesa. Kelembaban udara berpengaruh pula terhadap pertumbuhan fisik tumbuhan. Sedangkan angin berguna untuk proses penyerbukan. Faktor iklim yang berbeda-beda pada suatu wilayah menyebabkan jenis tumbuhan maupun hewannya juga berbeda.. Tanaman di daerah tropis, banyak jenisnya, subur dan selalu hijau sepanjang tahun karena bermodalkan curah hujan yang tinggi dan cukup sinar matahari.

b. Tanah
Tanah banyak mengandung unsur-unsur kimia yang diperlukan bagi pertumbuhan flora di dunia. Kadar kimiawi berpengaruh terhadap tingkat kesuburan tanah. Keadaan struktur tanah berpengaruh terhadap sirkulasi udara di dalam tanah sehingga memungkinkan akar tanaman dapat bernafas dengan baik. Keadaan tekstur tanah berpengaruh pada daya serap tanah terhadap air. Suhu tanah berpengaruh terhadap pertumbuhan akar serta kondisi air di dalam tanah.
Komposisi tanah umumnya terdiri dari bahan mineral anorganik (70%-90%), bahan organik (1%-15%), udara dan air (0-9%). Hal-hal di atas menunjukkan betapa pentingnya faktor tanah bagi pertumbuhan tanaman. Perbedaan jenis tanah menyebabkan perbedaan jenis dan keanekaragaman tumbuhan yang dapat hidup di suatu wilayah. Contohnya di Nusa Tenggara jenis hutannya adalah Sabana karena tanahnya yang kurang subur.

c. Air
Air mempunyai peranan yang penting bagi pertumbuhan tumbuhan karena dapat melarutkan dan membawa makanan yang diperlukan bagi tumbuhan dari dalam tanah. Adanya air tergantung dari curah hujan dan curah hujan sangat tergantung dari iklim di daerah yang bersangkutan. Jenis flora di suatu wilayah sangat berpengaruh pada banyaknya curah hujan di wilayah tersebut. Flora di daerah yang kurang curah hujannya keanekaragaman tumbuhannya kurang dibandingkan dengan flora di daerah yang banyak curah hujannya.

d. Tinggi rendahnya permukaan bumi
Faktor ketinggian permukaan bumi umumnya dilihat dari ketinggiannya dari permukaan laut (elevasi). Misalnya ketinggian tempat 1500 m berarti tempat tersebut berada pada 1500 m di atas permukaan laut. Semakin tinggi suatu daerah semakin dingin suhu di daerah tersebut. Demikian juga sebaliknya bila lebih rendah berarti suhu udara di daerah tersebut lebih panas. Setiap naik 100 meter suhu udara rata-rata turun sekitar 0,5 derajat Celcius. Jadi semakin rendah suatu daerah semakin panas daerah tersebut, dan sebaliknya semakin tinggi suatu daerah semakin dingin daerah tersebut. Oleh sebab itu ketinggian permukaan bumi besar pengaruhnya terhadap jenis dan persebaran tumbuhan. Daerah yang suhu udaranya lembab, basah di daerah tropis, tanamannya lebih subur dari pada daerah yang suhunya panas dan kering.




e. Manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan
Manusia mampu mengubah lingkungan untuk memenuhi kebutuhan tertentu. Misalnya daerah hutan diubah menjadi daerah pertanian, perkebunan atau perumahan dengan melakukan penebangan, reboisasi,.atau pemupukan. Manusia dapat menyebarkan tumbuhan dari suatu tempat ke tempat lainnya. Selain itu manusia juga mampu mempengaruhi kehidupan fauna di suatu tempat dengan melakukan perlindungan atau perburuan binatang. Hal ini menunjukan bahwa faktor manusia berpengaruh terhadap kehidupan flora dan fauna di dunia ini. Selain itu faktor hewan juga memiliki peranan terhadap penyebaran tumbuhan flora.
Misalnya serangga dalam proses penyerbukan, kelelawar, burung, tupai membantu dalam penyebaran biji tumbuhan. Peranan faktor tumbuh-tumbuhan adalah untuk menyuburkan tanah. Tanah yang subur memungkinkan terjadi perkembangan kehidupan tumbuh-tumbuhan dan juga mempengaruhi kehidupan faunanya. Contohnya bakteri saprophit merupakan jenis tumbuhan mikro yang membantu penghancuran sampah-sampah di tanah sehingga dapat menyuburkkan tanah.

Radiasi Nuklir Ternyata Lebih Ramah dibanding Radiasi Alam

Jika kita berasumsi secara bebas dengan sebuah pertanyaan; jumlah korban mana yang paling banyak diantara jumlah orang yang meninggal karena radiasi nuklir dengan orang yang meninggal karena merokok?. Seandainya anda pakar kesehatan, tentu anda akan menjawab secara meyakinkan bahwa orang yang meninggal karena merokok, lebih banyak jumlahnya. Dan itu fakta. Tetapi dikarenakan media-media informasi seperti TV, surat kabar, ataupun internet, lebih banyak menyuguhkan negatifnya nuklir, sehingga sering mempengaruhi opini publik.
Anda bayangkan saja, jika anda disuguhkan suatu berita tentang peristiwa Hiroshima dan Nagasaki ataupun peristiwa Tragedi Chernobyl yang merengut nyawa ribuan orang sekaligus. Tentu anda akan menyatakan nuklir sangat berbahaya dan berasumsi jumlah korban nukilr lebih banyak karena korbannya secara massal. Hal ini jauh berbeda dengan korban merokok, tentu kita tidak pernah mendengar adanya korban massal akibat keracunan asap rokok. Yang ada korban akibat merokok berjatuhan disekitar kita, yang terkadang tidak kita sadari. Berdasarkan data World Health Organization (WHO) diperkirakan 4,9 juta orang meninggal dunia tiap tahunnya. Umumnya vonis akhir secara kesehatan bagi korban merokok ini adalah karena mengidap penyakit kanker.
Deskripsi diatas adalah salah satu contoh bahwa radiasi alam lebih berbahaya dari radiasi nuklir? kok bisa? Sebenarnya tanpa disadari oleh para perokok, bahwa selama mereka merokok, mereka telah terpapar radiasi salah satu gas radioaktif alam yaitu gas radon yang terdapat dalam daun tembakau. Radioaktif alam ini berasal dari pupuk fospat (P) yang dipupukkan pada daun tembakau sehingga gas radon terakumulasi di dalam tembakau. Sehingga perokok akan mudah terkena kanker paru-paru karena radiasi dari gas radon tersebut dapat masuk ke dalam paru-paru.
Secara umum gas radon ini lebih banyak terserap oleh para penambang bahan galian, karena pekerja tambang secara langsung menghirup gas radon secara berlebihan. Menurut perkiraan resiko kematian akibat gas radon mencapai 0,005%. Di Amerika Serikat misalnya dari sekitar 200 juta penduduknya diperkirakan ada 10-20 ribu orang meninggal karena menghirup gas radon.
Di Indonesia sendiri diketahui beberapa bahan bangunan seperti asbes dan gypsum yang banyak digunakan sebagai atap, semen, dan lain sebagainya mengandung bahan radioaktif. Di Swedia yang beriklim dingin sehingga rumah-rumah dibuat dari tembok yang tebal dengan ventilasi yang sedikit. Karena itu penumpukkan gas radon dalam rumah menjadi berlebih sehingga ada beberapa rumah yang mengandung unsur radiokatif alam seperti U238, Th232, dan K40 di atas batas kewajaran. Kadar gas radon dalam rumah tersebut mencapai 260 Bq/m3 udara, padahal kadar wajar di udara adalah 10 Bq/m3.
Selain radiasi gas radon, beberapa radiasi alam yang lain adalah radiasi kosmik dan sinar UVdari lampu neon. Bila dibandingkan dengan radiasi alam ini, bahaya radiasi nuklir jauh lebih kecil dari radiasi alam yang secara wajar kita terima. Hal ini dikarenakan intensitas kita terpapar oleh radiasi alam hampir setiap hari sedangkan radiasi nuklir hanya terjadi apabila terjadi kebocoran reaktor. Tetapi dengan kemajuan teknologi kemungkinan kebocoran itu sangat kecil karena telah dibuatnya keselamatan reaktor yang berlipat-lipat. Selain itu pula, radiasi nuklir buatan diuntungkan dengan waktu paruh dari sumber radiasi yang singkat, diantaranya Ce137, Co60, Xe, dan I131. Radiasi buatan ini mempunyai waktu paruh yang pendek dan zat radiokatif ini dapat dinyatakan habis jika telah 10 kali waktu paruhnya. Semisal waktu paruh dari I131 adalah 8 hari, jadi apabila terjadi kebocoran reaktor, maka reaksi yodium ini akan habis dalam waktu 80 hari.
Efek Radiasi
Efek radiasi secara umum bagi tubuh manusia dapat dibagi dalam dua kelompok yaitu:
1. Efek Stokastik
Efek stokastik yaitu efek radiasi yang kemunculannya pada individu tidak bisa dipastikan dengan faktor 10-5 (dari 100.000 orang diperkirakan yang terkena hanya 1 orang). Efek dari radiasi ini dikatakan stokastik jika radiasi yang terserap oleh tubuh dalam dosis rendah yaitu 0,25-1.000 mSv. Misalnya saja pada alat diagnosa gondok, penerimaan radiasi rendah ini diperbolehkan bukan hanya karena aman namun justru menguntungkan.
2. Efek Deterministik
Efek deterministik yaitu efek radiasi yang pasti muncul bila jaringan tubuh terkena paparan radiasi pengionan. Efek determiristik dapat terjadi bila dosis radiasi yang diterima telah lebih dari ambang batas seharusnya yaitu dibawah 3.000 mSv. Bila radiasi yang diterima diantara 3.000-6.000 mSv maka akan menyebabkan kulit memerah atau kerontokan rambut. 6.000-12.000 mSv akan menyebabkan perasaan mual, nafsu makan berkurang, lesu, lemah, demam, keringat yang berlebihan hingga menyebabkan shock yang beberapa saat akan timbul keluhan yang lebih parah yaitu nyeri perut, rambut rontok, bahkan kematian.
Tetapi kemungkinan efek deterministik ini sangat kecil mengenai kita, dikarenakan berdasarkan survei lembaga penelitian yang menangani nuklir, radiasi nuklir hanya sebesar 0.08 mSv.
Untuk pekerja di reaktor nuklir untuk menangai efek radiasi ini agar tidak sampai ke tubuh individu, terdapat tiga dasar proteksi radiasi (keselamatan radiasi). Yaitu pengaturan waktu kerja dengan radiasi, pengaturan jarak dengan sumber radiasi, dan penggunaan bahan pelindung radiasi. Semakin pendek waktu yang digunakan untuk berada di medan radiasi, semakin jauh dari radiasi dan semakin tebal bahan pelindung, akan memperkecil dosis radiasi yang diterima.
Penutup
Dari penjelasan di atas, dapatlah kita ketahui bahwa nuklir bukanlah momok yang mengerikan bagi kita. Berbagai hal yang kita takutkan ternyata tidak seseram yang dibayangkan. Bahkan dapat dikatakan bahwa teknologi nuklir adalah teknologi ramah lingkungan dan berbagai manfaat dapat kita peroleh dari nuklir ini. Di sini pemerintah dan masyarakat harus mencoba untuk memahami nuklir secara lebih lagi. Karena boleh jadi, perbedaan persepsi dan pertentangan opini tentang pengembangan nuklir di Indonesia, yang selama ini terjadi, boleh jadi dikarenakan karena kita tidak tahu dan terlalu trauma dengan tragedi nuklir masa lalu.
DAFTAR PUSTAKA
• Akhadi, Muklis, 1997. Pengantar Teknologi Nuklir. PT. Rineka Cipta, Jakarta
• Batan Bandung. Pustek Nuklir Bahan dan Radiometri. (www.batan-bdg.go.id)
• Batan Serpong. Nuklir, Radiasi dan Pengendaliannya. (serpong6.batan.go.id)
• Laporan Analisis Keselamatan (LAK) Reaktor G. A Siwabessy
• Hendriyanto Hadithjayono. 2005. Keselamatan Reaktor Riset Baru dan Yang Telah Ada Dalam Kaitan Dengan Peristiwa Eksternal. Dokumen IAEA Safety Report Series No. 41. Pusat Pendidikan dan Pelatihan BATAN
• Liya Nurhayati. 2004. Nuklir, Inti Atom Tanpa Kulit. Artikel pada Majalah Natural Edisi IX/Tahun V/Maret 2004. FMIPA Universitas Lampung. Bandar Lampung
• M. Nur. 2007. Reaktor Nuklir, Dari Riset Hingga Bom Atom. Situs Surat Kabar Pikiran Rakyat
• Rohadi Awaludin. 2004. Mengelas Molekul Menggunakan Radiasi Nuklir. Kompas 21 April 2004 (www.fisikanet.lipi.go.id)
• Sinly Evan Putra. 2006. Nuklir. Situs Web Kimia Indonesia
• Sinly Evan Putra. 2005. Rokok, Laboratorium Reaksi Kimia Berbahaya. Situs Web Kimia Indonesia

Penulis: Sinly Evan Putra
Dikutip dari : Situs Kimia Indonesia chem-is-try.org

KEMILAU CAHAYA CINTA

Penulis: Adi Zamzam

Bukan karena wajah aku mencintaimu, Cinta. Bukan pula karena rasa yang menyayat ketika raba-rabamu tersungkur saat tersandung sesuatu.
“Mas Aam cuma kasihan kepada saya.”
Kubilang sekali lagi, tidak, ini bukanlah rasa iba.
“Biasanya memang seperti itu. Dari iba, mereka lantas menyukai saya, mau melakukan apa saja demi menolong saya.”
Tapi aku bukan mereka, Cinta. Aku pengecualian dari mereka.
“Jangan begitu, Mas.”
Kenapa?
“Aku tak sebanding dengan Mas. Yang lainnya kan banyak.”
Tak sebanding? Apa yang membuatmu merasa tak sebanding?
“Apa Mas tak lihat bagaimana diriku ini? Carilah orang yang bisa memuji ketampanan Mas. Carilah orang yang tahu arah dan tahu jalan.”
Sudah kubilang cintaku bukan karena wajah, Cinta. Bukan pula jika kau memuji segalaku.
“Lantas karena apa, Mas?”
Justru karena kau tahu arah dan tahu jalan.
* * *

Sebelum cahaya bangun, aku tahu kau sudah mendahuluinya. Kau buka harimu dengan sekeranjang do’a dalam tahajjud dan dzikir panjang jelang fajar. Setelah cahaya bangkit, kau pun tak sungkan mengangkat langkah meski tertatih dari Panti menuju toko bunga Mas Catur. Kau layani para pelanggan dengan senyum indahmu. Pertamakali melihatmu, sungguh, aku begitu penasaran bagaimana caramu melayaniku nanti.
Ternyata kau melihat dengan bau. Aku memujimu dengan hati ketika kau dengan mudah memilihkan mawar, untai melati, lili, aster, kembang kertas, padahal kau tak pernah melihat rupa keindahan mereka. Bahkan yang belum berbunga pun kau bisa melihatnya dengan tangan.
“Gampang kok Mas. Mas Catur lah yang mengajariku. Kalau mawar kan punya duri. Daunnya juga memiliki duri-duri halus. Kembang kertas daunnya agak kasar, dan batangnya keras. Lidah buaya jelas paling mudah dikenali. Semuanya memiliki bentuk dan ciri khas masing-masing, Mas. Persis seperti manusia, hehe…”
Benarkah itu? Aku lumayan terkejut ketika ternyata kau memang bisa menciri bau manusia. Kau bisa mencium bau kedatanganku ketika ketiga kalinya aku menyambangi toko bunga ini.
“Itu yang paling susah, Mas. Butuh bertahun-tahun aku memepelajari ini. Membedakan kaki kiri dan kaki kanan. Menghafal gerak-gerik bunyi. Tapi aku masih sering salah-salah kok. Kebetulan saja langkah Mas Aam mudah dikenali. Maaf, sepertinya… kaki Mas, cacat?”
Entah mengapa aku tak tersinggung saat kau menyematkan kata terkutuk itu untukku. Kau harus tahu, Cinta, masa-masa awal setelah kecelakaan itu, kupikir duniaku kiamat sudah. Amri Anom yang jago sepak bola dan hobi ngebut di jalanan sudah tamat karena kaki kanannya yang begitu lincah harus diamputasi. Berbilang bulan aku marah kepada takdir. Berbulan-bulan aku tak mau menjumpai cahaya. Bahkan sekolah pun terpaksa kuhentikan. Buat apa? Apa ada klub sepak bola atau perusahaan hebat yang akan sudi melirik si kaki satu?
Hahaha… kau boleh tertawa saat kuceritakan bahwa aku pernah membanting-banting kaki palsuku ini saat pertamakali berkenalan dengannya. Hah, apa indahnya hidup dengan sebelah kaki palsu? Celana panjang akhirnya menjadi tempat persembunyianku.
“Lalu, bagaimana ceritanya ketika akhirnya Mas bisa menerima keadaan buruk itu?”
Menerima? Bahkan untuk sampai ke toko ini pun karena terpaksa. Lili, adikku, bercerita tentangmu. Mulanya aku tak percaya dan menganggap Lili hanya mengarang cerita saja—apalagi dia memang tukang ngarang cerita. Musibahku saja disulap jadi cerpen! Saat dia menunjukkan majalah yang memuat takdir terkutukku, langsung kusobek-sobek! Dia tak menangis. Lalu dia pun menceritakan dirimu, Cinta. Sosok yang katanya selalu memberinya inspirasi tak bertepi ketika imajinasinya mengalami kemarau. Lili bilang sosokmu tak jauh dari rumah kami.
“Iya, Mas. Aku memang baru tiga tahun bekerja di toko bunga Mas Catur ini. Wah, itu berarti berbarengan dengan musibah Mas itu ya?”
Iya, Cinta. Aku butuh tiga tahun untuk berani mengakui nasib. Sedangkan kau?
“Aku telah cacat sejak lahir, Mas. Tapi Bapak pernah cerita bahwa aku pernah diobatkan ke mana-mana. Tawakkal adalah obat mujarab, Mas.”
Cinta, apakah salah kalau aku berpikir bahwa Dia egois?
“Dia memang egois, Mas. Tapi keegoisan-Nya selalu untuk kebaikan kta. Adakah makhluk yang sempurna, Mas? Kecacatan hanyalah petunjuk untuk kita bisa melihat Kesempurnaan-Nya. Agar kita juga bisa saling mensyukuri apa yang sudah diberi.”
Saat kau meraba-raba Braille terpatah-patah mengeja Al Qur’an, sungguh wajahku tertampar malu.
“Aku ingat sebuah surah yang mungkin bisa jadi penghibur Mas Aam.”
Iya, hancurkanlah batu dalam dadaku ini, Cinta.
“Surah At Tiin, Mas. Kecacatan fisik itu sebenarnya tak ada. Yang ada hanyalah amal perbuatan kita, karena semua itulah yang dilihat-Nya.”
Itulah kemilau cahayamu, Cinta. Takkah kau sadari itu? Bukan, rasaku ini bukan serupa rasa iba, tapi benar-benar karena terpikat cahayamu itu. Aku ingin, pendampingku kelak, adalah dirimu yang memiliki cahaya itu. Agar aku tak sering-sering tersesat, agar anak-anakku memiliki penuntun, agar hari-hari dalam rumahku selalu benderang.
Aku tak sedang umbar bualan, Cinta. Iya, sekarang aku memang masih seorang pengangguran, tak memiliki penopang hidup yang kuat. Tapi, kemilau cahayamulah yang akan aku jadikan penyemangat. Segera, setelah aku berhasil mengumpulkan semua persyaratannya, akan kunobatkan kau sebagai ratu istanaku.
“Landasilah semua rasamu hanya karena-Nya, Mas. Agar Mas tak terlalu kecewa jika ada yang tak sesuai harapan.”
Betapa buncahnya hatiku mendengar kalimatmu itu, Cinta.
* * *

Tiba-tiba saja aku tak menemukanmu di toko bunga itu lagi. Kehawatiran berkecambah menjadi ketakutan. Jangan-jangan kau telah disunting si perindu cahaya yang lain!
“Kurang lebih sebulan yang lalu dia bilang tak enak badan, Mas,” jawab Mas Catur. “ Tapi sampai hari ini dia tak pernah datang lagi. Bahkan dia hanya menitip kata sakit kepada orang Panti.”
Kecelakaan kah? Hatiku sungguh dihantui cemas.
“Aku tak tahu, Mas. Tapi orang Panti bilang, Nur pulang ke rumah orang tuanya di kampung.”
Pulang? Kenapa, Cinta? Janjiku dua bulan silam bukanlah bualan. Ketahuilah, sebulan ini aku sudah hidup dari gajiku sebagai penjual buah di ibukota.
Demi rasaku ini, akan kucari bayangmu, Cinta. Meski bapak ibuku melarang. Meski Panti bilang tak punya alamat lengkapmu.
* * *
Sebuah rumah mungil yang tak bisa disebut layak. Itukah istanamu, Cinta? Menyempil di sudut sunyi sebuah desa yang amat miskin. Seorang lelaki berumur, langkahnya terpincang-pincang, menyambut kedatanganku dengan penuh hormat. Aduh, aku begitu trenyuh saat bapakmu berkali menyuguhkan kata terima kasih karena aku telah sudi mampir ke gubug reotnya. Beliau belum tahu bahwa aku adalah gelap yang ingin membasuh diri dari warna hitam dengan kemilau cahaya putrinya.
“Anak ini, ada perlu apa dengan Nur?”
“Dia tak pernah cerita tentang saya kepada Bapak? Nama saya Aam, Pak. Kami teman dekat sewaktu Nur masih bekerja di toko bunga.”
Lelaki itu menggeleng. Ah, bodohnya aku. Buat apa Cinta menceritakan semua bualanku. Ia pasti masih menganggapku tak serius. “Nur di mana, Pak?” cecarku karena tak juga kulihat kelebat bayangnya.
Wajah lelaki itu tiba-tiba tersaput mendung, “Ada, sebentar.”
Petir itu menyambar tanpa didahului gerimis. Kulihat tubuhmu tergeletak bak kain lusuh teronggok tak berbentuk. Meski terhalang selimut, tapi pandang mataku bisa menembusnya, dan lalu menggambar dalam otakku bahwa kedua kakimu…bersilang, bengkok?
“Aku tak tahu kenapa akhirnya jadi seperti itu, Mas. Padahal mulanya aku cuma lemas dan kehilangan daya. Bagaimana Mas bisa sampai ke sini? Padahal Mas Catur dan Panti sudah kuwanti-wanti untuk jaga mulut.”
Kau masih juga memamerkan seleret senyum. Apa aku harus menghiburmu? Kau seperti tak butuh dihibur? Entah makhluk macam apa kau itu. Entah berisi apa hatimu itu.
“Terserah Allah saja, Mas. Kita tinggal menerimanya. Kata dokter, aku punya kelainan syaraf. Mula-mula penyakit itu mengambil mataku, lalu jari-jemariku, dan sekarang kakiku, Mas.”
Kau masih juga terlihat seperti tanpa beban, seolah semua itu bukan apa-apa bagimu. Itulah yang membuatku jatuh hati padamu, Cinta. Jiwa sepertimulah yang ingin kujadikan sandaran hati.
“Jangan, Mas. Aku telah rela menerima keadaan ini. Tapi aku tak rela menerima rasa Mas itu.”
Kenapa? Kau merasa rendah diri setelah semua ini?
“Aku hanya akan menjadi beban Mas Aam. Apa Mas tak lihat keadaanku ini? Jangan hanya karena ingin memegang ucapan, ingin dibilang jantan, Mas lantas berbuat konyol. Itu namanya Mas bunuh diri.”
Baiklah. Akan kubuktikan keseriusanku. Akan kubuktikan bahwa aku tidak sedang bunuh diri. Aku sadar sesadar-sadarnya. Aku akan pindah kerja ke tokonya Mas Catur. Biarlah kecil gaji, asal tiap minggu aku bisa menengokmu di sini.
* * *

Apa yang terjadi denganmu, Cinta? Tiba-tiba saja kau terlihat selalu berlinang air mata.
“Pulanglah, Mas. Jangan buang waktu berhargamu.”
Bukankah itu hakku, Cinta? Mau kukemanakan rasaku ini, bukankah itu hakku?
“Emakku dulu juga mati karena penyakit ini. Apa Mas tega jika salah satu atau bahkan semua keturunan Mas menuruniku?”
Hei, kau telah buruk sangka kepada-Nya, Cinta! Apa kau tak percaya keajaiban? Mas Paeno, yang satu panti denganmu dulu, bukankah istrinya juga seorang tunanetra? Bukankah kau juga mengenal kedua anak mereka yang rajin-rajin dan sangat berbakti itu? Mereka semua normal, Cinta! Tak ada yang menuruni kedua orang tuanya! Ada apa dengan bening hatimu?
“Tapi penyakitku beda, Mas. Aku mendapatkannya dari emakku. Dan aku juga akan mewariskannya kelak. Itulah kenapa aku menolak cinta Mas Aam sedari awal.”
Hahaha… berani sekali kau mendahului Tuhan.
“Tidak, Mas. Allah punya aturan-aturan sunnatullah yang tak boleh kita abaikan.”
Kau tak percaya do’a?
“Percaya. Bahkan setiap hari aku berdo’a agar Mas tak memperturutkan nafsu Mas itu.”
Cinta!!
“Ya, Mas. Itulah yang membuatku sering menangis. Aku telah menyusahkan orang lain. Kuharap Mas mau memaafkan semua kekhilafanku.”
Adakah orang yang tak menyusahkan orang lain, Cinta?
“Sudahlah, Mas.”
* * *

Setelah kepergianmu, sering aku berpanjang-panjang pikir. Apa guna Tuhan menciptakan keberadaanmu? Iya, tentu saja kau adalah cahaya yang menjadi lantaran aku menuju jalan terang. Kau harus tahu, sekarang aku begitu terobsesi dengan hawa yang setidaknya memiliki kemilau cahaya sepertimu. Namun, ada satu tanya yang masih berkeliaran tak mau tenang dalam kepalaku. Apa guna Tuhan membuat umur pendek buatmu?
“Dia memang egois, Mas. Tapi keegoisan-Nya selalu untuk kebaikan kita…” kata-katamu terus bergaung menentang keraguanku.
* * *


Kalinyamatan, Januari 2011.

Kotaku Hilang

Penulis :Irhayati Harun

Hari ini aku kembali mengantri untuk berobat. Batuk yang disertai sesak nafas kembali menggerogotiku. Dalam bulan ini sudah 4 kali penyakit alergiku kumat. Sejak aku memutuskan untuk pergi dan pulang bekerja mengendarai sepeda motor. Debu dan polusi yang selalu mengepungku selama dalam perjalanan, tak dapat kuhindarkan setiap harinya. Karena debu yang selalu kuhirup, batuk pun datang menyerang tanpa ampun. Karena batuk tak mau berhenti, sesak nafaspun mengikuti. Benar-benar tersiksa rasanya. Mengalami batuk yang disertai sulit bernafas sekaligus. Mau tak mau aku pun menyerah untuk segera mendatangi rumah sakit. Meskipun aku tak suka dengan yang namanya rumah sakit. Sebab dipenuhi oleh aroma obat dan orang-orang dengan berbagai macam penyakit yang mereka bawa.
“Sebaiknya Anda menutupi hidung dengan sapu tangan selama mengendarai sepeda motor. Agar debu dan polusi tak langsung terhirup,”ucap dokter paruh baya sambil menuliskan sebuah resep untukku.
“Baiklah Dok,” jawabku sambil terbatuk-batuk. Menderita sekali rasanya bila batuk terus bersahutan-sahutan. Tenggorokan sakit dan gatal. Belum lagi perut sakit karena ikut tertarik ketika batuk. Benar-benar menyebalkan!
Akhirnya aku pulang setelah selesai menebus obat. Kuputuskan untuk naik taxi saja. Sepeda motorku sengaja kutinggal di kontrakan. Dalam keadaan sakit begini, mengendarai sepeda motor bukanlah pilihan yang tepat. Selain badan lemas, bisa-bisa penyakit alergiku bertambah parah. Aku sudah tak sabar bisa sampai dirumah. Untuk segera minum obat dan beristirahat.

Aku kembali pergi bekerja seperti biasanya. Badanku kini sudah lebih baikkan. Kutempuh perjalanan ke kantor dengan sepeda motor seperti biasanya. Namun aku merasa ada yang tak biasa! Biasanya aku selalu dikepung kemacetan. Tapi kali ini tidak. Benar-benar ajaib! Ternyata setelah kusadari, tak banyak kendaraan yang lewat di jalan yang kulalui. Dan yang lebih mengejutkan, satupun tak ada kendaraan roda empat di jalan ini. Semuanya diisi oleh kendaraan roda dua seperti yang kunaiki.
Aku pun melirik ke kanan dan kekiri. Benar! Hanya kendaraan roda dua yang lewat di jalan ini. Pantes saja perjalanan ke kantor berjalan mulus. Dalam hati, aku menjerit kegirangan. Itu artinya aku tak bete lagi selama di jalan karena terkena macet selama berjam-jam. Dan tentu saja tak akan terlambat lagi sampai di kantor. Ternyata kendaraan roda empat dan roda dua tak disatukan dalam satu jalan, tapi sendiri-sendiri. Jadi roda dua hanya boleh lewat di jalan yang khusus untuk roda dua. Begitu juga dengan kendaraan roda empat. Hanya boleh lewat di jalan yang khusus untuk roda empat. Bahkan ada jalan khusus untuk para pejalan kaki.
Aku benar-benar merasa surprise menghadapi perubahan kota yang menguntungkan bagi pengguna jalan ini. Tak hanya sampai disitu perubahan yang kurasakan. Aku dapati tak secuil pun sampah tercecer di pinggir jalan. Tampaknya orang-orang tak lagi berani buang sampah sembarangan. Memang di sepanjang jalan tertulis besar-besar “Bagi siapa saja yang berani membuang sampah sembarangan, akan dikenai denda.“ Bagus juga ada sanksi seperti ini, pikirku. Jadi kota terlihat benar-benar bersih dari sampah setiap harinya. Bahkan debu dan asap knalpot tak lagi tercium oleh hidungku. Udara segar benar-benar bisa kurasakan melewati paru-paruku. Kota benar-benar murni dari polusi. Bagaikan negara Switzerland yang terkenal akan kebersihan kotanya. Aku begitu bahagia membayangkan akan mengalami hal ini setiap harinya.
Aku tak perlu lagi memakai penutup hidung seperti saran dokter. Penyakit alergi tak akan lagi mengganggu hari-hariku. Aku susuri jalanan sambil menatap gedung-gedung yang tertata indah di sepanjang jalan. Mal-mal tak lagi berdiri seenaknya di tengah kota. Kini Mal-mal itu dibangun di daerah yang sudah disediakan khusus yaitu agak ke pinggiran kota. Tata kota yang benar-benar apik dimataku. Tumbuhan hijau tumbuh di mana-mana. Semakin menambah kesegaran udara dan pandangan mata kala melihatnya.
Aku juga tak menemui pengemis dan pengamen jalanan yang berkeliaran. Biasanya di setiap lampu merah, selalu ada pengamen dan pengemis yang meminta-meminta uang pada pengendara jalan. Betapa nyamannya mengendarai sepeda motor saat pergi ke kantor. Sebab kini kota benar-benar bersih dari gangguan apa pun. Apalagi para pengendara terlihat lebih tertib dari biasanya. Tak lagi ada yang suka menyalip dan menerjang lampu merah seenaknya. Hmmmm…aku menarik nafas lega dalam-dalam.

Tiba–tiba kuputar haluan motorku. Pagi ini, aku tak ingin langsung pergi ke kantor. Aku hendak mengitari kota dulu sepuasnya. Kota baruku yang kini kucintai. Aku ingin melihat seluruh perubahan baru yang ada di setiap sisi kota. Aku ingin menikmati keindahann dan kenyamanannya setiap hari. Sebelum memutuskan untuk berkeliling kota, kuputuskan untuk singgah sebentar ke sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli makanan dan minuman ringan. Sebagai pengisi perut sebelum melakukan survei kelilingku. Begitu sampai di dalam Mall, aku segera memilih makanan dan minuman yang kubutuhkan. Tapi begitu sampai dikasir aku kalut. Tiba-tiba saja dompetku sudah tak ada di saku celana belakang.
Disaat aku tengah sibuk mencari, tiba-tiba seorang pria menepuk pundakku.
“Ini dompet yang Anda cari?”
“Oh, iya betul. Terima kasih ya. Untung Saudara yang sudah menemukan dompet saya. Kalau orang lain mungkin….”
“Mungkin sudah hilang? Begitu kan maksud Anda? Apa Anda belum tahu bahwa para pencuri dan perampok di kota ini sudah tak ada lagi yang berani beraksi.”
“Oh ya? Bagaimana mungkin? Setahu saya, pencuri dan perampok itu pasti ada di negara manapun. Bahkan di negara kaya sekalipun. Hanya saja jumlahnya tak sebanyak di negara berkembang. Yang notabene masih banyak terdapat pengangguran,” jelasku antusias.
“Tapi negara kita sudah beda. Tak lagi seperti dulu. Pengamanan sudah semakin canggih. Kamu lihat, disetiap sudut ruangan terdapat alat yang bisa merekam setiap aksi kejahatan. Begitu ada yang mencoba mencuri atau berbuat yang tidak baik, mesin canggih itu akan langsung berbunyi.”
“Wahhh, benar-benar canggih,” aku menjawab takjub.
“Iya. Jadi mulai sekarang, Anda tak perlu lagi takut. Kota ini benar-benar aman dari tindakan kriminal.”
“Oh ya, Kalau boleh tahu saudara siapa yah? Kok bisa paham sampe sedetil itu tentang keamanan kota ini,” tanyaku heran.


Kenalkan! Saya salah satu petugas keamanan kota yang baru. Tugas saya setiap hari memantau keadaan kota ini. Untuk memastikan semuanya dalam keadaan baik-baik saja.,” lelaki berbadan tinggi dan tegap itu memperkenalkan dirinya sambil tersenyum ramah. Aku pun terperangah setengah tak percaya. Benar-benar sebuah perubahan yang besar telah terjadi di kotaku. Aku pun membalas salam perkenalannya sebelum akhirnya pamit untuk pergi. Kudapati para wanita memakai perhiasan berupa kalung emas dan gelang dengan berani. Tak lagi takut dijambret seperti dulu karena keamanan sudah terjamin. Bahkan ada yang nekat memakai semua perhiasan di tubuhnya bak toko emas berjalan. Ck…ck..ck…benar-benar bebas mereka sekarang. Aku geleng-geleng kepala karena takjub.
Mulailah kususuri kota dengan penuh semangat. Aku akan menyaksikan setiap jengkal dari perubahan kotaku. Disaat melewati got-got, aku terperangah karena air mengalir dengan derasnya. Tak lagi mampet karena terhalang oleh sampah apapun. Bahkan air got yang dulu berwarna hitam pekat, kini berubah warna menjadi bening seperti air pam. Disepanjang jalan yang kulewati, terlihat para cleaning servis sedang asyik menggunakan sebuah mesin yang bisa membersihkan sampah dan menghisap debu dalam sekejap. Tak lagi manual seperti dulu. Benar-benar menghemat tenaga dan waktu! Aku terkagum-kagum melihat mesin canggih di tangan cleaning servis di depanku.
Aku berhenti dan mendekati petugas kebersihan yang tengah bekerja tersebut.
“Pak, sejak kapan membersihkan kota menggunakan mesin seperti ini?” tanyaku penasaran.
“Memangnya Adik bukan orang sini ya? Kok baru tahu?” jawab lelaki tua itu sambil menyelesaikan pekerjaannya.
“Saya memang bukan orang sini kok Pak. Saya pendatang dari gunung kidul Yogya,” jawabku sedikit gugup. Aku bingung menjawab pertanyaan bapak tua ini, bagaimana harus menjawabnya. Padahal aku sudah menetap dikota ini. Meski aslinya hanyalah seorang pendatang. Aku sendiri heran mengapa baru tahu sekarang? Padahal sudah 5 tahun lebih aku mengontrak rumah di kota ini.
“Benar-benar sudah banyak yang berubah yah Pak. Saluran air yang dulu sering mampet aja sekarang jalannya begitu lancar.”
“Makanya Dik, kalau hujan, kota ini tak pernah lagi dilanda banjir seperti dulu. Soalnya sudah ada petugas kota yang kerjanya mensurvei dan mengawasi kebersihan kota setiap harinya. Lagi-lagi aku bingung mendengar penjelasan bapak tua ini. Sebenarnya aku berada di kota mana sih? Kok semuanya terasa baru bagiku. Meski sangat senang dengan perubahan besaran-besaran dari kota ini, tak urung pikiranku dihujani oleh seribu pertanyaan.
Ditengah kebingungan, kuputuskan untuk segera pamit dan berlalu dari hadapan bapak tua tukang bersih kota itu. Segera kulanjutkan perjalananku. Lebih baik aku pulang ke kontrakan. Untuk memastikan apakah benar kontrakanku masih ada di kota ini. Jangan –jangan aku sudah terlempar ke suatu tempat oleh mesin waktu seperti dalam film yang pernah kutonton. Lagi-lagi aku bingung harus lewat jalan yang mana. Sebab tiba-tiba saja jalan yang biasa kulalui sudah banyak berubah. Tapi aku tetap mengendarai sepeda motorku. Meski sulit menemukan rumah kontrakanku yang dulu, tetap kunikmati pencarianku sambil melihat-lihat keindahan sekitar.
Setelah berjam-jam muter-muter kota, tiba-tiba aku sampai di sebuah pemukiman penduduk. Di pintu gerbang pemukiman terdapat pos satpam yang dilengkapi dengan alat deteksi keamanan yang canggih. Pemukiman terlihat begitu asri, karena disetiap halaman rumah, terdapat aneka tanaman hias dan pepohonan yang buahnya bergelantungan di pinggir pagar. Tak satupun rumah yang tak ditanami oleh tumbuhan hijau.
Penduduknya juga ramah tamah. Saat aku melihat-lihat, mereka melempar senyum padaku. Bahkan menawarkan diriku agar mau singgah di rumah mereka meski hanya sebentar. Aku pun tak kuasa menolak. Dan segera bergabung dengan sesama warga kompleks yang terlihat sangat akrab satu sama lain. Tak kutemukan kesan cuek orang kota seperti umumnya. Yaitu “siapa lu siapa gue”…Aku tak merasa terasing berada ditengah-tengah mereka. Meski mereka orang yang baru kukenal. Sampai akhirnya aku pulang dengan rasa berat, mengingat hari sudah beranjak sore.
Kembali kupacu sepeda motorku. Berharap bisa menemukan rumah kontrakanku yang dulu. Rasa lelah dan mengantuk menyerangku. Maklumlah! Hampir seharian kukitari kota tanpa rasa bosan. Tiba-tiba ada sebuah kendaraan melintas di depanku. Karena tak lagi konsentrasi mengendarai, motorku pun jatuh menabrak sebatang pohon. Duk! Saat aku mencoba menghindari sebuah sepeda didepanku. Namuan secara bersamaan, aku terbangun dari tidurku. Kupegangi kepalaku yang terasa sakit sekali, sebab terbentur ujung tempat tidur.
Akh, ternyata hanya sebuah mimpi.. Aku ingat sekarang. Begitu pulang dari rumah sakit, aku segera tidur tanpa mengganti baju lebih dahulu.. Hilang sudah kota idamanku. Kota yang selalu kuidam-idamkan hingga terbawa mimpi…Benar-benar sial!. Umpatku kesal. Aku pun kembali berkhayal. Tentang sebuah kota idaman yang suatu saat menjadi nyata. ***

LUNA

Penulis: Gusrianto
1
Namaku Luna. Lengkapnya Putri Luna Andam Dewi. Cantik bukan? Tentu saja, karena aku juga terlahir dari seorang mama yang cantik serta papa yang kaya. Sempurna, mungkin itu yang terpikir di benak kalian. Mama cantik, papa kaya, tentu aku hidup serba berkecukupan. Bahagia. Harus kuakui, memang itulah yang terjadi padaku.
Tapi itu dulu... dulu sekali, saat mamaku masih hidup.
***
Jakarta, 07 Januari 2005
Luna mengikuti lelaki di sampingnya turun dari taksi. Setelah membayar sejumlah rupiah kepada sang supir, lelaki itu membalikkan badan. Menarik dua koper besar di kanan dan kirinya. Lalu menyuruh Luna mengikutinya.
Luna melangkah pelan ke dalam halaman begitu pagar besi yang memisahkan halaman itu dengan jalan terbuka lebar. Matanya menatap rumah mewah bertingkat dua di hadapannya. Hatinya berdecak kagum. Rumah itu terlihat begitu mewah. Dua tingkat. Taman penuh bunga berwarna-warni langsung kelihatan dari pagar depan. Ada kolam kecil di tengah-tengah taman bunga itu. Beraneka jenis anggrek mendominasi bunga-bungan di taman itu.
Sementara itu, rumah mewah bertingkat dua itu terkesan begitu angkuh. Setidaknya bagi Luna. Ini adalah rumah terindah yang pernah dilihatnya. Dua pilar beton menjulang tinggi di teras depan. Cat warna putih dan hijau menjadi warna utama rumah mewah itu.
Di sinikah aku akan tinggal? gumamnya sambil sedikit menyunggingkan senyum. Dua lesung pipit muncul di pipinya. Kakinya terus melangkah mengikuti lelaki di depannya, sementara itu matanya menyapu pandang seluruh halaman dengan leluasa.
Seorang perempuan paruh baya membukakan pintu depan tidak lama setelah lelaki di depan Luna memencet bel yang terletak di samping pintu depan.
“Selamat datang, Tuan. Nyonya dan anak-anak tidak ada di rumah, mereka baru pergi sekitar setengah jam yang lalu.” Perempuan itu membungkuk penuh hormat. Luna memandang perempuan itu dari ujung rambut sampai ke kaki. Pasti ini pembantu, pikirnya.
Lelaki itu tidak menjawab. Dia melangkah masuk, Luna kembali mengikuti. Lelaki itu duduk di sofa ruang tamu, setelah meninggalkan koper yang yang tadi dibawanya di sudut ruang tamu, lalu menyuruh Luna duduk di sampingnya.
Perempuan paruh baya tadi menutup pintu depan, lalu berjalan pelan mendekati Luna dan lelaki itu. Matanya juga seperti tengah menelanjangi Luna. Siapa anak ini? tanyanya dalam hati.
“Luna, mulai sekarang inilah rumahmu. Jangan malu-malu, ini rumah Papa, berarti rumah kamu juga.”
Kaget. Perempuan itu sungguh kaget. Papa? Jadi gadis kecil cantik ini adalah anaknya?
“Hanya kita yang tinggal di sini?” Luna, gadis kecil lugu yang baru berusia 8 tahun itu bertanya. Lalu merasa seolah-olah menjadi orang paling bodoh dengan pertanyaan yang baru diajukan begitu melihat perempuan paruh baya yang tadi membukakan pintu masih berdiri tidak jauh dari mereka. Sudah pasti dia juga tinggal di sini, batin Luna.
“Tidak, ada mamamu, istri Papa, dan empat orang saudaramu, anak-anak Papa yang lainnya. Satu orang perempuan, tiga orang laki-laki. Dan tentu saja Bik Nah dan suaminya, Mas Paijo.”
Luna mengangguk-angguk.
”Tuan, mau minum apa? Sepertinya gadis kecil ini terlihat lelah.” Bik Nah, perempuan paruh baya tadi berkata.
”Jus jeruk saja. Ingat, es-nya jangan terlalu banyak. Oh ya, Luna, sekarang mari kita lihat kamarmu, sebaiknya kamu beristirahat dulu, kamu sepertinya sangat capek.” Mereka berdua melangkah ke lantai atas setelah sebelumnya lelaki itu menyuruh Bik Nah agar mengantarkan minuman ke kamar atas.
***
Jakarta, 22 Maret 2005
Luna meringis menahan sakit saat perempuan itu menjambak kasar rambut panjangnya. Entah apa lagi kesalahan yang telah diperbuatnya, sepertinya dia sudah mengerjakan semua yang tadi diperintahkan Mama Anita. Tapi memang selalu begini. Pekerjaan yang dilakukannya tidak pernah dianggap becus oleh Mama Anita.
“Ampun, Ma… sakit!” Luna meringis.
Seperti biasa, ringisan itu tidak ada artinya. Perempuan itu semakin memperkuat jambakannya pada rambut hitam tebal Luna.
“Mama? Eh, Bocah Tengik, sudah berapa kali kubilang, aku bukan mamamu…!”
Luna kembali meringis. Jika rambutnya tidak segera bebas dari jambakan itu, maka sebentar lagi rambutnya pasti akan lepas dari kulit kepalanya. Jambakan itu sangat kuat. Dia tahu, perempuan itu bukan mamanya. Ibunya memang telah meninggal dunia, demam berdarah, begitu dokter memvonisnya. Tapi Papa selalu mewanti-wanti agar dia memanggil perempuan yang kini tengah menjambak rambutnya itiu dengan sebutan Mama. Dan itu hanya terjadi di saat Papa ada di rumah. Jika tidak, dia harus memanggil Mama Anita dengan panggilan Nyonya.
“Iya, Ma…eh, maksud saya Nyonya, tapi… lepaskan dulu… rambut saya, sakit…”
Dengan kasar perempuan itu melepas jambakannya.
“Saya suruh kamu mengepel seluruh rumah sampai bersih….”
“Sudah saya lakukan, Nyonya…” Luna menunduk, tidak sanggup menatap bola mata perempuan itu yang seakan mau menyembul keluar.
Dengan kasar tangannya kemudian menarik Luna menuju teras depan. Dan alangkah kagetnya Luna, teras itu sekarang sangat kotor, bekas telapak sepatu berlumpur bertebaran di mana-mana. Padahal belum sampai setengah jam yang lalu teras itu dibersihkannya.
Luna melirik ke sudut halaman samping. Dari balik rimbunnya bunga anggrek di dalam taman, dia melihat Kak Maya dan Bimo tersenyum penuh kemenangan, sambil tidak lupa mengedipkan mata pada Luna. Hati Luna sungguh terbakar. Tapi dia tidak sanggup berbuat apa-apa.
Pada awalnya Luna yakin kalau dia akan hidup bahagia di rumah mewah dan megah itu. Seperti kata papanya saat pertama kali dia datang dulu, Mama Anita nanti akan menyayanginya seperti ibunya dulu menyayanginya. Begitu juga dengan keempat saudara tirinya, akan menjadi teman bermain yang baik baginya. Tapi sudah lebih dua bulan dia tinggal di rumah ini, tidak ditemuinya hal seperti itu. Cerita tentang kejamnya ibu tiri dan saudara tiri yang selama ini menjadi momok menakutkan ternyata benar-benar di alaminya. Rumah idaman yang dulu selalu dibayangkannya saat Papa mengajaknya tinggal di Jakarta, ternyata tak lebih dari sebuah neraka.
Luna rindu dengan gubuk reot tempat dia dilahirkan yang sekarang entah berada di mana. Pasti berjarak ribuan kilo dari tempatnya tinggal sekarang ini.
Tiap hari dia selalu menjadi bulan-bulanan saudara-saudara tirinya. Secara bergiliran, mereka mengerjai Luna. Tendangan, tamparan dan pukulan selalu menjadi makanan harian Luna. Belum lagi siksaan yang datang dari Mama Anita yang selalu menyuruhnya menggantikan hampir seluruh pekerjaan Bik Nah.
Papanya yang hampir setiap minggu keluar kota untuk jangka waktu yang tidak sebentar tentu saja tidak tahu. Kalaupun papanya pulang, dia tidak berani buka mulut. Kubunuh kau, begitu ancaman yang didapatnya dari keempat saudara dan mama tirinya.
***
Jakarta, 12 Juli 2005
“Luna….!” Teriakan itu menggema ke seluruh ruangan. Luna yang baru saja merebahkan diri di kasur langsung berdiri. Dia kelihatan sangat capek. Dua ember besar cucian baru saja selesai dijemurnya, dan itu sungguh membuat tenaganya terkuras habis.
“Luna…!” teriakan itu kembali terdengar. Lebih keras dari panggilan pertama tadi.
Luna buru-buru berlari ke luar kamar. Kalau tidak, teriakan yang jauh lebih keras akan menggema di dalam rumah itu.
“Iya, Nyonya…!” Luna menunduk di hadapan mamanya yang sedang berdiri di teras depan rumah.
“Kamu ke mana saja, hah! Coba lihat, halaman depan sangat kotor, cepat kamu sapu!”
“Sebentar lagi ya, Ma. Luna capek sekali, mau istirahat sebentar dulu.”
“Eh, malah membantah!” Seperti biasa, tangan Mama Anita langsung menjambak rambutnya. Luna menjerit tertahan.
“Berapa kali saya harus bilang, jangan pernah melawan, jangan pernah membantah. Sebentar lagi teman-teman arisan saya mau datang. Cepat kamu bersihkan rumah ini!”
“Tapi, Ma…”
Plaak… sebuah tamparan mendarat di pipi Luna. Dia menjerit.
“Papa… tolong….tolooong….!” Luna menjerit minta tolong, memanggil papanya. Dia sudah tidak tahan, setiap hari selalu diperlakukan seperti budak oleh mama tirinya. Luna bertekad untuk melawan.
“Kau pikir papamu yang tolol itu akan datang?”
“Tooolooong….. Papa…!” Luna melolong, berteriak memanggil papanya.
“Teruslah menjerit, Anak Setan… menjerit sekuat tenagamu… tapi nanti, setelah kau bersihkan halaman depan.” Mama Anita mendorong Luna hingga terjatuh. Lututnya langsung berdarah.
“Papa…. Luna gak tahan lagi….” Teriakan Luna kini sudah berubah rintihan. Perlahan dia merangkak menuju pintu depan.
“Luna… ada apa, Sayang? Mama ada apa ini?”
Siapa yang mengira, Tuan Gunawan tiba-tiba sudah muncul di hadapan mereka. Dengan cepat Luna langsung menghambur ke dalam pelukan papanya. Air matanya tidak kuasa lagi untuk dibendung. Luna menumpahkan semuanya.
Muka mama Anita pucat pasi. Tertangkap basah. Alasan apa yang harus diberikannya? Dulu, setiap kali suaminya pulang dan menemukan keanehan pada Luna, dia selalu bisa memberikan alasan.
“Tadi Luna jatuh….”
“Tangannya tersiram minyak, padahal mama udah melarang tidak usah membantu Bik Nah…”
“Biasalah Pa, tadi Luna naik sepeda tidak hati-hati…”
Berbagai alasan selalu bisa dikemukakannya saat Tuan Gunawan menanyakan ada apa dengan Luna. Tapi sekarang? Dia sendiri tidak tahu sejak kapan suaminya berdiri memperhatikan dia menyiksa Luna.
“Papa, Luna mau pergi dari sini, bawa Luna dari sini.” Tak ada lagi yang harus dikahwatirkan Luna, dia sudah siap, walaupun mama dan saudaranya nanti akan membunuhnya. “Papa, mereka semua jahat, mereka semua ingin membunuh Luna.”
Dengan nafas terengah dan tangan memegang lututnya yang berdarah, Luna menceritakan semuanya pada Tuan Gunawan. Semua penderitaan yang ditimpakan Mama Anita dan keempat saudara tirinya selama dia tinggal di rumah ini.

***

2
Nyonya Anita menerobos pintu rumah mereka dengan emosi yang meluap. Ia bawa keempat anaknya; Maya, Bimo, Charlie, dan Derry. Tuan Gunawan menyusul dan berusaha menghentikan Nyona Anita agar jangan pergi dari rumah.
Luna, gadis kecil lugu yang bernasib malang memperhatikan itu semua dari jendela kamarnya di lantai dua.
"Anita, kita bisa selesaikan masalah kita." Gunawan berkata.
"Aku tak bisa, jika kau masih ingin bersamaku maka buang anak itu! Aku tak pernah menginginkannya!" seru Anita sambil melemparkan koper dan tas ke dalam bagasi mobilnya.
"Anita! Kau sama sekali tidak punya perasaan! Anak itu tidak punya siapa-siapa lagi selain aku!" seru Gunawan mulai emosi.
"Aku? Aku tidak punya perasaan? Carilah cermin dan tanyakan dirimu sendiri! Kau berselingkuh di luar sana, membawa anak harammu ke rumah ini, itukah yang namanya punya perasaan? Kau membawa anak hasil hubunganmu dengan peremapuan lain ke rumah ini, kau pikir itu tidak menyakitkan bagiku?"
Anita menyuruh keempat anaknya masuk ke dalam mobil dan membanting pintunya dengan kuat, lalu segera melarikan mobil itu ke jalanan, Gunawan tak bisa berbuat apa-apa. Dia sadar. Dia salah. Dia bisa merasakan sakit yang dirasakan Anita. Tapi membuang Luna...
Gunawan masih terus memperhatikan mobil yang membawa istri dan keempat anaknya itu hingga hilang di tikungan. Lalu melirik ke lantai atas, memandang ke arah Luna yang juga tengah memandangnya.
Pikiran Gunawan melayang pada kejadian delapan tahun silam.

Saat itu, Gunawan diperintahkan atasannya untuk mencari sebuah tempat yang mempunyai prospek bagus untuk membangun sebuah hotel di daerah Sumatera Barat. Gunawan akhirnya sampai di daerah Maninjau.
Dia bekerja pada seorang pengusaha real estate yang paling berpengaruh di Indonesia. Sudah lebih dari separuh propinsi yang ada di Indonesia di singgahi Gunawan, dan di tahun 1996 itu, Sumatera Barat menjadi tempat mereka untuk mengembangkan usaha selanjutnya. Setelah melakukan survey, Gunawan akhirnya memilih Maninjau, yang mempunyai potensi wisata yang cukup terkenal, karena daerah itu di apit oleh dua lokasi yang cukup terkenal di ranah Minang, Gunung Singgalang yang tinggi menjulang dan Danau Maninjau yang luas terhampar.
Singkat cerita, di Maninjau dia mengenal seorang gadis bernama Fatma. Perkenalan singkat itulah yang akhirnya menyebabkan Luna lahir ke dunia. Gunawan tahu dia khilaf. Gunawan menyesal telah membohongi Anita. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Dia sadar telah berbuat kesalahan. Dia menikahi Fatma tanpa mendapat restu dari Anita.
Tidak lama usia pernikahan itu. Saat Luna berusia delapan tahun, demam berdarah akhirnya merenggut nyawa Fatma. Itulah yang menyebabkan Gunawan pada akhirnya membawa Luna ke Jakarta.
Dan kini, petaka yang tidak diinginkannya terjadi. Anita menyuruhnya memilih Luna atau dirinya. Bagaikan memakan buah simalakama. Gunawan sangat mencintai Anita, tapi menyingkirkan Luna, juga bukan kehendaknya.
***
Maninjau, Sumatera Barat, Juli 2010
Luna membuka matanya dengan malas. Sebenarnya dia sudah bangun dari tadi namun ia terlalu malas untuk meninggalkan ranjangnya yang empuk lagi nyaman. Dan ia yakin, bila ia turun nanti ia akan di hadiahi berbagai macam tatapan marah dan kesal dari abang-abang dan kakaknya karena bangun sesiang ini.
Luna memakai sandal rumahnya, meninggalkan kamar lalu menuju ruang makan untuk mengambil jatah sarapannya.
”Selamat pagi, semua...” Luna menyapa, hanya basa-basi, sebab Papa ada di meja makan.
Derry, yang usianya setahun lebih muda dari Luna, sedang asyik dengan komik-komik Jepangnya. Begitu Luna datang, sesaat dia mengalihkan matanya hanya untuk sekedar melotot ke arah Luna, kemudian melanjutkan kegiatannya membaca, dia memang kutu buku. Seolah-olah berbuat iseng pada Luna adalah sebuah keharusan yang tidak boleh ditinggalkan.
Charlie yang usianya hanya satu tahun di atas Luna mendelik seram ke arah Luna saat dia menuruni anak tangga. Luna hanya mendengus sebal. Itu adalah makanan hariannya.
Bimo, yang kini berusia enam belas tahun hanya menggelengkan kepala dengan sebal saat Luna menoleh kepadanya. Entah apa yang digelengkannya, mungkin karena Luna bangun terlalu kesiangan. Apapun itu, Luna tak akan peduli sedikit pun. Dia berhak melakukan apapun yang dia suka.
Berbeda dengan Maya, kakak mereka yang tertua, ia menjulurkan kepalanya dari balik pintu dapur dengan senyum ceria dan menjawab salam Luna. Mungkin hanya dia satu-satunya kakak yang paling lembut dan perhatian padanya, namun bagaimanapun juga Luna tetap membencinya, sama bencinya terhadap kakak-kakaknya yang lain. Tak akan pernah dilupakannya perlakuan mereka padanya saat masih di Jakarta dulu. Bahkan saat Mama Anita masih hidup, Maya adalah orang terkejam kedua yang tidak pernah alpa menimpakan kesalahan dan hukuman padanya. Luna tidak akan pernah lupa setiap detail perlakuan menyakitkan yang dulu mereka berikan padanya. Jadi bagaimanapun baiknya Maya sekarang, tidak akan bisa meredam dendam lama itu.
Luna kemudian duduk di samping papanya, pria paruh baya itu dengan tenang menyantap sarapannya, nasi goreng spesial buatan Bik Nah yang dipadu dengan segelas susu hangat memang hal yang sayang untuk dilewatkan. Luna tersenyum menatap papanya dan berbisik pelan...
"Pagi, Papa…" Papanya hanya mengangguk pelan tanpa suara. Melanjutkan menyuap sisa-sisa sarapannya.
***
Luna sudah rapi dengan mantel dan sepatu ketsnya, ia kemudian pergi ke garasi untuk mengambil sepeda gunungnya. Luna biasa mengitari kawasan rumahnya yang terletak di pinggiran hutan itu setiap paginya. Tidak hanya menghirup segarnya udara pegunungan, tapi juga menikmati panorama air danau yang terletak tak jauh dari rumahnya.
Langkah Luna terhenti seketika saat melihat Bimo yang sedang berkutat membersihkan sepeda gunungnya, pria muda berambut pirang itu langsung menoleh begitu menyadari Luna sedang menuju ke garasi.
"Hendak ke mana kau, Bocah Tengik?" tanya Bimo kasar. Selalu begitu. Bimo selalu memanggilnya bocah tengik, padahal sekarang dia sudah berumur tiga belas tahun. Seorang gadis remaja yang tentu saja tidak pantas dipanggil bocah.
Di antara semua saudara tirinya, Bimo memang yang paling dibenci Luna. Dia tidak pernah ramah dengan kakaknya yang satu ini, hormat pun tidak akan. Ia ingat betul bagaimana kejamnya Bimo pada dirinya sejak lima tahun lalu. Bimo gemar sekali menyiksanya, mempermalukannya, serta membuat hidupnya sama sekali tidak tenang.
Tapi tidak sekarang, Luna sudah bertekad, di usianya yang sudah menginjak tiga belas tahun, tidak ada lagi yang boleh menyakitinya. Bahkan, inilah saatnya dia untuk membalaskan semua rasa sakit hatinya. Inilah saatnya dia membalaskan dendamnya. Di Jakarta, dia memang selalu mengalah, tapi tidak di sini, di sini adalah kampung tempat dia dilahirkan, tanah tumpah darahnya, seluruh kekuatan alam akan berpihak padanya.
"Bukan urusanmu!" Luna langsung menggenjot sepeda gunungnya dan meluncur melewati pagar rumah, menikmati sapuan angin lembut membelai wajahnya dan wangi hutan pinus yang tidak pernah ditemuinya di kota gersang bernama Jakarta.
Luna bersenandung dengan lirih. Hal paling disukainya adalah saat menikmati keindahan alam seperti ini dan tidak ada satu orangpun yang mengganggu.
"Hei, Luna!" Bimo rupanya menyusul di belakang, membuat Luna tersentak kaget. Bimo menyeringai seram kepadanya. Lalu tanpa merasa takut akan terjatuh, dia menabrakkan sepedanya pada sepeda Luna.
Braaak!
Tubuh kecil Luna terhempas ke pinggir jalan, sepedanya jatuh menimpa tubuhnya. Darah segar mengucur dari lutut dan tangannya. Bimo turun dari sepedanya, berbalik menghampiri Luna yang sedang meringis kesakitan.
Mau menolong? Tentu saja bukan.
"Luna, kau harusnya tidak ada di antara kami. Kau yang menyebabkan kematian Mama, kau yang membuat keluarga kami porak poranda. Jangan harap kau akan menang, baik di sini, maupun di Jakarta, akan jadi neraka buatmu.” Usai berkata, Bimo berlalu dari hadapan Luna.
Luna memandang penuh amarah. Gigi-giginya saling beradu penuh kegeraman. Coba saja, kita akan buktikan Bimo, aku bukan Luna kecil lagi. Luna berdiri sambil meringis, lalu menggenjot sepedanya dengan susah payah. Pulang.
***
Tuan Gunawan yang sedang serius menonton berita televisi di ruang tengah terkejut melihat Luna datang dengan tubuh kotor dan penuh luka.
"Kau terjatuh? Atau berkelahi? Siapa yang melakukan ini?" Dia menuntun Luna duduk bersamanya di sofa dan kemudian berlari menuju lemari di ruang tengah, mengambil kotak P3K.
"Bimo, dia selalu jahat padaku." Luna menjawab pelan.
Tuan Gunawan termenung sesaat, kemudian kembali duduk di sofa itu dan membersihkan luka Luna dengan pelan. Bimo? Dia menyebut nama itu dalam hati.
"Luna, kakakmu tidak mungkin melakukan ini."
"Tapi itulah yang terjadi. Dia yang melakukan ini padaku, Papa! Lihat sekarang tubuhku penuh luka!" Luna melepaskan pegangan tangan papanya. “Mengapa Papa selalu tidak percaya? Kurang bukti apalagi sehingga Papa baru percaya kalau semua saudaraku sangat membenciku dan selalu ingin menyiksaku?” Luna berlari ke lantai atas, mencoba melupakan rasa sakit di kakinya. Membanting pintu kamarnya. Papanya hanya menatap prihatin.
Sampai kapan dia akan bersikap seperti ini? batinnya dalam hati.
***

“Semua Tentang Kita(Siswa Akselerasi)”

“Akselerasi adalah salah satu jalan bagi siswa-siswa yang ingin cepat menikah. (hahaha)” kalimat celetukan tersebut sering juga muncul ketika kita mendengan kata “Akslerasi”. Namun apa sih sebenarnya akselerasi itu?
Apa yang dimaksud dengan Akselerasi?
Akselerasi dalam dunia pendidikan adalah program percepatan belajar. Pendidikan SMA dapat dipercepat menjadi 2 tahun saja. Lalu bagaimanakah cara kerja program Akselerasi? Dalam program akselerasi, pendidikan satu semester hanya ditempuh dalam 4 bulan saja. Jadi, setiap 8 bulan akan diadakan Ulangan Kenaikan Kelas.
“Asik dan Tidaknya tergantung yang menjalani.” Kata Isnaini Rahmawati siswa akselerasi di SMA N 1 Sukoharjo.
Cara membagi waktu
Seorang akseleran harus dapat membagi waktu dan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Karena jika ia tidak dapat membagi waktu dengan baik, maka ia akan kerepotan sendiri. Ketika belajar seorang akseleran haruslah berkonsentrasi penuh terhadap pelajaran, namun ketika waktunya istirahat, ia juga harus tetap bersenang-senang agar tidak jenuh. Karena otak juga harus diistirahatkan.
“Masuk akselerasi terkadang juga merasa bangga, dan yang paling membuat saya merasa sebagai siswa akselerasi adalah saat saya akan menginjak Ujian Semester, pasti sibuk banget.” Ungkap Mega Nur Cahyaningsih yang juga seorang akseleran SMA N 1 Sukoharjo saat dihubungi penulis.
Cara belajar
Mungkin pada umumnya cara belajar siswa akselerasi sama saja dengan siswa-siswa lain, hanya saja intensitas balajarnya lebih padat. Misal ketika siswa lain diliburkan, siswa-siswa akselerasi tetap masuk untuk tetap mengikuti pelajaran seperti biasa demi tercapainya materi pelajaran. Namun sayangnya karena kesibukan para guru jadwal ada juga yang kosong, dan pastinya itu akan berakibat buruk kepada siswa akselerasi karena waktu pertemuan KBM menjadi terpotong.
Hiburan
Setelah menjalani Ujian Semester biasanya akan diadakan outbound atau kegiatan di luar kelas lain yang tentunya selain untuk hiburan juga bermanfaat untuk menambah pengetahuan. Jadi pikiran akan menjadi lebih segar dan selanjunya akan lebih mudah menerima pelajaran pada semester selanjutnya.
“Akselerasi itu program percepatan belajar yang ada di SD, SMP, maupun SMA. Tempat saya menimba ilmu dan bertemu dengan teman-teman yang seru.” Ujar Fitriana Nur Hasanah Aji Pramesti siswa kelas XI IA Akselerasi yang dapat menggambarkan tentang bagaimana serunya menjadi seorang akseleran
Nah, itulah semua tentang Akselerasi. 

Penulis : Eka Ummul IstiQomah

Sungguh Ada Hikmah

SUNGGUH ADA HIKMAH!
Hari ini, ia diam membeku bertopang dagu pada pagar, di ujung tembok lantai 2 sekolah, sepertii hari-hari sebelumnya. Entah apa yang dipikirkannya, entah apa yang dirasakannya. Setiap hari selalu sama, ia diam dan aku hanya bisa melihatnya dari jauh. Dia adalah laki-laki yang dingin dan hanya mempunyaii sedikit teman, banyak siswa yang bilang bahwa ia jutek dan egois. Tetapi kenapa selentingan-selentingan negatif itu tidak menggangguku? Tidak mengubah perasaanku padanya?. Aku menyadari bahwa aku hanya dapat melihatnya dari jauh, mendekatinya saja rasanya tidak mungkin apalagi berharap menjadi seseorang yang disukainya, sungguh mustahil. Yang bisa aku lakukan ialah menahan agar rasa ini tidak berkembang terlalu jauh dan menyesatkan diriku sendiri. Aku tidak bisa sekenanya mengatakan suka padanya layaknya seorang ibu mengatakan sayang kepada anaknya, karena aku mempunyai hidup yang harus jauh dari hal tersebut. Selain itu aku adalah seorang gadis yang anti pacaran, bila mengatakan kalimat angker tersebut, siswa satu sekolahku bisa memasang tampang sinis kepadaku sampai kelulusan besok. Lagi pula bukan pacaran yang aku inginkan, melainkan dapat melihat senyumnya yang langka, itu saja, benar-benar langka. Hari ini memang seperti hari-hari sebelumnya.
“Rika!” kualihkan pandangan saat seseorang memanggilku dari belakang.
“Rika, dicariin Pak Bowo, tuh!” seru teman satu mejaku, Veni. Sambil membungkuk, ia mengatur nafas. Seragam OSISnya lembab terkena keringat sedang rambut lurusnya tergerai tak beraturan. Di tangannya tergenggam sebuah majalah yang aku yakini adalah hasil dari tabungannya selama seminggu.
“Emang ada apa?” tanyaku.
“Tugas Bahasa Indonesia minggu kemarin, Neng!”
“Ya ampun!” pekikku lalu segera mengambil tugas Bahasa Indonesia minggu kemarin yang belum aku kumpulkan di dalam kelas. Saat berlari keluar kelas, aku sedikit mencuri pandang ke arah pojok pagar, ia tidak ada.
Sampai di kantor guru, Pak Bowo yakni guru Bahasa Indonesiaku telah menunggu di meja kerjanya. Kerutan-kerutan di dahinya sangat jelas tersembul mengalahkan wajah tua beliau. Dadanya kembang kempis seakan sedang terserang asma, ternyata di sampingnya asap rokok mengepul dari seorang tamu, Pak Bowo anti rokok. Aku mendekat perlahan siap untuk menerima muntahan kata-kata Pak Bowo.
“Ini tanggal berapa?” tanya Pak Bowo mengawali pembicaraan.
“26, Pak!” jawabku.
“Kapan saya memberi tugas?” tanyanya.
“Tanggal 16, hari Kamis, jam pelajaran ke 4, Pak” jawabku pasrah. Aku sangat malu telah menelantarkan amanat guru yang aku idolakan itu. Apalagi Pak Bowo sangat memegang kuat prinsip tanggung jawab. Baik tanggung jawab dirinya sendiri, maupun tanggung jawab murid-muridnya. Selama 3 tahun di sekolah ini, belum kutemukan rahasia keteguhan beliau, ingin aku memilikinya.
“Dikumpulkan tanggal berapa?” tanya beliau. Aku sontak kaget.
“Tang, tanggal 20, Pak!” jawabku sambil tersenyum kecut mengingat aku terlambat masuk di kelasnya pada saat itu karena si bandel Vera mengajakku ke kantin sebelum Pak Bowo masuk kelas.
“Tanggal 20? Kenapa kamu tanggal 26?” tanya beliau kembali, kali ini setelah meneguk setengah gelas teh hangat di mejanya.
“Minggu ini banyak tugas, Pak” jawabku, lalu terdengar suara seorang pemuda tiba di sampingku.
“Maaf Pak! saya mau mengumpulkan tugas” suaranya tegas tetapi merendah.
“Kamu juga!” sembur Pak Bowo, bau mulut bapak guru berkumis ini mulai menyebar. Aku tidak dapat berkutik begitu pula pemuda itu, Pak Bowo menghela nafas panjang. Aku menoleh sedikit untuk melihat sosok siapa itu. Astaga! Itu laki-laki pendiam yang sering kupandangi, Adman.
“Kamu juga telat mengumpulkan tugas! Kalau dibiarkan Kamu-Kamu nanti jadi kebiasaan! bapak beri tugas tambahan buat Kalian berdua, cari 30 hikmah dari novel ini, masing-masing anak 15 hikmah dan nanti jelaskan alasan serta buktinya dalam novel ini, dikumpulkan satu jilid, paling lambat 4 hari lagi!” sambil beliau menyerahkan sebuah novel yang kelihatannya masih baru. Aku mengeluh, tapi kemudian tersenyum karena novel tersebut adalah novel yang dahulu ingin aku baca. Kulihat Amdan hanya diam tanpa ekspresi hingga di luar pintu kantor guru.
“Amdan, tugasnya kapan kita kerjain?” tanyaku mencoba menyairkan suasana, tetapi ia hanya pergi tidak menghiraukan. Hatiku sedikit ngilu melihatnya pergi. Sebenarnya aku berharap bisa bekerja sama dengan dia. Namun sudahlah, aku sendiri bersemangat mengerjakan tugas itu tanpanya.
Sesampainya di rumah, aku hanya mengunci diri di kamar, membaca dan membaca novel tersebut. Hanya keluar untuk sekedar makan, mandi, salat, dan kegiatan wajib lainnya. Hingga jam 10 malam, 25 hikmah telah aku tulis di selembar kertas folio untuk kemudian akan aku ketik di komputer bila telah selesai. Karena suasana di dalam kamar sangatlah panas, tidak sadar aku telah menghabiskan beberapa gelas air es untuk mendinginkan badan. Bahkan nyamuk-nyamuk yang bersarang di kamarku pun seringkali beraksi, hewan yang hanya ada di daerah tropis itu menghisap darah O ku dari petang hari hingga saat aku tidur.
Esoknya, aku menerima batunya, badanku panas dan hidungku mengeluarkan ingus, serta kepalaku pening untuk berpikir. Walaupun begitu, tetap saja aku bertekad menyelesaikan tugas tersebut. Aku ingin seperti Pak Bowo, memegang teguh prinsip tanggung jawab. Seperti istirahat saat ini, aku membaca di samping lapangan basket. Matahari menghajarku dengan panas cahayanya serta angin bersekongkol dengan tidak berhembus kencang. Tiba-tiba seseorang merenggut novel itu dari tanganku, aku terpekik lalu menatap orang tersebut, Amdan.
“Kelamaan bacanya, Loe!” celanya. Aku tidak terima lalu membalasnya.
“Tugasnya kan buat kita berdua! Udah mau aku kerjain mana waktunya cuma 4 hari, malah dibentakin! Emangnya gampang apa?!” semburku lalu batuk-batuk. Jantungku berdegup kencang saat menatapnya walau amarahku memuncak, tetapi tetap saja wajahnya dingin tidak bersahabat.
“Tugasnya kan cuma gini doang! Keburu karatan gue di sekolah bobrok kayak gini!” bentak Adman.
Ya ampun! Aku baru menyadari bahwa Adman benar-benar egois dan pemarah. Memang dia hanya murid pindahan tahun lalu, tetapi tidak seharusnya ia berkata seperti itu. Apalagi sekolah ini merupakan hasil perjuanganku mengikuti UAN dan UAS 3 tahun lalu. Darahku semakin mendidih.
“Jangan seenaknya ngomong sembarangan! kalo nggak mau ngerjain ya udah, kamu nggak usah ngerjain!” aku kemudian mengatur napas dan mengusap peluh yang menetes di kening. Wajahku pun semakin pucat dihajar panas matahari. Adman sedikit kelabakan melihatku.
“Loe sakit?” tanyanya acuh tak acuh.
“Ya, emang na pa?” jawabku ketus.
“Oke! gue mau ngambil bagian, soalnya keadaan Loe udah parah kayak gitu, biar nyingkat waktu”
“Kalo gitu, kamu tinggal cari 5 hikmah, yang laen dah aku kerjain! hasilku da di dalem novel, tinggal kamu tambahin”
“Emang ceritanya kayak apa sih? gue males mbaca” ia duduk bersila di bangku taman, sedang aku bersandar di dinding sampingku. Suasana mulai tenang dan terkendali.
“Novelnya menceritakan tentang perjuangan seorang ayah yang telah menelantarkan istri dan anaknya, untuk mengumpulkan kembali keluarganya tersebut yang telah berpencar-pencar entah kemana dengan…” aneh, aku yang sering dibuat jantungan oleh Adman dapat dengan mudah mengalirkan kata-kata itu. Bahkan pikiran dan pendapatku ikut aku tambahkan di dalamnya. Hari ini aku sungguh lega, seakan-akan semuanya tidak sia-sia, tidak mubazir, 2 tahun hidupku.
Pulang sekolah ketika aku berjalan sendiri, seseorang menabrakku dari belakang. April, siswi yang menyukai gossip mendekatiku, ia berjalan sambil tersenyum sinis lalu mengejek di sampingku.
“Deket ma Adman, ya? Katanya anti yang namanya pacaran? apalagi ma cowok jutek plus egois sedunia, mana perkataan Loe di mading kemarin?” semakin cepat kulangkahkan kaki, ia pun juga semakin cepat menyamai. Memang, tugas madingku yang dipajang bulan lalu telah begitu menyinggung siswa-siswa lain yang mayoritas mempunyai pacar. Karena tema yang aku angkat bersifat anti pacaran yang mendapat respon baik dari Pak Bowo, beliau kemudian semakin gencar menghukum siswa-siswa yang ketahuan sedang berpacaran.
“Lagian Loe sok suci! tugas hukuman gitu Loe kerjain!” cela April kemudian berjalan pergi. Ia jengkel karena aku tidak menanggapi ocehannya.
Setelah dia pergi, aku sedikit berfikir tentang kata-kata April. Bukan terpengaruh, namun menyadari betapa bodohnya diriku selama 2 tahun hanya memikirkan Adman. Buat apa melakukan hal konyol dengan memikirkan dia yang bahkan tidak pernah melihatku. Kelakuan yang merupakan asal-usul pacaran, hal yang aku benci.
Istirahat berikutnya, Adman berada di pojok pagar lantai 2, aku mendekat bermaksud menanyakan tugas dari Pak Bowo.
“Man, tugasnya udah belom?” tanyaku, ia melihatku sejenak lalu menyerahkan novel Pak Bowo dan secarik kertas di tangannya. Aku menerimanya dan timbul suatu pertanyaan yang ingin aku katakan sejak dahulu.
“Adman, tiap hari di sini emang liat apa sih?” ia hanya diam, aku lalu menunduk lesu.
“Loe nggak terpengaruh omongannya April, kan? gue liat dia berkicau kemaren” ujarnya. Aku kaget.
“Kamu liat yang kemarin, ya? Kalo terpengaruh omongannya sih nggak bakal” ujarku tersenyum.
“Seperti api makan lalang kering, tiada dapat dipadamkan lagi” lanjutku.
“Jauh panggang dari api” ucapnya ketus.
“Kalau tak ada api, masakan tak ada asap” semburku.
“Jadi Loe merasa bersalah?” tanyanya.
“Ayam berunduk, sirih berjunjung!” ujarku sambil tersenyum.
“Dibalik-balik bagai memanggang! Tapi gue suka sifat anti-pacaran Loe, karna memang ada hal yang lebih menarik dan lebih bermanfaat daripada pacaran” katanya masih dingin.
“Emang menurutmu apa sih?” aku penasaran dengan pendapat si misterius ini.
“Suatu hari Loe juga tahu” katanya. Kami pun terdiam.
“Sebenernya gue di sini cuma suka aja, nggak da alasan laen, tapi gue heran, Loe sempet-sempetnya mikirin cinta saat demo anti-pacaran Loe melanda, gue lebih setuju rasa penasaran Loe ma prinsip tanggung jawabnya Pak Bowo” lanjutnya, aku sontak kaget.
“Kok kamu bisa tau?” entah semerah apa mukaku sekarang.
“Dari Blog Loe, sering gue buka Blog Loe, aneh-aneh isinya, masalah cewek” tutupnya lalu pergi.
Aku hanya diam melongo di tempat. Jika dia tahu Blogku, berarti dia tahu laki-laki yang aku pandangi… Andai aku di ujung dunia, andai aku di Mount Everest, akan aku ciptakan ini dalam bentuk senyata-nyatanya, TIDAK!!!
Hari ini Adman sangat berbeda, wajahnya berseri-seri setelah mengumpulkan tugas dari Pak Bowo di kantor guru, tidak cuek dan sering menyapa teman dengan senyuman. Terkesan bahwa ia tidak mahir tersenyum, terlihat dari berubahnya wajah secara 180¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬ derajat. Walaupun bila dilihat dan dinalar, seorang pemuda yang beraura mistik tiba-tiba tersenyum malah menciptakan efek lebih menyeramkan. Entah apa yang dibicarakannya dengan Pak Bowo tadi setelah aku pergi, aku tidak tahu. Namun aku senang, senyumannya tampak manis.
Pulang sekolah, Adman mendekatiku sambil menenteng tas hitamnya.
“Rika! lihatlah hikmahnya!” ujarnya lalu berlari.
“Apa maksudmu?” aku berteriak dan mengejarnya. Di depan sekolah, ia menyeberangi jalan raya dan berdiri menghadap padaku kemudian meneriakkan sesuatu.
“Rika! terima kasih!” senyumnya berkembang, sebuah senyuman yang konyol.
“Buat apa?” balasku berteriak di seberang jalan.
“Trima kasih buat Loe telat ngumpulin tugas bahasa!” ia tersenyum kembali dan menaiki mobil jemputannya yang lalu melaju perlahan meninggalkanku.
Hari berikutnya, aku baru mengerti apa yang dimaksud oleh Adman. Kemarin, ia pindah ke Bandung dan telah aku membantunya mendapat bekal yang mengubah sikap egois dan pemarah dirinya. Di samping lain, ia juga menemukan jawaban dari semua pertanyaan hidupku dari pembicaraannya dengan Pak Bowo. . Berkat tanggung jawab, aku berteman dengan dengan Adman tanpa harus pacaran. Berkat tangggung jawab, Adman mendapat semangat hidup setelah berbicara dengan Pak Bowo. Berkat tanggung jawab, aku tahu rahasia keteguhan prinsip Pak Bowo. Berkat tanggung jawab, aku melihat senyum Adman tanpa harus menjadi seorang badut Ancol. Aku yakin ini salah satu contoh yang dimaksud Adman lebik menarik dan lebih bermanfaat dari pacaran, yakni sebuah perjuangan yang menghasilkan jawaban dari pertanyaan hidup. Dan itulah rahasia prinsip yang diyakini Pak Bowo. Harus kuakui, Bapak Guru satu ini benar-benar jenius, tanpa perlu hukuman menyapu ruangan, ia dapat menguasai perasaan murid-muridnya.
Andai aku tidak bertanggung jawab atas pernyataan anti-pacaran di madingku bulan lalu, serta aku tidak mengerjakan tugas dari Pak Bowo, pasti semua ini tidak aku dan Adman dapatkan. Kulihat lagi pojok pagar lantai 2 dimana ia biasa berdiri bertopang dagu entah memikirkan apa, entah merasakan apa kosong. Sedikit senyum aku selipkan di bibir dan perlahan terdengar suara Utada Hikaru mengalun lembut dalam ruang pikirku.
Arigatou to kimi ni iwareru to nandaka setsunai
Sayounara no ato no tokeno mahou awaku horonigai
The Flavor of Life
END
Karya : ROS DWI ARMIYANTI